Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Rahmat Dermawan Tuangkan Refleksi dan Edukasi Politik Bagi Pemuda Kukar dalam Film “Penyambung Lidah Rakyat”

Elmo Satria Nugraha • 2026-03-04 23:00:58

Anggota DPRD Kukar Dapil IV, Rahmat Dermawan (Elmo/Prokal.co)
Anggota DPRD Kukar Dapil IV, Rahmat Dermawan (Elmo/Prokal.co)

PROKAL.CO, TENGGARONG — Politik tak melulu soal kekuasaan dan kontestasi. Bagi Anggota DPRD Kutai Kartanegara (Kukar) dari Daerah Pemilihan (Dapil) IV, Rahmat Dermawan, politik adalah alat perjuangan. Gagasan itu ia tuangkan dalam sebuah film berjudul Penyambung Lidah Rakyat yang diproduksi sebagai refleksi satu tahun masa jabatannya sekaligus inspirasi bagi pemuda pesisir.

Rahmat mengungkapkan, film tersebut berawal dari inisiatif relawan dan timnya yang mengumpulkan dokumentasi perjalanan selama dirinya menjabat sebagai anggota DPRD. Dokumentasi itu memuat berbagai aktivitas, mulai dari advokasi masyarakat, pengawalan program pemerintah, hingga upaya memfasilitasi kebutuhan warga.

“Kebetulan teman-teman relawan dan tim saya menginisiasi pengumpulan dokumentasi perjalanan saya selama satu tahun menjabat sebagai anggota DPRD. Dari advokasi masyarakat, pengawalan program-program pemerintah, serta upaya membantu masyarakat agar dapat terfasilitasi dalam berbagai program,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).

Rangkaian dokumentasi tersebut kemudian dirajut menjadi sebuah alur cerita dalam film bertajuk Penyambung Lidah Rakyat. Tagline itu, kata Rahmat, sudah ia gunakan sejak masa kampanye sebagai bentuk komitmen kepada masyarakat.

“Kini tagline itu sering disebut kembali oleh masyarakat dan teman-teman, sehingga muncul gagasan untuk menjadikannya sebagai judul film sekaligus refleksi perjalanan saya,” katanya.

Film tersebut juga menjadi pengingat perjalanan hidupnya sebelum duduk di kursi legislatif. Ia menegaskan, dirinya bukan berasal dari keluarga politisi maupun pejabat.

Rahmat tidak berasal dari keluarga politisi. Orang tuanya bukan pejabat pemerintah atau pejabat daerah. Ibunya seorang pedagang, dan bapaknya seorang petani. Ia berasal dari akar rumput, masyarakat biasa yang menggantungkan hidupnya pada penghasilan sehari-hari. Bekal ini yang membuatnya dapat menyuarakan isu-isu di tengah masyarakat.

Istilah “penyambung lidah rakyat” sebut Rahmat memiliki makna historis tersendiri. Ia mengaku mendapat inspirasi dari mentornya, Muhammad Samsun, yang pernah memberinya buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia tentang Soekarno.

“Buku itu saya baca berulang kali dan dari sana saya mendapatkan inspirasi tentang bagaimana politik seharusnya dijalankan untuk rakyat,” ungkap politisi PDI Perjuangan ini.

Film tersebut kini telah rampung diproduksi dan trailer-nya telah tersedia. Usai Lebaran, Rahmat bersama timnya berencana menggelar nonton bareng di wilayah dapilnya, yakni Kecamatan Samboja, Muara Jawa, dan Sangasanga.

Dengan melibatkan anak-anak muda lokal yang antusias menggarap pelaksanaan acara. Film ini akan menggambarkan sekaligus memberi edukasi politik kepada masyarakat. Rahmat menekankan bahwa politik harus dipahami sebagai mekanisme lahirnya kebijakan publik.

“Film ini menggambarkan bagaimana politik bekerja, bagaimana proses kebijakan berjalan, serta bagaimana seorang pejabat publik menjalankan amanah yang dititipkan oleh masyarakat,” jelasnya.

Ia berharap film tersebut dapat mengubah cara pandang generasi muda terhadap politik. Menurutnya, kualitas kebijakan sangat ditentukan oleh pilihan politik masyarakat.

“Politik itu penting, karena kebijakan yang lahir hari ini adalah hasil dari pilihan politik yang kita tentukan sebelumnya. Baik atau buruknya kebijakan yang kita rasakan, semuanya berawal dari keputusan politik yang kita ambil,” tegas Rahmat.

Rahmat mengingatkan agar politik tidak dipandang sebelah mata atau ditentukan hanya karena euforia, faktor finansial, maupun pragmatisme sesaat. Pun ia mengibaratkan poltik ini sebagai pisau tajam, pengunaannya tergantung siapa yang memegang dan bagaimana menggunakannya.

“Politik kalau dijalankan oleh orang yang baik, maka akan melahirkan kebijakan yang baik. Sebaliknya, jika dijalankan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, maka kebijakan yang lahir pun tidak akan berpihak kepada rakyat,” pungkasnya.

Melalui film Penyambung Lidah Rakyat, Rahmat menegaskan politik dapat menjadi senjata kuat dalam membangun daerah, sepanjang dijalankan dengan komitmen dan keberpihakan kepada masyarakat. (moe)

Editor : Indra Zakaria