Abrasi Mahakam Putus Akses Utama Desa Batuq, Jalan Sepanjang 50 Meter Amblas

Elmo Satria Nugraha • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 16:12 WIB
Longsor yang terjadi di Desa Batuq, Kecamatan Muara Muntai (Istimewa)
Longsor yang terjadi di Desa Batuq, Kecamatan Muara Muntai (Istimewa)

PROKAL.CO, TENGGARONG – Akses utama warga Desa Batuq, Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), terputus setelah sekitar 50 meter badan jalan di tepi Sungai Mahakam amblas akibat longsor, Kamis (6/8/2026) sekitar pukul 11.30 Wita. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun aktivitas masyarakat kini harus dialihkan melalui jalur darurat.

Longsor terjadi setelah abrasi Sungai Mahakam yang berlangsung selama bertahun-tahun terus menggerus tebing hingga akhirnya mencapai badan jalan. Kondisi itu membuat jalur utama yang selama ini digunakan warga tidak lagi dapat dilalui demi alasan keselamatan.

Kepala Desa Batuq Suwandi mengatakan tanda-tanda kerusakan sebenarnya sudah terlihat beberapa hari sebelumnya. Pemerintah desa bahkan sempat melakukan upaya darurat dengan meninggikan posisi jembatan agar akses tetap bisa dipertahankan.

"Dulu jarak jalan dengan Sungai Mahakam masih puluhan meter. Karena abrasi terus terjadi, sekarang gerusannya sudah sampai ke jembatan dan badan jalan," ujarnya saat dihubungi.

Meski telah dilakukan penanganan sementara, pergerakan tanah terus berlanjut hingga kondisi jalan akhirnya tidak dapat dipertahankan.

"Senin lalu jembatan sudah kami naikkan, tetapi tanahnya terus bergeser. Setelah itu miring dan kondisinya semakin parah, jadi kami langsung menutup akses demi keselamatan warga," katanya.

Menurut Suwandi, keputusan menutup akses sebelum jalan benar-benar ambruk menjadi langkah penting untuk mencegah jatuhnya korban. Di sekitar lokasi longsor terdapat enam kepala keluarga yang bermukim.

Untuk menjaga mobilitas masyarakat, pemerintah desa segera membuka jalur alternatif menggunakan jalan darat yang diuruk. Namun, akses tersebut hanya bisa dilalui kendaraan roda dua dan mengharuskan warga memutar dengan jarak yang lebih jauh.

"Jalan alternatif sudah kami buka. Memang harus memutar, tetapi setidaknya sepeda motor masih bisa lewat," ucapnya.

Abrasi di kawasan tersebut tidak hanya dipengaruhi arus Sungai Mahakam, tetapi juga aktivitas tongkang batu bara yang kerap melintas di sekitar lokasi. Gelombang yang ditimbulkan kapal, menurutnya, mempercepat pengikisan tebing hingga akhirnya memicu longsor.

"Tongkang sering melintas bahkan kandas di sekitar lokasi. Gerusan air akibat aktivitas itu membuat tebing semakin cepat terkikis," tuturnya.

Saat ini pemerintah desa memprioritaskan pembukaan akses darurat sambil berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara untuk penanganan lebih lanjut. Warga berharap penanganan permanen segera dilakukan agar akses utama desa dapat kembali berfungsi dan ancaman longsor susulan dapat diminimalkan.

"Kami fokus memastikan masyarakat tetap memiliki akses. Laporan juga sudah kami sampaikan agar penanganan bisa segera dilakukan," pungkas Suwandi. (moe)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
tenggarong