PROKAL.CO, TENGGARONG – Pemandangan di SMP Negeri 3 Tenggarong berbeda pada Kamis (3/9/2026). Ruang kelas tetap diisi para guru, tetapi kursi siswa kosong karena seluruh peserta didik mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dari rumah.
Hari pertama PJJ di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) itu mengingatkan kembali pada pola belajar saat pandemi Covid-19. Bedanya, kali ini pembelajaran daring diterapkan sebagai langkah antisipasi terhadap kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 3 Tenggarong Inawati mengatakan, siswa mengikuti pembelajaran dari rumah, sementara seluruh guru tetap hadir di sekolah untuk mengajar secara daring.
“PJJ itu sebenarnya muridnya aja. Gurunya itu semua di sekolah. Karena ada Zoom, ada yang Google Meet, ada yang di sini, ada yang ke kelas,” ujar Inawati.
Para guru tidak dikumpulkan di satu ruangan. Mereka menempati kelas masing-masing agar suara dari kegiatan pembelajaran daring tidak saling mengganggu.
“Kalau numpuk di sini, di aula terlalu bising. Jadi ke kelas-kelas teman-teman,” katanya.
Pola tersebut relatif mudah dijalankan karena SMPN 3 Tenggarong telah lebih dulu mengembangkan ekosistem pembelajaran berbasis digital.
Setiap siswa dan guru dibekali Chromebook. Ruang kelas juga dilengkapi papan tulis digital, router serta jaringan WiFi yang mendukung aktivitas pembelajaran.
Sekolah yang berada di Jalan Gunung Kombeng Nomor 48, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, itu juga berstatus Kandidat Sekolah Rujukan Google (KSRG) karena menerapkan ekosistem Google for Education dalam proses belajar mengajar.
Pengembangan pembelajaran berbasis teknologi tersebut bahkan pernah menarik perhatian Google Indonesia bersama perwakilan Board of Education Jepang yang datang untuk melihat langsung penerapannya di sekolah.
Dengan fasilitas itu, pelaksanaan PJJ pada hari pertama berjalan relatif lancar. Gangguan hanya sempat terjadi ketika listrik padam, namun berlangsung singkat sehingga pembelajaran dapat kembali dilanjutkan.
Meski teknologi membantu, Inawati mengakui pembelajaran tatap muka masih terasa lebih nyaman bagi guru. Interaksi langsung dinilai membuat guru lebih mudah berkomunikasi sekaligus membaca respons siswa selama proses belajar.
“Lebih enak di sekolah sebenarnya. Kita tidak begitu repot langsung ke kelas, bertatap muka langsung dengan anak, berinteraksi,” ungkapnya.
Namun, sekolah tetap menjalankan kebijakan pemerintah untuk mengantisipasi kondisi udara akibat kabut asap. Guru yang belum terlalu terbiasa dengan teknologi juga mendapat pendampingan dari rekan yang lebih muda.
“Yang kurang teknologi biasanya dibantu teman-teman kami yang muda-muda itu. Kan ada juga angkatan tua,” jelasnya.
Selama PJJ, guru juga diminta memantau aktivitas belajar siswa. Proses pembelajaran didokumentasikan dan dilaporkan melalui grup komunikasi sekolah agar kegiatan belajar dari rumah tetap terpantau.
PJJ sendiri diberlakukan pada 3 hingga 8 September 2026 sebagai langkah antisipasi kondisi kabut asap karhutla yang berdampak terhadap kualitas udara di sejumlah wilayah Kukar.
Bagi SMPN 3 Tenggarong, kebijakan tersebut membuat ruang kelas kembali sepi dari siswa untuk sementara. Namun dengan sistem digital yang telah dibangun sebelumnya, proses belajar tetap berjalan meski guru dan murid berada di tempat berbeda.
“Yang penting pembelajaran tetap berjalan, anak-anak tetap mendapatkan materi, dan kami sebagai guru tetap bisa mendampingi walaupun sementara dilakukan secara daring,” pungkas Inawati. (moe)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co