Manunggal Raja dan Rakyat di Erau 2026, Tenggarong Siap Sambut Pesta Budaya Berkelas Nasional

Elmo Satria Nugraha • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 20:54 WIB
Rapat persiapan finalisasi Erau 2026 yang dilaksanakan Pemkab bersama Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura (Elmo/Prokal.co)
Rapat persiapan finalisasi Erau 2026 yang dilaksanakan Pemkab bersama Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura (Elmo/Prokal.co)

PROKAL.CO, TENGGARONG - Langkah derap persiapan pesta adat terbesar di Tanah Kutai kian dimatangkan di Sekretariat Panitia Erau, Tenggarong. Rapat akbar digelar guna memastikan seluruh rangkaian sakral dan kemeriahan rakyat berjalan tanpa celah menjelang pembukaan pada 20 September 2026.

Suasana khidmat bercampur antusiasme terasa kental saat jajaran Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara bersama perwakilan Kesultanan duduk satu meja. Agenda utama rapat akbar ini menegaskan komitmen melestarikan marwah adat sekaligus mengemas perhelatan dengan standar Karisma Event Nusantara (KEN). 

Secara historis, Erau berakar dari kata bahasa Kutai "eroh" yang berarti suasana penuh sukacita, riuh, dan ramai dalam balutan ritual sakral. Bermula dari upacara penobatan para raja Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, tradisi ini kini bertransformasi menjadi festival budaya nasional yang menggerakkan ekonomi kreatif dan mempererat kohesi sosial masyarakat. 

Ritual luhur ini memegang teguh filosofi manunggal raja dan rakyat, yang merefleksikan kebersamaan hangat antara pemimpin dan masyarakatnya. Rangkaian upacaranya juga menyiratkan keharmonisan kosmis antara manusia dan alam semesta, sebuah warisan akulturasi nilai Hindu-Buddha yang berpadu selaras dengan ajaran Islam. 

Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri memimpin langsung rapat koordinasi final untuk memastikan seluruh persiapan dari tanggal 20 hingga 28 September berjalan mulus tanpa kendala. 

"Erau merupakan kegiatan besar di Kabupaten Kutai Kartanegara. Erau adalah milik seluruh masyarakat, dan melalui perhelatan ini kita menjaga adat istiadat serta budaya para leluhur," tegas Bupati Aulia Rahman Basri saat memimpin rapat di Sekretariat Panitia, Selasa (15/9/2026).

Ia menambahkan bahwa pihak Kementerian Pariwisata telah mengonfirmasi kehadiran, sementara konfirmasi kehadiran Kementerian Kebudayaan masih terus dimatangkan. Seluruh susunan acara seremonial maupun ritual adat dipastikan tetap setia pada pakem tradisi yang diwariskan turun-temurun. 

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar, Heriansyah, menjelaskan bahwa status Erau sebagai bagian dari Karisma Event Nusantara menuntut penerapan standar manajemen acara yang jauh lebih disiplin. Kebersihan arena, mitigasi bencana, hingga dampak ekonomi bagi pelaku usaha mikro menjadi tolok ukur utama kementerian. 

"Erau tahun ini berbeda karena sudah masuk Karisma Event Nusantara, sehingga ada target dan standar tertentu yang harus dipenuhi. Mulai dari penanganan sampah agar tidak berserakan, mitigasi risiko bencana, hingga dampak omzet UMKM yang harus terukur jelas," ujar Heriansyah. 

Heriansyah menambahkan, panitia juga menyiapkan narasi dwibahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, agar pesan budaya dapat dipahami wisatawan mancanegara. Untuk persiapan fisik kegiatan sakral, progresnya telah melampaui 90 persen di lapangan. 

Menjelang hari pembukaan, Yang Mulia Sultan Aji Muhammad Arifin telah melangsonkan sejumlah ritual pendahulu, termasuk ziarah ke makam raja-raja di kompleks Museum Mulawarman dan makam para leluhur di Desa Kutai Lama, disusul dengan prosesi sakral Pesawai.
Menjaga Pantangan Suci Leluhur Salah satu daya tarik spiritual yang senantiasa dihormati warga adalah adat Sultan yang berpantang menginjak tanah selama masa sakral Erau berlangsung. Aturan adat berusia ratusan tahun ini dipatuhi dengan penuh ketulusan oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-21, Sultan Aji Muhammad Arifin. 

"Menginjakkan kaki ke tanah itu dimulai berpantang dari saat mendirikan Tiang Ayu di istana atau Kedaton Museum, sampai berakhirnya Tiang Ayu dirobohkan. Selama masa tersebut, kalau kita berada di rumah ya di rumah, tetapi kalau ke istana kita berjalan menggunakan bentangan kain kuning," tutur Sultan Aji Muhammad Arifin dengan tenang.
Bagi sang Sultan, memelihara laku prihatin tersebut merupakan wujud bakti menjaga amanah para pendahulu yang tidak boleh lekang oleh perkembangan zaman. 

"Namanya adat, kita tidak bisa mengubahnya dari zaman dahulu karena ini warisan nenek moyang. Sampai sekarang tetap dijalankan dan diteruskan kepada anak cucu kita, itu yang paling penting," pungkas Sultan Aji Muhammad Arifin.

Perhelatan Erau Adat Kutai 2026 bukan sekadar pesta kemeriahan, melainkan ruang perjumpaan sakral di mana raja menjamu rakyatnya dengan penuh ketulusan dan martabat budaya yang terus hidup. (moe)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kutai kartanegara