PROKAL.CO, TENGGARONG – Tanah di sekitar permukiman warga Desa Kahala, Kecamatan Kenohan, Kutai Kartanegara (Kukar), terus terkikis akibat abrasi di tengah kemarau berkepanjangan. Sedikitnya empat rumah warga terdampak, dengan dua di antaranya roboh total dalam semalam.
Dua rumah tersebut roboh pada Senin (14/9/2026) malam. Satu rumah lainnya mengalami kerusakan hingga sebagian bangunan roboh, sementara satu rumah masih berdiri namun berada dalam kondisi rawan karena tanah penopangnya terus terkikis.
Salah satu pemilik rumah, Siti Maisarah, mengatakan tanda-tanda pergeseran tanah sudah terlihat sekitar sepekan sebelum rumah roboh. Retakan yang awalnya kecil perlahan melebar setiap hari.
“Sudah semingguan kayaknya, tanahnya pecah-pecah. Kecil-kecil saja pecah-pecahnya, tapi tiap harinya makin besar,” kata Siti saat dikonfirmasi, Selasa (15/9/2026).
Melihat kondisi tersebut, warga mulai memindahkan barang-barang dari rumah yang dinilai berisiko. Namun, tidak seluruh barang berhasil diselamatkan sebelum bangunan roboh.
Siti mengatakan saat rumah roboh, tidak ada orang di dalamnya. Namun, masih terdapat sejumlah barang yang belum sempat dipindahkan karena proses evakuasi dilakukan bertahap.
“Kejadiannya tadi malam habis Isya sudah tidak orang di rumah, tapi masih banyak barang-barang yang belum sempat diselamatkan. Padahal siang kemarin kami masih angkut-angkut barang,” ujarnya.
Kerusakan bangunan sebelumnya juga mulai terlihat. Bagian tengah rumah disebut mengalami penurunan hingga membuat struktur bangunan tampak seperti akan terlipat.
“Jadi di bagian dapur yang nggak sempat diselamatkan. Kalau tanda-tandanya, kayak di rumah kami itu di tengahnya turun, kayak rumahnya mau terlipat gitu,” sebutnya.
Sebelum roboh, warga juga mendengar suara dari bangunan yang menurut Siti menyerupai suara akar pohon putus. Suara tersebut disebut terdengar selama dua malam.
“Sudah dua malam kata orang, rumah itu mengeluarkan suara kayak akar-akar putus gitu. Jadi malam itu langsung saja dia roboh. Dua rumah,” tegasnya.
Dua rumah kini roboh sepenuhnya, sedangkan rumah di sebelahnya mengalami kerusakan pada sebagian bangunan. Satu rumah lainnya masih berdiri, tetapi berada di kawasan yang tanahnya terus mengalami abrasi.
Menurut Siti, abrasi di sekitar permukiman tersebut bukan kali pertama terjadi. Kondisi serupa sebelumnya juga pernah terjadi di sekitar lokasi rumah warga.
“Dulu pernah juga terjadi dekat sananya rumah kami,” katanya.
Pasca kejadian, warga bersama perangkat lingkungan melakukan pendataan dan melaporkan kondisi tersebut kepada pemerintah setempat.
Warga juga menyiapkan lokasi untuk menyambut tim yang akan melakukan identifikasi dan penanganan tanggap darurat di kawasan terdampak.
“Sore ini kami mendirikan tribun untuk menyambut tim identifikasi tanggap darurat,” ujarnya.
Siti berharap kondisi abrasi yang mengancam permukiman warga segera mendapat penanganan. Selain penanganan di lokasi, warga juga berharap pemerintah memberikan bantuan bagi masyarakat yang rumahnya terdampak.
"Harapannya bisalah dapat segera ditangani, mungkin sejenis bantuan dari pemerintah,” tutupnya. (moe)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co