Laskar Pelangi dari Delta Mahakam: Kisah Kebangkitan Pendidikan di Sepatin
Elmo Satria Nugraha• 2025-10-31 19:56:41
Suasana pembelajaran di kelas SMPN 6 Anggana, penerima program Sekolah Negeri Terapung Pertamina Hulu Mahakam.
PROKAL.CO-Di Desa Sepatin, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) pendidikan bukan sekedar formalitas. Melainkan sebuah asa, akan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Di lingkungan yang melekat dengan dampak negatif narkotika, asa tumbuh berkat komitmen bersama. Antar masyarakat, pemerintah desa bersama PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) melalui program Sekolah Negeri Terapung.
Elmo Satria Nugraha Sasmito, Tenggarong
TAHUN 2008 silam, sebuah film berjudul Laskar Pelangi rilis di bioskop Indonesia. Film yang disutradarai Riri Riza berdasarkan novel ciptaan Andrea Hirata ini meninggalkan kesan mendalam bagi penontonnya.
Di sebuah kampung pelosok, penuh akan keterbatasan ekonomi dan kesenjangan sosial. Asa tumbuh dalam bentuk pendidikan, membawa semangat dan tekad kuat para anak-anak SD Pulau Belitong mengejar Impian.
Film ini menggambarkan secara nyata bagaimana kemiskinan hingga budaya lingkungan berdampak terhadap pendidikan.
Meski demikian, para murid dan guru SD Muhammadiyah di Desa Gantung tak putus asa. Mereka sama-sama bertekad membangun masa depan yang cerah, berbekal mimpi dan ilmu.
17 tahun telah berlalu sejak film ini rilis. Cerita Laskar Pelangi masih sangat melekat di beberapa daerah. Salah satunya di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 6 Anggana.
SMP yang terletak di tengah Desa Sepatin, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) ini benar-benar jauh dari peradaban perkotaan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).
Sepatin sendiri masuk wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar, red). Untuk mencapainya, perlu melalui jalur air. Awak media ini berkesempatan mengunjungi desa yang terletak di tengah Delta Mahakam tersebut.
Melalui giat kunjungan PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) dengan media tanggal 14 Oktober lalu, penulis yang biasa bertugas di Tenggarong ini datang ke SMPN 6 Tenggarong bak menemukan permata tersembunyi.
Bagaimana tidak, untuk mencapai Desa Sepatin perlu menempuh waktu 90 menit dengan speedboat.
Melintasi jalur sungai yang berlika-liku, banyak mangrove yang tumbuh dengan kaya di sisi kiri dan kanan. Sesekali buaya akan nampak di pinggiran, beserta processing unit milik PHM.
Perjalanan di speedboat antar media dan pihak PHM yang diwarnai dengan diskusi dan obrolan ringan.
Obrolan di speedboat bersama Hafidz selaku Customer Relations Coordinator (CRC) dan Head of Communication Relations & CID PT PHM, Achmad Krisna Hadiyanto membuat perjalanan 90 menit tidak terasa lama.
Mereka menjelaskan mengenai program Sekolah Negeri Terapung, yang telah dijalankan PHM di SMPN 6 Anggana sejak tahun 2021—juga kondisi sosial di desa tersebut.
“Jadi dulu itu anak-anak di desa ini lebih pilih bekerja sebagai nelayan setelah lulus SMP mas. Ini kondisi nyata yang kami coba intervensi melalui program CSR PHM,” cerita Hafidz, penuh antusias meski cuaca tengah panas mengenakan pelampung.
Di tengah ributnya deru mesin 200pk speedboat, deras ombak serta kicauan burung. Media diberi pemahaman terhadap transformasi pendidikan di Sepatin.
Di desa pesisir ini, kualitas pendidikan masih sangat rendah. Tenaga pengajar terbatas, sekalipun ada dari luar mereka tidak betah dengan kondisi geografis—akses menuju lokasi belajar juga dinilai sangat jauh hanya bisa menggunakan kapal.
Dari segi sosial, akses listrik dan sinyal masih minim—listrik tidak sampai 24 jam. Keterampilan guru kurang sehingga tidak ada kegiatan siswa, disertai kesadaran warga melanjutkan pendidikan yang kurang. Pemanfaatan energi di desa ini masih menggunakan diesel yang tidak ramah lingkungan.
Kehadiran PHM melalui program Sekolah Negeri Terapung memiliki roadmap yang berjenjang hingga lima tahun.
Dengan rencana yang meliputi inisiasi, penguatan, pengembangan tahap satu dan dua—PHM mendorong kemandirian dari program ini sampai tahun 2026.
Adapun program ini mencakup sektor pendidikan, kesehatan, pelestarian budaya, sosial masyarakat, lingkungan serta infrastruktur.
Kegiatan utama program ini, untuk sektor pendidikan adalah pendampingan Guru Penggerak bagi tiga orang sebagai pengajar, fasitator, trainer, dan motivator. Kemudian pembentukan dan pengembangan Komunitas Belajar Kukar Pintar ldaman PHM Anggana.
Pendampingan Sarjana Pesisir, Beasiswa Sarjana Pesisir bagi tiga orang, bantuan biaya pendidikan Mahakam bagi 28 guru dan siswa.
Advokasi ke pemerintah skala kecamatan, kabupaten dan provinsi, termasuk jejaring dengan balai guru penggerak Kaltim.
Pameran pendidikan skala Provinsi karya guru dan siswa pesisir Delta Mahakam. Serta PHM Mengajar yang merupakan employee volunteerism.
Untuk kesehatan, dilakukan peningkatan kesadaran siswa tentang narkotika dengan NAPZA—yang merupakan duta narkoba dan peer educator.
Di sisi pelestarian budaya juga dilakukan pelestarian terhadap budaya tari Jepen. Serta dukungan pengembangan taman baca desa untuk sosial masyarakat.
Di sisi lingkungan, PHM juga mendukung pemanfaatan solar home system dan PLTS. Kemudian pengenalan dan penanaman mangrove. Serta pengenalan pengelolaan sampah dan pengembangan Sekolah Adiwiyata.
Dan terakhir dari sisi infrastruktur, PHM telah melakukan renovasi Rumah Dinas Guru. Pembangunan sarana penunjang seperti toilet, perbaikan jembatan kayu sepanjang tujuh kilometer serta renovasi ruang kelas.
Salah satu jembatan di Desa Sepatin.
Program Sekolah Negeri Terapung telah terbukti dampaknya ke masyarakat setempat, khususnya SMPN 6 Tenggarong—mereka menyimpan segudang prestasi yang diperoleh guru dan murid.
Total prestasi sekolah dari tahun 2022 hingga Mei 2024 ada 62. Untuk prestasi murid ada 19 di kecamatan, delapan di kabupaten, 21 di nasional dan tujuh di internasional.
Sedangkan guru ada empat di kabupaten, dua di provinsi, serta satu di nasional.
Sekolah Energi Terapung sendiri mendapatkan Silver Award di ajang International The 16th Global CSR Award di Hanoi, Vietnam.
Adapun penghargaan regional dan nasional diperoleh dengan medali dari 14 siswa dalam Kompetisi Sains Nasional Tingkat Sekolah/Olimpiade Sains/Olimpiade Nasional/STE. Juara 2 Lomba Tari Tradisional TK Nasional Kemendikbud. Serta SMPN 6 Anggana yang menjadi sekolah rujukan google.
Serta Nurul, guru Bahasa Inggris yang memperoleh beasiswa melanjutkan studi ke Amerika melalui program Fubright Distinguished Awards in Teaching Program for International Teachers oleh American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF). Idul Juara 1 Lomba Menggambar skala internasional di Amerika Serikat. Serta penghargaan Adiwiyata.
Strategi keberlanjutan dari Program Sekolah Negeri Terapung yang diintervensi PHM ini terbukti berhasil.
Di sisi nature, PHM telah menurunkan 7.6380 Ton CO2 per tahun emisi dari Energi Baru Terbarukan (EBT), kapasitas PLTS di empat sekolah mencapai 6.7 KwP. Bahan bakar dari solar panel berkurang menjadi 3.600 liter per tahun. Dan ada enam sekolah adiwiyata di tingkat kabupaten.
Secara well being, sudah ada 62 prestasi diraih siswa dan guru selama tahun 2022 sampai 2024.
Dengan empat penghargaan internasional, 101 siswa lolos perguruan tinggi dan beasiswa KIP, serta dukungan tiga guru penggerak.
Untuk economy, sebanyak Rp38,8 juta biaya operasional enam sekolah tiap tahunnya terhematkan akibat pemanfaatan EBT. Biaya transportasi siswa Muara Pantuan ke Tani Baru dari jembatan kayu juga menghemat Rp460 juta tiap tahunnya—lantaran mereka menggunakan ketinting dulunya.
Dan secara society, sudah ada 503 murid dan 40 guru mendapatkan peningkatan kapasitas. Empat lulusan sarjana telah kembali untuk membangun desa. 251 siswa di dua desa telah mendapat akses jalan yang aman, dengan jembatan kayu sepanjang tujuh kilometer.
Kepala Sekolah SMPN 6 Anggana, Tandarman.
Transformasi Pendidikan di Pelosok, Bergerak Bersama Cetak Prestasi
Di hadapan PHM dan awak media, Kepala Sekolah SMPN 6 Anggana Tandarman menceritakan bagaimana kehadiran program Sekolah Negeri Terapung membawa transformasi besar di sekolahnya.
Sejak berdiri tahun 2012 silam, SMP ini operasionalnya bergantian dengan Sekolah Dasar (SD). Dulu, tenaga pengajar sangat terbatas—sampai tahun 2019 baru ada tenaga pengajar tambahan.
“Saya sendiri mengajar empat pelajaran sebagai kepala sekolah,” ceritanya, sekaligus mengingat kembali dengan haru.
Tahun 2022 PHM datang ke sekolah ini, Tandarman merasakan langsung transformasi itu. Guru menjadi target utama yang “digembleng” agar arah pendidikan di SMP ini menuju arah yang tepat. Meski ia mengakui guru-guru silih berganti akibat tidak betah, kini seluruh guru di sekolahnya telah mencetak prestasi hingga tingkat internasional.
“Kalau dulu kami ini kunci inggris meskipun banyak yang lepas. Dan sekarang kita sudah punya 54 murid,” tuturnya.
Transformasi SMPN 6 Anggana sudah sangat pesat dibanding satu dekade lalu. Kini, triplek telah mengelilingi kelas—disertai kursi dan meja dengan TV digital yang didukung pemerintah daerah setempat dengan chromebook.
Untuk jaringan internet dan listrik, murid dan guru sudah tidak resah. Dengan Solar Home System dan PLTS, listrik 24 jam—dan internet sudah tidak lemot karena Starlink.
Guru penggerak di SMPN 6 Anggana, Naila Faza Kamila bersama murid-muridnya.
Seorang guru Penggerak di SMPN 6 Anggana, Naila Faza Kamila menyebut transformasi pendidikan di sekolah terapung ini turut didukung dengan pendampingan keberlanjutan.
Ia yang menjadi fasilitator pendidikan, terus mendorong dan mengembangkan setiap kebutuhan yang ada di sekolah.
Bercerita saat ia awal ke sekolah ini, wanita asli Kudus ini menyebut tantangan yang dihadapi SMPN 6 Anggana dahulu. Yakni kurangnya tenaga pengajar—dan berkat pendampingan Guru Penggerak, sekolah ini makin dikenal dan akhirnya mendapat tambahan tenaga pengajar.
Ia mengatakan, guru adalah penggerak utama dalam meningkatkan kualitas satuan pendidikan.
“Saya mendorong kepala sekolah untuk melakukan supervisi, melihat apa yang bisa ditingkatkan dari proses pembelajaran. Fokus saya saat ini memang lebih ke guru, karena saya percaya bahwa kualitas siswa merupakan cerminan dari kualitas pembelajarannya, yaitu gurunya,” ujarnya.
Guru Penggerak sendiri merupakan kolaborasi PT Pertamina Hulu Mahakam dengan Yayasan Indonesia Mengajar.
Program ini khusus untuk menugaskan Guru Penggerak ke wilayah 3T, Faza sendiri telah berbekal pengalaman bertugas di Kalimantan Barat. Di Anggana ini, ia sudah hampir satu tahun bertugas—dampak program PHM pun telah dilihatnya langsung hingga membuat SMPN 6 Anggana lebih dikenal.
“Kami juga ikut mempublikasikan sekolah ini, agar seluruh pemangku kepentingan dan pemerintah memberi perhatian lebih pada sekolah-sekolah pesisir. Dan salah satu contoh hasilnya, sekolah ini berhasil mendaftar dan lolos seleksi sebagai Google Reference School,” tuturnya.
Suasana SMP Negeri 6 Anggana di Desa Sepatin, dengan kondisi sungai yang surut.
Narkoba Ketakutan Bersama, Pendidikan Jadi Benteng dan Asa Masa Depan
Pukul 14.00 WITA telah tiba, bel sekolah telah berbunyi—satu per satu murid SMPN 6 Anggana keluar dari kelas mereka untuk kembali ke rumah masing-masing.
Sebagai desa yang menampung sekitar tiga ribu lebih jiwa dengan 15 RT—mayoritas warga bersuku Bugis.
Kesopanan anak-anak Sepatin yang juga murid SMPN 6 Anggana sangat tinggi, terbukti dengan kata “Tabe” yang diucapkan setiap saat mereka melalui seseorang.
Kata “Tabe” yang berarti permisi dalam Bahasa Indonesia terus terdengar saat mereka melalui wartawan dan Kepala Desa Sepatin, Arianto Juanda yang duduk lesehan di jembatan penghubung permukiman dan sekolah.
Kades Arianto sangat karismatik, mengenakan topi snapback dengan sepatu kets sebagai ciri khasnya. Ia berbincang dengan wartawan mengenai kondisi nyata yang dihadapi desanya—tentang harapan besar terhadap anak-anak penerus desa.
Narkoba, ucapnya, adalah ketakutan bersama seluruh warga. Barang haram ini sangat melekat di kehidupan masyarakat, ia sama sekali tidak menampik dampaknya di desa.
Mengibaratkannya sebagai kanker, keterlibatan narkoba dalam kehidupan warga setempat sudah mencapai stadium empat. Meski demikian, pria berusia 41 tahun ini tidak menyerah—justru berkomitmen untuk menyelamatkan generasi penerus dengan pendidikan.
“Saya sudah tiga tahun menjabat Kades, memang pendidikan ini jadi prioritas saya. Bahkan pendidikan dan pengetahuan narkoba ini telah kami terapkan sejak SD. Kami tidak ingin mereka terjerumus,” tegas Arianto.
Kepala Desa Sepatin, Arianto Juanda berbincang dengan wartawan.
Pendidikan adalah benteng, begitu yang diimplikasikan Arianto. Tidak berhenti di pendidikan dunia saja, ia juga mulai mengintervensi dengan memperkuat pengetahuan spiritual anak-anak desa dengan fasilitasi pondok pesantren (Ponpes).
Bagi mereka yang ingin mondok, Arianto jamin dengan pembayaran SPP—program ini mulai digulirkannya pada tahun 2025 ini.
“Sekarang ini sudah ada 10 anak yang daftar untuk mondok. Jadi kalau mereka memang mau lanjut ke ponpes, kami siap fasilitasi mau kemana pun itu,” lanjutnya.
Untuk beasiswa desa juga ada, disiapkannya sejak awal menjabat Kades tahun 2023 lalu. Arianto bertekad membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) desa yang tidak kalah dengan SDM perkotaan.
Tekad ini adalah sebuah asa, keinginan bersama agar anak-anak desa menjadi penerus pembangunan Desa Sepatin sebagai tanah kelahiran mereka.
Karena tidak menutup kemungkinan, katanya. Dengan kondisi alam di Sepatin yang satu tahunnya air bisa naik tiga sentimeter akibat abrasi. 10 tahun lagi desa ini bisa jadi tinggal nama.
Dana Desa (DD) pun tidak bisa menanggulangi abrasi ini, namun pendidikan bisa memacu anak-anak mencetak prestasi.
“Kita tidak selamanya menjabat, perlu ada regenerasi. Jadi kami harap setelah mereka lulus sekolah bisa mengabdi di desanya dan membangun tanah kelahiran mereka,” pintanya, penuh dengan tekad.
Lestari (kanan) siswi SMPN 6 Anggana yang juga bertugas sebagai duta narkoba NAPZA di sekolahnya.
Seorang siswi SMPN 6 Anggana bernama Lestari menyampaikan mimpi mulianya mengenyahkan narkoba dari desanya. Sebagai siswi kelas Sembilan, ia juga bertugas sebagai duta narkoba NAPZA—mengedukasi teman dan warga setempat mengenai marabahaya narkoba.
Bagi Lestari, narkoba mesti dihentikan, dan sejak dini pemuda dilarang mencoba-coba apalagi penasaran.
Tidak sendiri, keluarga dan teman Lestari mendukung penuh komitmennya mengedukasi dampak-dampak negatif narkoba.
Ia sendiri bercita-cita menjadi sosok guru Bahasa, oleh karena itu ia sepakat bahwa narkoba harus diberantas dan pendidikan harus nomor satu. “Karena kalau bukan kita sendiri siapa lagi,” ucap gadis berusia 15 tahun ini.
Suasana murid SMPN 6 Anggana.
Tertinggal, Terdepan dan Terluar Tak Jadi Alasan, Pendidikan Harus Jadi Prioritas
Meski menghadapi banyak keterbatasan dan sempat dikira mustahil, SMPN 6 Anggana menjadi bukti nyata bahwa kondisi terpencil tidak membatasi untuk berkembang pesat.
Semua ini berkat kerja dan komitmen kolektif—dari warga, pemerintah desa dan kabupaten bersama swasta dalam hal ini Pertamina Hulu Mahakam. Dari pendampingan pendidikan, sampai pembangunan infrastruktur dan penyuluhan narkoba.
Head of Communication, Relations & CID Zona 8 PHM, Achmad Krisna menyebut terpilihnya SMPN 6 Anggana di Desa Sepatin sebagai penerima program ini adalah komitmen meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat sekitar wilayah operasional mereka.
Dengan lokasinya yang terpelosok, tidak ada kata tidak bisa untuk mengembangkan pendidikan di sekolah ini.
“Dengan berbagai intervensi ini, kami berkomitmen menciptakan akses pendidikan yang lebih inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi perusahaan,” ujarnya.
Kini, di tengah riuh suara air dan nyanyian burung di Delta Mahakam, anak-anak SMPN 6 Anggana belajar dengan cahaya baru—bukan lagi dari pelita minyak, melainkan dari harapan yang ditenagai kerja bersama.
Pendidikan kini bukan sekadar rutinitas belajar mengajar. Ia menjadi bara kecil yang terus dijaga, sebuah asa tentang masa depan yang lebih baik.
Di wilayah yang dulu akrab dengan bayang-bayang narkotika dan keterbatasan, harapan itu kini tumbuh berkat kolaborasi. Antara masyarakat, pemerintah desa, dan PT Pertamina Hulu Mahakam yang menghadirkan Program Sekolah Negeri Terapung.
Seperti kisah Laskar Pelangi yang dulu menyalakan asa dari Belitung, Sekolah Negeri Terapung di Sepatin membuktikan bahwa mimpi besar bisa lahir dari tempat yang paling sederhana—selama semua pihak mau berkolaborasi menjaga nyalanya. (moe)