PROKAL.CO, TENGGARONG — Warga Desa Genting Tanah, Kecamatan Kembang Janggut, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dibuat resah akibat kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi sejak akhir pekan lalu. Di tengah stok yang menipis, harga BBM eceran bahkan sempat melonjak tajam hingga Rp22 ribu per liter.
Kepala Desa Genting Tanah, Junaidi, mengungkapkan kelangkaan mulai dirasakan sejak Jumat (10/4/2026). Kondisi itu membuat masyarakat kesulitan mendapatkan BBM, bahkan sempat tidak tersedia sama sekali pada hari tertentu.
“Kalau di Genting Tanah sampai Kembang Janggut mulai hari Jumat yang lalu itu memang sudah ada kelangkaan BBM,” ujarnya saat dihubungi awak media, Selasa (14/4/2026). Lonjakan harga baru terungkap setelah pemerintah desa melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pedagang eceran. Dalam sidak tersebut, ditemukan penjualan BBM dengan harga jauh di atas normal.
“Salah satu pedagang yang jual BBM eceran kami temukan itu harga Rp22 ribu. Makanya kami langsung keluarkan surat himbauan itu, harga maksimal Rp15 ribu supaya masyarakat tidak terlalu keberatan,” jelasnya.
Sidak dilakukan perangkat desa bersama aparat kepolisian setempat. Langkah ini diambil untuk memastikan distribusi dan harga BBM tetap terkendali di tengah kondisi sulit.
“Kebetulan yang sidak juga perangkat kami, kasi pemerintahan dengan Babinkamtibnas dari Polsek Kembang Janggut. Itu yang melaksanakan sidaknya,” tambahnya. Junaidi menyebut, kelangkaan tidak hanya terjadi di satu titik, tetapi hampir merata di wilayah Kecamatan Kembang Janggut. Bahkan pada Minggu, stok BBM di wilayah tersebut dilaporkan kosong.
“Kalau kelangkaannya itu mulai hari Jumat sudah langka memang,” katanya.Harga Pertalite sempat menyentuh Rp22 ribu per liter, sementara Pertamax mencapai Rp25 ribu per liter pada Senin pagi. Kondisi itu terjadi setelah sehari sebelumnya masyarakat tidak mendapatkan BBM sama sekali.Sebagai langkah penanganan, pemerintah desa mengeluarkan imbauan agar pedagang tidak menjual BBM di atas Rp15 ribu per liter. Meski begitu, toleransi masih diberikan melihat kondisi distribusi yang tersendat.
“Yang kemarin setelah kita sidak itu jadi Rp18 ribu kalau tidak salah kami lihat sore itu. Masih bisa kita maklumi, karena memang lagi susah,” ujarnya. Pemerintah desa berharap ada perhatian dari pihak terkait, termasuk agen penyalur, agar pasokan BBM segera kembali normal dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi. (moe)
Editor : Indra Zakaria