Danau Melintang Mengering: Dulu Jadi Sumber Hidup, Kini Warganya Harus Mengejar Air dan Ikan

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 13:12 WIB
ilustrasi
ilustrasi

Ada pemandangan yang terasa janggal di kawasan hulu Mahakam, Kalimantan Timur. Danau yang selama bertahun-tahun menjadi sumber kehidupan warga kini perlahan kehilangan wajah aslinya. Permukaan air menyusut, bagian dasar danau mulai terbuka, bahkan beberapa titik terlihat retak-retak akibat terik matahari.

Danau itu adalah Danau Melintang, kawasan perairan yang luasnya mencapai kurang lebih 11.000 hektare di Kecamatan Muara Wis, Kutai Kartanegara. Bagi sebagian orang, danau mungkin hanya terlihat sebagai hamparan air. Namun bagi masyarakat di sekitarnya, tempat ini jauh lebih penting. Danau Melintang adalah tempat mencari ikan, ruang hidup, sekaligus bagian dari keseharian warga yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.

Masalahnya, kondisi Danau Melintang belakangan berubah drastis. Kemarau panjang membuat air terus menyusut. Nelayan harus pergi lebih jauh untuk mendapatkan ikan, sementara harga jual hasil tangkapan justru ikut turun.

Di balik fenomena Danau Melintang mengering, ternyata ada persoalan yang jauh lebih rumit. Bukan cuma soal kemarau, tetapi juga sedimentasi, perubahan penggunaan lahan, hingga ancaman terhadap ekosistem pesut Mahakam.

Danau Melintang Mengering, Kehidupan Nelayan Ikut Terdesak

Kalau membayangkan Desa Melintang pada masa ketika air masih melimpah, suasananya mungkin sulit dipercaya oleh orang yang baru melihat kondisinya sekarang. Rumah-rumah warga di desa ini memiliki keunikan tersendiri karena banyak yang berdiri di atas rakit kayu yang mengapung mengikuti naik-turunnya permukaan air.

Kehidupan masyarakat pun sangat dekat dengan danau. Anak-anak dapat bermain dan berenang di sekitar rumah, sementara nelayan beraktivitas mencari ikan di perairan yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka.

Ada pula istilah lokal merengge, yakni aktivitas menjaring ikan di sekitar rumah. Jadi, nelayan tidak selalu harus pergi jauh untuk mendapatkan hasil tangkapan. Cukup berada di sekitar permukiman, ikan sudah bisa menjadi sumber penghasilan. Namun, situasi tersebut berubah ketika kemarau berkepanjangan datang.

Fenomena El Nino membuat sejumlah sungai yang menjadi pemasok air ke kawasan Danau Melintang ikut menyusut. Dampaknya kemudian terasa langsung di danau. Air semakin surut dan wilayah perairan yang sebelumnya menjadi tempat ikan berkumpul mulai kehilangan kedalamannya.

Sahbana, salah seorang nelayan di Desa Melintang, merasakan perubahan tersebut secara langsung. Menurut pengalamannya, kekeringan yang terjadi belakangan merupakan salah satu yang terparah sejak 2002.

Dulu, ketika air danau surut, kondisinya biasanya tidak berlangsung terlalu lama. Sekitar dua bulan kemudian, air sudah kembali normal. Kini ceritanya berbeda. Air surut lebih jauh dan bertahan lebih lama. Perubahan itu memaksa nelayan mengubah cara mencari nafkah.

Jika sebelumnya Sahbana dapat melempar jaring di sekitar rumah, kini ia harus menggunakan kapal ces menuju Muara Pela. Lokasi tersebut berada di kawasan antara Danau Semayang dan Danau Melintang, tempat yang masih memiliki perairan cukup dalam sehingga ikan lebih mudah ditemukan.
Perjalanan yang sebelumnya sederhana pun berubah menjadi pengeluaran tambahan. Ia membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk menuju lokasi tersebut. Bahan bakar harus disiapkan, sementara hasil tangkapan belum tentu sebanding dengan biaya perjalanan. Masalahnya belum selesai di situ.

Harga ikan yang diperoleh nelayan juga mengalami penurunan. Jika sebelumnya ikan dapat dijual sekitar Rp30 ribu per kilogram, kini harganya bisa berada di kisaran Rp16 ribu per kilogram. Kondisinya terasa semakin berat karena biaya dan tenaga untuk menangkap ikan justru meningkat.
Bagi Sahbana yang memiliki lima anak, situasi tersebut bukan sekadar persoalan ekonomi di atas kertas.

Penghasilan dari menangkap ikan berkaitan langsung dengan kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Ketika ikan semakin sulit dicari dan harga jual turun, ruang gerak keluarga nelayan pun otomatis semakin sempit.

Ternyata Bukan Sekadar Kemarau, Ada Masalah yang Lebih Dalam

Menyebut Danau Melintang mengering hanya karena musim kemarau sebenarnya belum menggambarkan persoalan secara utuh. Ada faktor lain yang sudah berlangsung dalam waktu panjang, salah satunya adalah sedimentasi.

Kajian dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menyebutkan bahwa Danau Melintang dan Danau Semayang mengalami pendangkalan. Material yang terbawa dari Sungai Mahakam beserta anak-anak sungainya terus menumpuk dan membuat dasar danau semakin dangkal.
Gampangnya begini, bayangkan sebuah bak mandi yang perlahan dipenuhi lumpur. Awalnya bak mampu menampung banyak air. Tetapi semakin banyak lumpur menumpuk di dasarnya, semakin sedikit ruang yang tersisa untuk air. Kondisi serupa dapat terjadi di danau.

Sedimentasi yang mencapai ratusan ribu meter kubik setiap tahun membuat kemampuan alami danau untuk menyimpan air semakin berkurang. Dampaknya bisa terasa dalam dua kondisi yang kelihatannya bertolak belakang.

Saat musim hujan, danau yang semakin dangkal lebih mudah kehilangan kemampuan menampung air sehingga risiko luapan dan banjir di sepanjang aliran Mahakam dapat meningkat. Sebaliknya, ketika kemarau datang, cadangan air menjadi lebih cepat menyusut karena kapasitas tampung danau sudah tidak seperti sebelumnya. Persoalan sedimentasi juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi kawasan di sekitar daerah aliran sungai.
Perubahan penggunaan lahan, termasuk perluasan perkebunan dan aktivitas pertambangan, disebut menjadi salah satu faktor yang ikut memengaruhi kondisi kawasan hulu. Ketika tutupan hutan berkurang dan fungsi kawasan sebagai penyangga air terganggu, material tanah lebih mudah terbawa menuju sungai.

Dampaknya tidak berhenti di kawasan hulu. Material tersebut dapat bergerak mengikuti aliran sungai dan ikut menumpuk di wilayah danau.

Artinya, persoalan Danau Melintang bukan hanya tentang bagaimana mendatangkan air ketika danau sedang surut. Ada pekerjaan rumah yang jauh lebih besar, yaitu menjaga kawasan hulu, mengendalikan sedimentasi, serta memastikan fungsi ekologis sungai dan danau tetap berjalan.
Kalau akar masalahnya tidak disentuh, hujan memang mungkin membuat Danau Melintang kembali terisi. Namun, pemulihan itu belum tentu cukup untuk mengembalikan kondisi danau seperti sebelumnya.

Pesut Mahakam Ikut Terancam Saat Habitatnya Berubah

Ketika membicarakan Danau Melintang, ada satu penghuni penting yang tidak boleh dilupakan yakni pesut Mahakam. Mamalia air tawar yang keberadaannya semakin langka tersebut memiliki hubungan erat dengan kawasan perairan di sekitar Danau Melintang dan Danau Semayang. Wilayah ini menjadi salah satu tempat bagi pesut untuk mencari makan.

Karena itu, perubahan kondisi danau bukan hanya berdampak pada nelayan. Ketika air menyusut dan ekosistem perairan mengalami tekanan, rantai kehidupan di dalamnya juga dapat ikut terganggu. Berkurangnya wilayah perairan yang sesuai untuk kehidupan ikan pada akhirnya bisa memengaruhi ketersediaan makanan bagi pesut.

Di sinilah persoalannya menjadi semakin serius. Pesut Mahakam bukan sekadar satwa yang menarik untuk dilihat. Keberadaannya sudah menjadi salah satu identitas Kalimantan Timur. Hewan ini sering menjadi bagian dari cerita tentang sungai dan kehidupan perairan Mahakam.

Namun, identitas tersebut bisa menghadapi masa depan yang tidak mudah jika habitatnya terus mengalami tekanan. Bayangkan jika suatu hari generasi mendatang hanya mengenal pesut Mahakam dari foto, video, atau cerita orang-orang yang pernah melihatnya secara langsung.
Tentu tidak ada yang menginginkan skenario seperti itu. Karena itu, menjaga Danau Melintang sebenarnya bukan cuma soal menyelamatkan satu kawasan perairan. Menjaga danau berarti ikut mempertahankan ekosistem yang menjadi rumah bagi berbagai jenis ikan dan satwa, termasuk pesut Mahakam.

Pada saat yang sama, perlindungan danau juga berarti menjaga kehidupan masyarakat yang selama ini bergantung pada hasil perairannya.

Warga Tetap Bertahan, Tapi Danau Melintang Tak Bisa Dibiarkan Sendirian

Di tengah kondisi yang serba sulit, masyarakat Desa Melintang tetap berusaha bertahan. Sahbana, misalnya, tetap pergi mencari ikan meskipun harus menempuh perjalanan lebih jauh dan mengeluarkan biaya bahan bakar tambahan. Bahkan dalam kondisi tertentu, ia harus meminjam uang terlebih dahulu agar bisa tetap berangkat mencari penghasilan.

Ada satu hal sederhana yang membuat perjuangannya terasa kuat, selama tubuh masih sehat dan masih mampu bekerja, harapan untuk mendapatkan penghasilan tetap ada.

Namun, ketangguhan warga seharusnya tidak menjadi alasan untuk membiarkan mereka menghadapi persoalan ini sendirian. Permintaan agar pemerintah turun tangan membantu masyarakat Melintang bukanlah permintaan yang berlebihan. Warga hanya berharap ada perhatian nyata terhadap kondisi danau serta dampak yang mereka rasakan setiap hari.

Sebab mereka bukan orang yang baru datang ketika Danau Melintang menjadi perhatian. Mereka sudah hidup berdampingan dengan kawasan tersebut selama bertahun-tahun.
Mereka tahu kapan air naik, kapan air surut, di mana ikan biasanya berkumpul, dan bagaimana perubahan danau memengaruhi kehidupan sehari-hari. Karena itu, kondisi Danau Melintang mengering seharusnya menjadi alarm bagi banyak pihak.

Kemarau memang akan berlalu. Hujan juga pada akhirnya akan turun. Bukan tidak mungkin permukaan Danau Melintang kembali naik ketika musim penghujan tiba. Tetapi persoalan besarnya tetap ada.
Jika sedimentasi terus terjadi, kawasan hulu terus kehilangan fungsi penyangganya, dan penggunaan lahan tidak dikelola dengan baik, maka danau akan semakin sulit mempertahankan fungsi alaminya.
Hari ini mungkin nelayan harus pergi lebih jauh untuk mencari ikan. Besok, tantangannya bisa menjadi lebih besar jika kondisi ekosistem terus menurun.

Danau Melintang bukan sekadar hamparan air seluas sekitar 11.000 hektare. Di sana ada rumah-rumah rakit, aktivitas nelayan, tradisi mencari ikan, keluarga yang menggantungkan penghasilan pada perairan, serta ekosistem yang menjadi habitat berbagai makhluk hidup.
Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan sekadar kapan Danau Melintang kembali penuh air?
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah sampai kapan danau ini mampu bertahan jika penyebab kerusakannya tidak dibenahi?

Hujan mungkin bisa mengembalikan air. Tetapi hanya pengelolaan lingkungan yang serius yang bisa membantu memastikan Danau Melintang tetap menjadi sumber kehidupan untuk masyarakat dan ekosistem di sekitarnya.

Jika tidak, bukan tidak mungkin suatu hari nanti yang tersisa dari kejayaan danau ini hanyalah cerita lama tentang rumah-rumah yang dulu mengapung, nelayan yang dulu cukup melempar jaring dari depan rumah, dan pesut Mahakam yang pernah berenang bebas di perairannya. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
danau melintang