Di Tengah Kabut Asap, Ribuan Warga Kukar Sama-Sama Memanjatkan Doa Meminta Hujan

Elmo Satria Nugraha • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 10:51 WIB
Sholat Istisqa yang digelar Pemkab Kukar (Elmo/Prokal.co)
Sholat Istisqa yang digelar Pemkab Kukar (Elmo/Prokal.co)

 

PROKAL.CO, TENGGARONG – Di tengah kabut asap yang menyelimuti Tenggarong, ribuan warga Kutai Kartanegara (Kukar) dari berbagai agama berkumpul pada Rabu (2/9/2026) pagi dengan satu harapan: hujan segera turun setelah kemarau panjang memicu kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Salat Istisqa yang digelar Pemkab Kukar (Elmo/Prokal.co)
Salat Istisqa yang digelar Pemkab Kukar (Elmo/Prokal.co)

 

Sejak pukul 07.30 hingga 09.00 WITA, doa meminta pertolongan hujan digelar serentak di sejumlah tempat ibadah dan ruang publik. Umat Islam melaksanakan salat Istisqa di Lapangan Kantor Bupati Kukar, sementara umat Kristen berdoa di Taman Tanjong, umat Hindu di Pura Hindu Loa Ipuh, dan umat Buddha di Vihara Timbau.

Pagi itu, kabut asap menjadi bagian dari suasana doa. Sebagian warga mengenakan masker saat mengikuti rangkaian kegiatan sebagai bentuk kewaspadaan terhadap kualitas udara yang terdampak asap karhutla.

Salat Istisqa yang digelar Pemkab Kukar (Elmo/Prokal.co)
Salat Istisqa yang digelar Pemkab Kukar (Elmo/Prokal.co)

 

Di Lapangan Kantor Bupati Kukar, salat Istisqa diikuti ribuan umat Muslim dari berbagai kalangan, mulai aparatur sipil negara (ASN), masyarakat umum hingga pelajar. Hingga Bupati Kukar Aulia Rahman Basri, Sultan Kutai Aji Muhammad Arifin, Kapolres AKBP Khairul Basyar dan Forkopimda. 

Mereka menunaikan salat sunnah meminta hujan di tengah kondisi kemarau yang mulai berdampak pada kehidupan masyarakat.

Salat Istisqa yang digelar Pemkab Kukar (Elmo/Prokal.co)
Salat Istisqa yang digelar Pemkab Kukar (Elmo/Prokal.co)

 

Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan doa bersama tidak hanya dilakukan umat Islam. Agama lain juga melaksanakan doa dengan tujuan yang sama, yakni memohon hujan untuk mengakhiri kemarau panjang.

“Melaksanakan sholat istisqa bersama seluruh warga masyarakat Kabupaten Kutai Kartanegara. Harapan kita, dengan melaksanakan sholat ini, segera diturunkan hujan di Kabupaten Kutai Kartanegara, di seluruh penjuru Kabupaten Kutai Kartanegara,” kata Aulia.

Menurutnya, kemarau panjang telah menimbulkan sejumlah persoalan. Selain karhutla, masyarakat di beberapa wilayah mulai menghadapi kesulitan air bersih, sementara lahan pertanian juga terdampak karena pasokan air tidak seperti biasanya.

“Hari ini, selain umat Muslim, umat agama yang lain juga melakukan doa bersama dengan satu tujuan. Kita berharap hujan segera turun di Kabupaten Kutai Kartanegara akibat dampak dari kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan,” ujarnya.

“Kita melihat terjadi bencana kebakaran, terjadi kesulitan air bersih di beberapa titik, dan sawah-sawah kita juga tidak teraliri air sebagaimana biasanya atau sebagaimana mestinya,” sambung Aulia.

Doa lintas agama tersebut menjadi bagian dari respons Pemkab Kukar menghadapi dampak kemarau yang semakin terasa. Bagi pemerintah, upaya penanganan di lapangan tetap berjalan, namun ikhtiar tersebut juga diiringi doa bersama masyarakat.

“Sekali lagi, harapan kami dengan melaksanakan sholat ini, maka segera diturunkan hujan yang membawa berkah di seluruh warga masyarakat Kabupaten Kukar,” tandasnya.

Di sisi lain, kondisi udara menjadi perhatian pemerintah. Aulia menyebut indeks standar pencemar udara (ISPU) di Kukar berada pada kisaran 100-150, meski menurutnya relatif lebih baik dibanding sejumlah kabupaten/kota lain di Kalimantan Timur.

“Sebenarnya di Kukar itu kalau dibanding dengan kabupaten-kabupaten lain di Kaltim, kita lumayan bagus. Di tempat kita, kita masih di angka 100-150,” jelasnya.

Ia menjelaskan alat pengukur kualitas udara di wilayah Kukar terintegrasi dengan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), dengan sejumlah titik pemantauan berada di Muara Jawa dan Samboja. Kondisi udara di wilayah hulu juga dipengaruhi daerah sekitarnya.

“Tetapi karena memang angkanya ini sudah di atas 50, maka kami menyarankan kepada seluruh warga masyarakat untuk menggunakan alat pelindung diri berupa masker ketika berada di luar ruangan,” ujar Aulia.

Pemkab Kukar juga terus melakukan mitigasi karhutla, termasuk di wilayah Samboja dan Muara Jawa yang sebelumnya sempat terdapat titik api. Aulia menyebut pemadaman telah dilakukan dan laporan terakhir menunjukkan tidak ada lagi titik api di wilayah tersebut.

“Tentunya kita melaksanakan mitigasi. Memang di daerah Samboja, Muara Jawa sempat terjadi titik api, maka kita melakukan pemadaman di sana dan hari ini kami mendapatkan laporan zero titik api di sana,” katanya.

Meski demikian, pemerintah tetap melakukan pemantauan karena kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Kukar tidak seluruhnya berasal dari kebakaran di dalam daerah.

“Dan ini merupakan tetap pemantauan kita karena memang kita mendapatkan limpahan asap dari kabupaten kota lainnya,” pungkasnya.

Dari lapangan doa hingga tempat ibadah, pagi itu warga Kukar menyampaikan permohonan yang sama. Di tengah kemarau, kekeringan dan kabut asap, perbedaan tempat ibadah dan tata cara doa sejenak melebur dalam satu harapan agar hujan segera turun dan membawa kembali air bagi masyarakat serta lingkungan yang terdampak. (moe)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kutai kartanegara