PROKAL.CO, TENGGARONG – Kalimantan Timur masih harus menghadapi kemarau panjang hingga beberapa bulan ke depan, termasuk Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Memasuki Agustus yang menjadi puncak musim kemarau di sejumlah wilayah, kondisi kering diperkirakan baru berakhir bertahap pada September hingga Oktober 2026.
Forecaster BMKG Samarinda Gilang Arya mengatakan musim kemarau di Kaltim mulai berlangsung sejak pertengahan Juni 2026. Artinya, hingga Rabu (19/8/2026), sebagian wilayah telah mengalami kondisi kering selama hampir dua bulan.
“Kalau awal kemaraunya itu di sekitar pertengahan bulan Juni, jadi untuk saat ini kurang lebih sudah hampir dua bulan durasi kemaraunya,” kata Gilang saat diwawancarai melalui telepon, Rabu (19/8/2026). Menurut dia, durasi kemarau tahun ini diperkirakan mencapai 10 hingga 12 dasarian atau sekitar tiga sampai empat bulan. Karena itu, masyarakat belum bisa menganggap kondisi kering akan segera berakhir setelah melewati puncak kemarau Agustus.
“Untuk durasi kemaraunya sendiri, kami perkirakan hingga 10 sampai 12 dasarian, atau sekitar tiga sampai empat bulan,” ujarnya. Gilang menyebut waktu berakhirnya kemarau tidak akan seragam di seluruh wilayah Kaltim. Sebagian wilayah diperkirakan mulai memasuki akhir musim kemarau pada September, sementara wilayah lainnya baru berakhir pada Oktober.
“Jadi diprediksi kemaraunya berakhir di September sampai Oktober. Di beberapa wilayah ada yang September dan beberapa wilayah ada yang Oktober,” jelasnya. Kondisi tersebut sejalan dengan pemutakhiran prediksi musim kemarau BMKG yang menunjukkan sejumlah zona musim di Kaltim mengalami musim kemarau selama sekitar 8 hingga 12 dasarian dengan puncak pada Agustus. Beberapa wilayah juga diprediksi mengalami musim kemarau lebih panjang dibanding normalnya.
Gilang mengatakan kondisi kering berkepanjangan di Kaltim tidak hanya dipengaruhi faktor lokal. Fenomena global El Nino menjadi salah satu faktor utama yang menekan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Kaltim.
“Untuk faktor penyebab kekeringannya bervariasi, cuma untuk wilayah Indonesia sendiri memang paling besar itu dipengaruhi oleh fenomena global, yaitu ENSO,” katanya.
ENSO atau El Nino-Southern Oscillation memiliki dua fase utama, yakni El Nino dan La Nina. Untuk tahun ini, Gilang menyebut kondisi yang terjadi adalah El Nino sangat kuat sehingga berdampak terhadap penurunan curah hujan. “Yang tahun ini terjadi itu El Nino sangat kuat. Jadi ini menyebabkan di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan Timur sendiri, juga mengalami pengurangan atau penurunan curah hujan,” jelasnya.
Kondisi tersebut diperkirakan belum segera berakhir. Gilang menyebut El Nino sangat kuat diprediksi bertahan hingga Desember 2026 dan mulai melemah sekitar Januari hingga pertengahan 2027. “Untuk El Nino yang sangat kuat ini diprediksi bertahan hingga Desember tahun ini. Jadi sampai akhir tahun ini diprediksi El Nino masih dalam faktor sangat kuat. Kemudian nanti mulai melemah di sekitar bulan Januari hingga pertengahan tahun depan,” ujarnya.
Kemarau berkepanjangan turut meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BMKG sebelumnya mencatat kondisi kering pada Juli sudah berdampak pada munculnya karhutla di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan Timur.
Gilang mengatakan BMKG terus memantau perkembangan titik panas selama periode kemarau. Karena itu, wilayah perkebunan dan lahan menjadi area yang perlu mendapat perhatian lebih. “Kalau dari BMKG sendiri, kami mengimbau agar tetap waspada, khususnya untuk di daerah perkebunan dan lahan. Karena biasanya di kemarau ini kami juga memonitoring titik panas dan itu sudah cukup banyak selama ini kami monitoring titik panasnya,” katanya.
Ancaman tersebut juga dapat merembet ke kawasan permukiman. Selain karhutla, kondisi kering berkepanjangan berpotensi memicu persoalan ketersediaan air bersih. “Untuk di area-area perumahan juga perlu diwaspadai, karena adanya kemarau ini juga mengakibatkan beberapa rumah bisa mengalami kebakaran dan kesulitan air bersih,” ujarnya.
Terkait laporan kesulitan air bersih, Gilang mengatakan BMKG belum menerima laporan secara langsung karena persoalan tersebut berada di luar kewenangan lembaganya. Penanganan kebutuhan air bersih berada pada instansi terkait seperti PDAM, PUPR maupun BPBD.
Meski demikian, BMKG tetap berkoordinasi dengan pemerintah daerah, PUPR dan PDAM untuk memitigasi dampak musim kemarau. Informasi mengenai durasi kemarau dan perkembangan El Nino disampaikan dalam rapat koordinasi bersama pemerintah daerah dan perusahaan.
“Kalau untuk laporan soal air bersih, kami belum menerima. Mungkin karena kewenangan kami hanya menganalisis musimnya saja. Kalau misalkan data terkait air bersih, mungkin ada di PDAM atau PUPR,” terang Gilang. Ia menambahkan, masyarakat perlu mempersiapkan diri menghadapi kemarau yang masih akan berlangsung hingga beberapa wilayah memasuki September bahkan Oktober.
“Kalau dari BMKG sendiri, kami mengimbau agar tetap waspada,” tegasnya. Kewaspadaan terutama diperlukan terhadap penggunaan api di lahan, potensi meluasnya titik panas, risiko kebakaran di permukiman, serta kemungkinan berkurangnya sumber air. Puncak kemarau Agustus menjadi fase penting bagi masyarakat dan pemerintah daerah untuk memperkuat langkah antisipasi sebelum sebagian wilayah Kaltim mulai memasuki masa peralihan pada September hingga Oktober. (moe)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co