PROKAL.CO, TENGGARONG – Upaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Dusun Bengkinang, Kelurahan Loa Tebu, Tenggarong, hingga Rabu (16/9/2026) mendorong Pemkab Kutai Kartanegara (Kukar) menyiapkan langkah pencegahan yang lebih tegas.
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengusulkan agar lahan yang pernah terbakar tidak langsung dapat digunakan untuk aktivitas perekonomian dalam jangka waktu tertentu. Kebijakan itu dinilai dapat mendorong pemilik lahan lebih aktif menjaga arealnya dari ancaman kebakaran.
“Karhutla ini harus bisa kita cegah. Salah satu yang kami usulkan adalah di atas lahan yang mengalami kebakaran tidak boleh ada aktivitas perekonomian, baik pertanian, perkebunan, maupun pertambangan, selama jangka waktu tertentu,” kata Aulia saat diwawancarai, Rabu (16/9/2026).
Menurutnya, apabila aktivitas usaha tetap dilakukan di lahan yang baru saja terbakar, terdapat risiko pemilik lahan tidak memiliki dorongan kuat untuk mencegah terjadinya kebakaran.
Ia mencontohkan, lahan yang terbakar hari ini bisa saja kembali direncanakan untuk ditanami atau dimanfaatkan sebagai lokasi usaha dalam waktu dekat.
“Kalau ada aktivitas di atas lahan yang terbakar dalam masa tersebut, mungkin bisa diberikan sanksi hukum. Dengan cara seperti itu, setiap orang akan lebih peduli untuk mengawal dan menjaga lahannya,” ujarnya. Aulia menyebut masa larangan tersebut dapat diterapkan, misalnya, selama tiga tahun. Dengan begitu, pemilik lahan memiliki konsekuensi langsung apabila arealnya sampai terbakar.
“Kalau upaya kita hanya berbentuk represif, seribu satu cara pasti akan dilakukan untuk menghindari aturan. Tetapi kalau ada kebijakan atau regulasi yang memayungi bahwa setiap lahan yang terbakar tidak boleh digunakan untuk aktivitas usaha, misalnya selama tiga tahun, menurut hemat kami orang akan lebih menjaga lahannya,” jelasnya.
Usulan tersebut muncul setelah Aulia ikut turun langsung memadamkan karhutla di Bengkinang, Loa Tebu, pada Selasa (15/9/2026).
Ia mengatakan mendapat laporan bahwa api di kawasan tersebut belum berhasil dipadamkan. Aulia kemudian datang untuk melihat kondisi di lapangan sekaligus membantu proses pemadaman bersama Damkar, BPBD, TNI, Polri, masyarakat, serta badan usaha di sekitar lokasi.
“Kami kembali bisa merasakan betapa beratnya perjuangan yang dilakukan teman-teman kita di lapangan. Karena itu, kami merasa upaya untuk mencegah karhutla harus lebih kuat lagi,” katanya. Proses pemadaman berlangsung hingga malam. Luasan lahan yang terbakar di lokasi tersebut diperkirakan mencapai tiga hingga empat hektare.
Kesulitan pemadaman, kata Aulia, salah satunya terjadi karena keterbatasan peralatan. Saat berada di lokasi, panjang selang yang tersedia belum mampu menjangkau seluruh titik api.
Kondisi gambut dan kepulan asap juga membuat proses pemadaman semakin berat. Api bahkan dapat kembali muncul di lokasi yang sebelumnya sudah disiram.
“Kemarin misalnya, kita mengalami keterbatasan selang sehingga tidak sampai ke titik api. Belum lagi kuatnya asap. Kawasan gambut juga sangat sulit ditangani. Sebelah kiri kita siram, sebelah kanan muncul api. Setelah selesai menyiram sebelah kiri dan kita beralih ke kanan, api di sebelah kiri muncul lagi karena tertiup angin,” paparnya.
Karena itu, Aulia menilai pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan penindakan setelah kebakaran terjadi. Kesadaran pemilik lahan untuk menjaga arealnya juga perlu diperkuat melalui kebijakan. Ia mengatakan usulan tersebut tengah coba disuarakan melalui anggota DPR RI dan pihak terkait lainnya agar dapat menjadi bahan kebijakan ke depan.
Sementara terkait penyebab kebakaran di Bengkinang, Aulia mengatakan pihak kepolisian telah turun melakukan penyelidikan. Hal itu dilakukan untuk mengetahui apakah kebakaran terjadi secara alami atau terdapat unsur kesengajaan.
“Seperti kejadian kemarin, kebakarannya persis berada di sebelah perkebunan kelapa sawit. Kita tidak tahu apakah ini betul-betul terbakar secara alami atau seperti apa. Teman-teman Polres juga sudah turun ke lapangan untuk melakukan penyelidikan dan melihat apakah ini murni kebakaran atau ada unsur kesengajaan,” ungkapnya.
Aulia juga mengajak media untuk ikut menyuarakan kondisi penanganan karhutla di lapangan. Menurutnya, beratnya proses pemadaman perlu menjadi perhatian bersama, terutama bagi masyarakat yang memiliki lahan.
“Karena itu, awareness dan kepekaan, utamanya dari orang-orang yang memiliki lahan, harus lebih ditingkatkan. Caranya adalah dengan membuat aturan seperti itu,” tandasnya. Di sisi lain, kondisi kabut asap di Tenggarong pada Rabu ini semakin parah. Terpantau hingga sore, kabut asap tebal menyelimuti Kota Raja. Sebagian besar masyarakat menjalani aktivitas mereka menggunakan masker dan kacamata sedari pagi. (moe)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co