PROKAL.CO, TENGGARONG – Di balik tepuk tangan yang menggema di panggung Asian Ethnic Got Talent International 2026 di Jakarta, ada kisah panjang tentang seorang gadis kecil yang tak pernah lepas dari mikrofon. Jauh sebelum menyandang gelar juara internasional, Kauren Atiqa Zahira—akrab disapa Rere—telah lebih dulu jatuh cinta pada dunia tarik suara, bahkan sejak masih berada dalam kandungan sang ibu.
Kini, suara emas gadis kelahiran Samarinda, 3 Oktober 2014, itu berhasil mengantarkannya menjadi juara 1 pada ajang Asian Ethnic Got Talent International 2026 di Jakarta yang diikuti peserta dari tujuh negara Asia. Prestasi tersebut bukan sekadar kemenangan pribadi, tetapi juga menjadi kebanggaan bagi Kalimantan Timur dan pastinya tanah leluhurnya, Kutai Kartanegara.
Di usianya yang masih 11 tahun dan duduk di bangku kelas VI SDN 030 Balikpapan Utara, Rere telah mengoleksi sederet prestasi. Ia pernah menjadi juara pertama lomba menyanyi tingkat Kota Balikpapan, meraih medali emas dalam Nusantara Young Music Olympiad (NYMO), menjuarai lomba lagu perjuangan, hingga menjadi yang terbaik pada kompetisi lagu daerah. Namun, gelar juara Asian Ethnic Got Talent International menjadi pencapaian terbesar yang membuka pintu menuju panggung yang lebih luas.
Perjalanan menuju gelar tersebut tidak berlangsung instan. Rere lebih dulu mengikuti audisi di Balikpapan pada April 2026 dan meraih juara kedua. Hasil itu justru menjadi tiket emas menuju Jakarta untuk mengikuti kompetisi tingkat internasional yang diselenggarakan Inter Model Jakarta.
Di ibu kota, ia harus melewati 2 babak yaitu menyanyikan lagu secara acapella tanpa iringan musik di Gor theater Bulungan jkt. Dan di lanjut mengantarkannya ke grand final yang digelar di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail hall pada 27 Juni 2026. Bersaing dengan peserta dari Indonesia, Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Timor Leste, Rere akhirnya dinobatkan sebagai juara pertama.
Keberhasilan itu menjadi momen yang sulit dilupakan oleh sang ibu, Dana Sukma Wardani. Di balik panggung, saat nama Rere dari Balikpapan Kalimantan Timur, Indonesia diumumkan sebagai juara pertama—air mata kebahagiaan tak lagi bisa dibendung.
Perjalanan Rere menuju panggung internasional sesungguhnya dimulai jauh sebelum ia mengenal kompetisi. Dana mengaku bakat menyanyi putrinya sudah terlihat sejak masih sangat kecil.
Bahkan ketika mengandung Rere, ia merasakan keinginan yang tidak biasa.
"Kalau ditanya awalnya, sebenarnya dari kecil sekali sudah kelihatan. Bahkan waktu saya masih hamil, saya selalu minta ke suami nyanyi happy pupy kenangnya sambil tersenyum saat diwawancarai, Rabu (22/7/2026).
Memasuki usia sekitar dua tahun, Rere mulai menunjukkan ketertarikannya pada dunia musik. Setiap melihat mikrofon di pusat perbelanjaan, ia selalu ingin memegangnya dan minta di belikan. Di dalam mobil pun, hampir sepanjang perjalanan ia bernyanyi tanpa diminta.
Melihat bakat itu, Dana memilih tidak membiarkannya menjadi sekadar hobi. Rere mulai mengikuti les vokal saat berusia sekitar empat setengah tahun. Sejak saat itu, hampir setiap kompetisi menyanyi di Balikpapan diikutinya. Hasilnya pun terus menunjukkan perkembangan dengan silih berganti meraih juara.
Sebagai ibu, Dana tidak hanya mengajarkan teknik bernyanyi, tetapi juga membentuk karakter musikal putrinya. Lagu anak menjadi materi awal sebelum perlahan diperkenalkan pada karya-karya penyanyi Indonesia, salah satunya Rossa.
Pilihan itu bukan tanpa alasan. Rossa dikenal mengawali karier sejak usia belia melalui festival-festival menyanyi sebelum akhirnya menjadi salah satu diva Indonesia. Dana berharap proses belajar yang dijalani Rere juga bertumpu pada pengalaman panggung, disiplin berlatih, dan keberanian tampil, bukan semata mengejar popularitas.
Seiring bertambahnya usia, repertoar lagu Rere pun berkembang hingga mencakup lagu berbahasa Inggris, salah satunya Loren Allred dengan lagu Never Enough. Meski begitu, sang ibu selalu menanamkan bahwa seorang penyanyi tidak boleh terpaku pada satu genre.
Di balik kecintaannya pada musik modern, ada satu pesan yang terus dipegang keluarga: jangan pernah melupakan akar budaya sendiri.
Rere bukan hanya membawa nama Indonesia ke panggung internasional, tetapi juga membawa identitas Kutai yang mengalir dalam darahnya. Dana merupakan asli dari Tenggarong kutai kartanegara dan masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Adji Muhammad Arifin. Lebih tepatnya piut dari raja Kutai ke-19 Sultan Adji Muhammad Parikesit.
"Sultan Kutai itu adik sepupu dari ibu saya.
Dan Rere adalah cucu keponakan nya beliau jadi memang Rere ada keturunan dari Sultan," lanjutnya.
Kecintaan terhadap seni juga bukan hal baru di keluarga mereka. Dana tumbuh di lingkungan yang akrab dengan dunia hiburan. Almarhumah Aji Maimunah yang merupakan tante Dana, dikenal sebagai penyanyi di Tenggarong pada waktu itu. Sementara ayah dari Dana merupakan pemilik Bioskop Ratna khususnya di bidang film yang pernah menjadi salah satu ikon hiburan masyarakat Tenggarong.
Warisan itulah yang kini diteruskan kepada Rere. Sebelum mengenalkan lagu-lagu populer, Dana lebih dulu mengajarkan lagu daerah Kutai sebagai bentuk penghormatan terhadap identitas budaya keluarga.
"Saya memang mengajarkan dia harus mulai dari lagu-lagu Kutai dulu. Bagaimanapun darahnya darah Kutai, jadi budaya Kutai harus diangkat," katanya.
Nilai itu juga dibawa ke panggung internasional. Saat tampil di Jakarta, Rere mengenakan atribut etnik Kutai berupa bulu burung ruai sebagai simbol bahwa dirinya datang membawa identitas Kalimantan Timur, bukan sekadar mengejar kemenangan.
Sebelum menembus level internasional, Rere telah beberapa kali tampil dipanggung pada Festival Erau, peringatan HUT Brimob, hingga berbagai kegiatan seni lainnya. Pengalaman-pengalaman itulah yang membentuk rasa percaya dirinya ketika harus berdiri di hadapan dewan juri dari berbagai negara.
Rere sendiri merupakan anak keempat dari empat saudara. Sebagai anak bungsu, perhatian Rere dan saudara-saudarinya tidak pernah lepas dari orang tuanya. Meski orang tuanya memiliki kesibukan tidak mengurangi perhatian dan dukungan terus mengalir deras untuk Rere.
Keberhasilan Rere menjadi juara bukan hanya tentang bakat seorang anak. Prestasi itu juga lahir dari kesabaran orang tua yang memilih mendampingi proses, memberi ruang bagi anak untuk berkembang, dan tidak berhenti mengasah kemampuan yang dimiliki.
Dana berharap pencapaian putrinya tidak menjadi titik akhir, melainkan awal dari perjalanan yang lebih panjang. Ia ingin Rere terus belajar, dan tidak cepat puas—terus berlatih, dan tetap membumi meski telah mencicipi panggung internasional.
"Kalau memang ada kesempatan ikut lomba yang lebih tinggi lagi, kenapa tidak. Yang penting kegiatannya positif. Cita-cita Rere memang ingin menjadi penyanyi terkenal. Tugas kami sebagai orang tua hanya mendukung dan terus mengasah kemampuannya," tutupnya. (moe)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co