Dirgahayu Ke-81 RI Dihantam Efisiensi, Usaha Bendera Merah Putih di Kukar Melesu

Elmo Satria Nugraha • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 21:04 WIB
Lapak Iman Awaludin yang jual bendera di Jalan Sudirman, Kelurahan Melayu, Tenggarong (Elmo/Prokal.co)
Lapak Iman Awaludin yang jual bendera di Jalan Sudirman, Kelurahan Melayu, Tenggarong (Elmo/Prokal.co)

PROKAL.CO, TENGGARONG – Butir demi butir keringat menetes di dahi Iman. Cuaca panas Pulau Kalimantan membuatnya sangat gerah, seolah melengkapi keresahannya terhadap kondisi ekonomi yang sangat melesu. Berjam-jam ia duduk di lapak sederhana yang terletak di pinggir Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong—menantikan pengendara turun dan membeli dagangan bendera Merah Putih-nya.

Suasana ini terasa asing bagi Iman Awaludin, seorang pedagang bendera asal Garut, Jawa Barat. 11 tahun ia merantau ke Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) untuk mengais rezeki tiap momentum Dirgahayu Republik Indonesia. Di HUT ke-81 ini, Iman harus menelan kenyataan pahit karena omzet yang menurun drastis.

Momentum dirgahayu RI di tahun 2026 ini sangat berbeda dibanding sebelumnya, Iman ikut merasakan dampak ekonomi masyarakat yang melesu. Meski terdapat peraturan wajib mengibarkan bendera bagi warga dan instansi, Iman juga harus menghadapi badai efisiensi. Hal ini membuat penjualan Iman anjlok.

"Tahun 2026 ini memang ada beberapa faktor yang membuat penjualan menurun. Menurut saya daya beli masyarakat sedang melemah. Kami biasanya mengandalkan pembelian dari instansi dan sekolah, tetapi banyak yang mengatakan tidak ada dana dan anggarannya belum cair,” cerita Iman kepada Prokal.co, Rabu (8/8/2026).

Belasan tahun menggeluti usaha ini, Iman telah membangun relasi kepada beberapa instansi—mulai dari sekolahan, dinas hingga pemerintahan desa. Meski demikian, semua langganannya belum dapat menerima tawaran Iman. Mereka memilikin alasan sama: belum ada alokasi anggaran untuk tahun ini.

"Banyak yang menyampaikan belum bisa membeli karena anggaran tahun ini tidak tersedia,” jelasnya.

Dua pekan lebih buka lapak, Iman mengaku penjualan masih jauh dari target. Per tanggal 20 Juli lalu datang ke Kukar, pencapaian penjualan Iman baru menyentuh sekitar 14 persen. Bersama rekan seperjuangannya yang juga datang ke Kukar untuk berdagang bendera, nasib mereka sama.

“Dan teman-teman pedagang lain mengeluhkan hal yang sama, bukan cuman di Tenggarong. Ada teman saya di Manado, kondisinya sepi. Memang hampir seluruh daerah penjualannya sepi,” cerita Iman.

Selama 11 tahun berdagang bendera di Kukar, Iman mengandalkan modal hasil bertani di kampung halamannya. Sebagai petani di Garut, Iman selalu memutar penghasilannya menjadi modal usaha bendera. Di tahun 2026 ini Iman menyiapkan modal Rp40 juta—namun dengan kondisi yang dihadapi saat ini, kekhawatiran semakin menguat.

"Mungkin kalau kondisi dana masyarakat lancar, pembelian tetap ada. Tetapi sekarang banyak yang memilih menggunakan bendera yang lama selama masih bagus dan layak dipakai,” lanjutnya.

Diakui Iman, stok bendera tahun ini telah dikurangi dari tahun sebelumnya. Di tahun 2025 ia membawa 12 karung, tahun ini sudah diturunkan setengah. Namun hingga kini, satu karung pun belum habis. Tahun depan ia berencana menurunkan target dagangan lagi, bahkan cukup menghabiskan stok yang tersisa. 

"Kalau kondisinya seperti ini, lebih baik menghabiskan stok yang tersisa dan menggunakan barang yang masih ada," tutupnya. (moe)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kutai kartanegara