Kabut Asap Karhutla Mulai Selimuti Tenggarong, Pemkab Kukar Perkuat Penanganan Titik Api

Elmo Satria Nugraha • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:34 WIB
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri (Elmo/Prokal.co)
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri (Elmo/Prokal.co)

PROKAL.CO, TENGGARONG – Kabut asap mulai terasa di Tenggarong, terutama pada sore hari, menyusul kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Kutai Kartanegara (Kukar). Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah meningkatkan pemantauan karena asap berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, terutama anak-anak.

Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar terus memantau titik api dan melakukan penanganan bersama instansi terkait. Koordinasi dilakukan dengan pihak kehutanan, BPBD Provinsi Kalimantan Timur hingga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“BPBD Kutai Kartanegara selalu berkoordinasi dengan teman-teman dari kehutanan dan BNPB untuk mengidentifikasi titik-titik api yang menyebabkan asap dan kebakaran,” ujarnya.

Setiap titik api yang terdeteksi di Kukar Aulia pastikan akan dipetakan untuk menentukan langkah penanganan sesuai kondisi lapangan dan akses menuju lokasi. Jika masih dapat dijangkau dengan peralatan yang tersedia, pemadaman dilakukan secara langsung oleh tim di lapangan.

Namun, kemampuan daerah memiliki keterbatasan ketika kebakaran berada di lokasi yang sulit dijangkau atau membutuhkan dukungan sarana udara. Pemkab Kukar belum memiliki fasilitas pemadaman menggunakan helikopter sehingga membutuhkan bantuan pemerintah provinsi maupun pusat.

“Kalau sudah menggunakan fasilitas seperti helikopter dan lain sebagainya, kita belum ada fasilitas untuk itu. Makanya kami berkoordinasi dengan BPBD Provinsi dan BNPB bagaimana ini bisa tertangani,” katanya.

Aulia menyebut jumlah titik api di Kukar tidak sebanyak sejumlah daerah lain. Meski demikian, pemerintah tidak ingin mengabaikan dampak turunannya karena asap tetap dapat terbawa hingga kawasan permukiman, termasuk Tenggarong.

“Kondisi yang menyebabkan kerentanan terhadap kesehatan itu tetap harus diperhatikan,” tegasnya.

Dampak terhadap kesehatan tersebut juga menjadi salah satu pertimbangan Pemkab Kukar dalam meniadakan sementara pawai pembangunan yang sedianya digelar di Tenggarong. Keputusan itu tidak hanya mempertimbangkan kondisi cuaca yang panas, tetapi juga munculnya kabut asap akibat karhutla.

Menurut Aulia, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian khusus karena aktivitas luar ruangan dalam cuaca panas dan paparan asap dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada kelompok rentan.

“Selain teriknya matahari, panasnya matahari, itu juga kondisi alam seperti asap ini. Kita khawatir nanti mengganggu sistem pernapasan anak-anak,” pungkasnya.

Pemkab Kukar kini masih mengandalkan pemantauan titik api serta koordinasi lintas instansi untuk menekan dampak karhutla. Di tengah musim kemarau dan meningkatnya potensi kebakaran lahan, pemerintah mengingatkan bahwa penanganan tidak cukup hanya ketika api sudah membesar, tetapi juga perlu dilakukan melalui deteksi dini agar asap tidak semakin meluas ke kawasan permukiman. (moe)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kutai kartanegara