TENGGARONG – Sempat beredar cuplikan video di media sosial Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mengenai tongkang bermuatan batu bara yang menabrak Jembatan Martadipura, Desa Liang, Kecamatan Kota Bangun. Peristiwa ini ramai di kalangan warga, namun ternyata dipicu miskomunikasi terkait kondisi ketinggian air sungai dan muatan tongkang saat melintas.
Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Liang, Ahmadi, menjelaskan benturan bukan disebabkan badan kapal. Melainkan muatan batubara yang terlalu tinggi di tengah kondisi air sungai yang sedang naik akibat banjir.
“Bukan kapalnya yang kena, tapi muatan batu baranya yang terlalu tinggi. Saat itu air sedang naik,” kata Ahmadi, Selasa (20/1).
Ia menyebut peristiwa tersebut diperkirakan terjadi antara Kamis atau Jumat. Saat itu, ketinggian air dinilai belum mencapai ambang batas yang mewajibkan pemangkasan muatan tongkang.
Dalam melakukan pemangkasan muatan seharusnya dilakukan apabila ketinggian air di bawah jembatan mencapai sekitar delapan meter. Selain itu, lalu lintas tongkang biasanya dibatasi saat kondisi air sungai tinggi.
“Kalau ketinggian air di bawah jembatan sudah sampai delapan meter, itu biasanya harus pangkas. Lalu lalang tongkang juga dibatasi, tidak boleh sampai malam, biasanya hanya sampai jam lima sore,” ujarnya.
Namun, dalam kejadian tersebut pihak pengangkut menilai muatan tongkang masih aman untuk melintas sehingga belum dilakukan pemangkasan.
Ia menambahkan, hingga insiden terjadi memang belum ada aktivitas pemangkasan muatan di wilayah Desa Liang. Menurutnya, miskomunikasi antar pihak menjadi salah satu faktor utama penyebab kejadian.
“Kalau banjir sebelumnya sudah sering memangkas. Tapi banjir kali ini belum ada. Yang memangkas itu tim lain di daerah Rimba Ayu,” ungkapnya.
Saat peristiwa berlangsung, Ahmadi mengaku tidak berada di lokasi. Informasi awal ia terima dari pemandu kapal yang berada di sekitar Jembatan Martadipura.
“Saya tidak di lokasi, tapi ditelpon pemandu kapal di jembatan itu soal ketinggian batu bara. Karena seharusnya memang dipangkas,” katanya.
Ia menilai perbedaan kondisi ketinggian air di beberapa titik sungai kerap memicu kesalahpahaman di lapangan. “Kadang di daerah lain air sudah surut, tapi di Kota Bangun masih tinggi. Jadi mereka mengira aman, padahal belum,” tutup Ahmadi. (moe)
Editor : Indra Zakaria