PROKAL.CO, TENGGARONG – Kabut asap mulai menyelimuti Kota Tenggarong di tengah maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang Agustus 2026. Namun saat asap kembali terlihat pekat pada Senin (31/8/2026), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kutai Kartanegara belum memiliki hasil pengukuran kualitas udara terbaru untuk memastikan kondisi udara saat ini.
Kondisi tersebut terjadi ketika aktivitas karhutla di Kukar masih terus berlangsung. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar mencatat 67 kejadian karhutla dengan luas wilayah terdampak mencapai 915,68 hektare sepanjang Agustus 2026.
Asap dari kebakaran mulai dirasakan masyarakat di Tenggarong. Selain membuat langit tampak berkabut, kondisi tersebut juga memengaruhi kenyamanan warga saat beraktivitas di luar ruangan dan mengurangi jarak pandang pengguna jalan.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLHK Kukar, Ahmad Fahruji, mengatakan pengukuran kualitas udara terakhir dilakukan pada 19–25 Agustus 2026 di tiga lokasi di Tenggarong.
Hasil pengukuran saat itu menunjukkan konsentrasi partikulat PM10 dan PM2.5 masih berada di bawah baku mutu. Namun, Ahmad menegaskan data tersebut menggambarkan kondisi saat pengukuran dilakukan, bukan kondisi udara ketika kabut asap kembali tebal pada akhir Agustus.
“Kalau untuk parameter PM10 dan PM2.5, masih parameternya di bawah baku mutu. Ini untuk yang dua minggu yang lalu ya, kita berbicara yang dua minggu yang lalu,” ujarnya.
Dengan demikian, hasil pengukuran tersebut belum dapat digunakan untuk memastikan kualitas udara di Tenggarong pada Senin (31/8/2026). Perubahan kondisi udara dapat dipengaruhi banyak faktor, termasuk sumber asap, arah angin, cuaca, dan kondisi atmosfer.
Ahmad pun mengakui pihaknya belum mengetahui secara pasti kondisi kualitas udara terkini ketika kabut asap kembali terlihat menyelimuti kawasan perkotaan.
“Tapi kita nggak tahu kondisi akhir-akhir ini ya,” katanya.
PM10 dan PM2.5 sendiri merupakan parameter untuk mengukur konsentrasi partikel kecil yang melayang di udara. Partikel PM10 berukuran hingga sekitar 10 mikrometer, sedangkan PM2.5 berukuran hingga sekitar 2,5 mikrometer sehingga dapat masuk lebih jauh ke saluran pernapasan.
Partikulat tersebut dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk asap kebakaran, emisi kendaraan, aktivitas industri, maupun debu. Karena itu, ketebalan kabut yang terlihat secara kasatmata tidak serta-merta menunjukkan kadar PM10 atau PM2.5 tanpa pengukuran menggunakan alat pemantau kualitas udara.
Di tengah belum adanya data terbaru itu, dampak kabut asap mulai dirasakan langsung masyarakat.
Salah satunya seorang warga Tenggarong yang sering berolahraga, Yohannes. Ia menyebut, meluasnya kabut asap di Kota Raja sangat berpengaruh terhadap aktivitas olahragannya. Jika sebelumnya olahraga terasa segar dan bersih, kini justru timbul rasa waswas dalam melakukan aktivitas sehat yang rutin.
"Ya, agak terganggu sih karena biasanya bersih, kok tiba-tiba berkabut seperti itu, asap gitu. Jadi mengganggu aktivitas olahraga,” ucap Yohannes.
Melihat rutinitas sekitar, Yohannes juga menyadari bahwa beberapa orang mulai membatasi olahraganya karena takut terganggu kabut asap ini. Salah satu penyakit yang diwaspadai adalah ISPA, dan Yohannes berharap pemerintah mengambil tindakan tegas. Bukan hanya menangani Karhutla, tetapi juga mengedukasi masyarakat akan marabahaya yang mengikuti kabut asap ini.
"Mungkin aktivitas bisa dibatasi karena kabut ini juga bisa membuat orang-orang yang berolahraga atau orang-orang yang beraktivitas di luar menggunakan masker untuk mengurangi infeksi atau penyakit yang akan mengganggu masyarakat,” tuturnya.
Di sisi lain, seorang warga Tenggarong Seberang bernama Proklananda mengaku sempat mengalami sesak napas ketika berada di luar rumah. Ketika ia melalui Jembatan Kartanegara, Proklananda mengeluhkan mata yang perih.
“Kemarin saya ketiduran di teras rumah, sempat sesak nafas,” ujarnya. (moe)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co