Bupati Aulia Ajak GMNI Terlibat Rumuskan Solusi Karhutla di Kaltim

Elmo Satria Nugraha • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 18:15 WIB
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri membuka Konferda GMNI Kaltim (Elmo/Prokal.co)
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri membuka Konferda GMNI Kaltim (Elmo/Prokal.co)

PROKAL.CO, TENGGARONG – Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Aulia Rahman Basri mengajak kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) tidak berhenti pada dinamika organisasi. Ia mendorong gerakan mahasiswa ikut memikirkan persoalan daerah, termasuk mencari rumusan kebijakan untuk menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pesan itu disampaikan Aulia saat menerima pelaksanaan Konferensi Daerah (Konferda) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) GMNI Kalimantan Timur di Pendopo Odah Etam, Jumat (18/9/2026).

Menurut Aulia, organisasi kemahasiswaan merupakan ruang penting untuk membentuk calon pemimpin. Karena itu, ilmu dan pengalaman sebagai aktivis semestinya digunakan untuk mempersiapkan masa depan bangsa, negara, dan daerah.

“Jangan ilmu aktivis kita gunakan malah untuk membungkam gerakan-gerakan mahasiswa. Akan tetapi, ilmu aktivis yang sudah kita terima, gunakanlah itu untuk mempersiapkan masa depan bangsa dan negara serta daerah kita untuk menjadi lebih baik lagi,” katanya.

Aulia juga menyebut pengalaman berorganisasi sebagai proses yang dapat membentuk kepemimpinan. Ia bahkan meyakini sebagian peserta Konferda GMNI Kaltim hari ini kelak akan mengisi posisi strategis di pemerintahan.

“Kami yakin dan percaya, suatu hari yang menjadi gubernur, yang menjadi bupati, yang menjadi wali kota di Kalimantan Timur ini adalah salah satu di antara orang-orang yang duduk di hadapan saya,” ujarnya.

Ia berharap sikap pemerintah daerah terhadap gerakan mahasiswa juga dapat menjadi contoh bagi para aktivis ketika kelak memegang jabatan publik.

“Kami merasa Bapak Ibu sekalian bisa berada di posisi ini karena kami berproses seperti teman-teman sekalian,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Aulia secara khusus menitipkan persoalan karhutla kepada GMNI. Menurut dia, kondisi Kalimantan Timur saat ini menunjukkan perlunya pendekatan kebijakan yang tidak hanya mengandalkan tindakan setelah kebakaran terjadi.

“Utamanya Bapak Ibu sekalian yang kami hormati, di tengah kondisi hari ini kita melihat situasi Kalimantan, termasuk Kalimantan Timur, itu tidak baik lagi. Asap ada di mana-mana, kebakaran hutan ada di mana-mana,” ucapnya.

Aulia mengaku pengalamannya turun langsung memadamkan karhutla membuatnya melihat besarnya energi dan sumber daya yang dibutuhkan untuk menangani kebakaran di lapangan. Api yang sudah dipadamkan dapat kembali muncul ketika arah angin berubah.

“Kalau sudah memadamkan api, effort-nya sangat luar biasa. Energinya sangat luar biasa. Siang di kiri, nyala di kiri. Sudah mati, kita pindah ke mana angin,” katanya.

Dari pengalaman tersebut, Aulia menilai perlu ada rumusan kebijakan yang lebih kuat untuk mencegah lahan yang telah terbakar kembali dimanfaatkan untuk aktivitas ekonomi dalam waktu tertentu.

Ia mengusulkan agar GMNI mengkaji gagasan tersebut dan mendorongnya menjadi rekomendasi kebijakan yang lebih luas.

“Pak Ketum, kami titip pesan nanti yang bisa disuarakan, sambil mengusulkan. Bapak Ibu sekalian, ada rumusan kebijakan yang menyatakan bahwa di atas lahan yang terbakar itu tidak boleh ada aktivitas perekonomian untuk rentang waktu tertentu,” ujarnya.

Menurut Aulia, kebijakan semacam itu perlu dikaji lebih dalam. Ia mencontohkan kondisi yang ditemuinya di lapangan, ketika lahan yang terbakar setelah beberapa waktu kembali ditanami.

“Hari ini fakta di lapangan kita lihat. Kalau kita lihat terbakar, kita tunggu dua atau tiga bulan, berdiri dan tumbuh sawit di atas,” katanya.

Ia berharap GMNI, dengan jaringan organisasi hingga tingkat pusat serta para senior yang berada dalam lingkar pengambil kebijakan, dapat mengkaji persoalan tersebut dan menghasilkan rekomendasi.

“Mungkin teman-teman, supaya lebih dalam untuk bisa mengkaji ini, bisa membuat menjadi suatu rumusan kebijakan sehingga kebakaran hutan yang selama ini selalu menghantui kita,” terang Aulia.

Aulia juga menilai penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada tindakan represif terhadap pihak yang diduga melakukan pembakaran. Menurut dia, perlu dipikirkan mekanisme yang mengatur pemanfaatan lahan pascakebakaran.

Ia mengatakan, jika gagasan tersebut hanya dituangkan dalam peraturan kepala daerah, kekuatan hukumnya dinilai belum cukup untuk menjangkau persoalan yang lebih luas.

“Kami sudah mengkaji kalau ini hanya dalam bentuk Perbup atau Perbukit, itu kekuatan hukumnya tidak memiliki kekuatan hukum yang kuat,” jelasnya.

Karena itu, ia mendorong hasil kajian GMNI nantinya dapat berkembang menjadi rekomendasi yang dapat dipresentasikan kepada pihak-pihak terkait dan menjadi bahan pembentukan kebijakan di tingkat yang lebih tinggi.

Di sisi lain, Aulia meminta dinamika dalam Konferda tetap menjadi bagian dari proses organisasi tanpa menghilangkan persatuan setelah forum berakhir. Ia mengibaratkan proses pemilihan dalam konferensi seperti pertandingan sepak bola.

“Selama 90 menit di lapangan, silakan keluarkan jurus tercanggih yang teman-teman punya. Tapi kalau pertandingan sudah berakhir, terpilih siapa pun, mari kita rapatkan barisan, kita bekerja lagi,” katanya.

Ia juga menegaskan Pemkab Kukar terbuka mendukung kegiatan gerakan mahasiswa di daerah, termasuk GMNI dan organisasi kemahasiswaan lainnya.

“Selama itu kegiatan gerakan mahasiswa di seluruh Kutai Kartanegara, selalu siap untuk kami dukung. Bukan hanya untuk teman-teman dari organisasi tertentu, tetapi juga untuk teman-teman GMKI, PMI, dan teman-teman organisasi lainnya. Selama itu merupakan bagian dari gerakan kemahasiswaan, insyaallah Kutai Kartanegara selalu siap,” tandasnya.

Aulia pun mengajak para peserta konferensi tidak hanya mencari dirinya di kantor ketika ingin berdiskusi. Ia mengatakan aktivitas pemerintah saat ini juga banyak dilakukan langsung di lapangan, termasuk dalam penanganan karhutla dan persoalan pertanian.

“Harapan kami, kawan-kawan kalau tidak ditemukan di kantor, cari kami ke hutan-hutan, cari kami di sawah-sawah. Untuk kita sama-sama melihat,” tuturnya.

Menutup sambutannya, Aulia berharap Konferda GMNI Kaltim tidak hanya menghasilkan kepemimpinan baru di internal organisasi, tetapi juga gagasan yang dapat berkontribusi bagi pembangunan daerah.

“Kami sadar bahwa membangun sumber daya manusia untuk membangun bangsa kita tidak hanya membangun bangunan fisik semata, akan tetapi juga membangun sumber daya manusia, yaitu dengan cara membangun generasi ke depan yang berkarakter, intelektual, kritis, dan solutif untuk Indonesia yang lebih baik, Kalimantan Timur yang lebih baik, tentunya Kutai Kartanegara yang lebih baik,” pungkasnya. (adv/moe)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kutai kartanegara