Erau Adat Kutai Menembus KEN 2026, Warisan Raja dan Rakyat Dibawa ke Panggung Nasional

Elmo Satria Nugraha • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 18:29 WIB
Pembukaan Erau Adat Kutai 2026 (Elmo/Prokal.co)
Pembukaan Erau Adat Kutai 2026 (Elmo/Prokal.co)

PROKAL.CO, TENGGARONG – Dari halaman Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura hingga Stadion Rondong Demang, Erau Adat Kutai 2026 membawa satu pesan yang sama: tradisi yang lahir dari tanah Kutai kini melangkah ke panggung yang lebih luas.

Minggu (20/9/2026), rangkaian Festival Budaya Erau Adat Kutai 2026 resmi dibuka di Stadion Rondong Demang, Tenggarong. Tahun ini, Erau tidak hanya menjadi perayaan adat dan budaya masyarakat Kutai Kartanegara, tetapi juga masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

Erau menjadi salah satu dari 125 event terpilih KEN 2026 dari 38 provinsi di Indonesia. Kementerian Pariwisata menyebut KEN sebagai program untuk memperkuat event daerah sebagai daya tarik pariwisata nasional sekaligus mendorong dampak ekonomi bagi masyarakat.

Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata Wilayah II (Kalimantan) Kementerian Pariwisata, Dwi Marhen Yono, menyebut masuknya Erau ke dalam KEN menjadi kebanggaan tersendiri.

Pembukaan Erau Adat Kutai 2026 (Elmo/Prokal.co)
Pembukaan Erau Adat Kutai 2026 (Elmo/Prokal.co)

“Kami dari Kementerian Pariwisata hari ini sangat bangga dengan Erau Adat Kutai Kartanegara. Dari ribuan event yang masuk untuk kami kurasi menjadi Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, Erau Adat Kutai Kartanegara masuk dalam 125 event,” kata Dwi Marhen.

Bagi Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri, masuknya Erau dalam KEN bukan sekadar pengakuan terhadap sebuah festival. Lebih jauh, tradisi yang selama ini hidup di tengah masyarakat Kutai mendapat ruang untuk dikenal sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

“Erau Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ini adalah warisan budaya tak benda, sekaligus rangkaian acara ritual adat lawas di Tanah Kutai yang terus lestari dari satu generasi ke generasi berikutnya,” kata Aulia dalam sambutannya.

Perjalanan menuju panggung nasional itu tetap dimulai dari pusat tradisinya: Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Pembukaan Erau Adat Kutai 2026 (Elmo/Prokal.co)
Pembukaan Erau Adat Kutai 2026 (Elmo/Prokal.co)

 

Sebelum masyarakat menyaksikan seremoni pembukaan di stadion, rangkaian adat telah lebih dahulu bergerak melalui prosesi di lingkungan Kedaton. Salah satunya pendirian Pinang Ayu yang menjadi bagian penting dari rangkaian sakral Erau.

Dalam jadwal Erau 2026, pendirian Pinang Ayu berlangsung pada pagi hari di Keraton sebelum rangkaian seremonial pembukaan. Prosesi sakral tersebut kemudian dilanjutkan dengan tahapan adat lainnya sepanjang 20-27 September 2026.

Dari Kedaton, suasana kemudian bergeser ke Stadion Rondong Demang. Di tempat inilah wajah Erau yang lebih terbuka kepada masyarakat dan pengunjung ditampilkan.

Pembukaan dilakukan bersama Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI Aji Muhammad Arifin, Bupati Kukar Aulia Rahman Basri, Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin, Dwi Marhen Yono, serta unsur Forkopimda. Hadir pula Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman dan Wakil Bupati Barito Timur Adi Mula Nakalelu.

Pembacaan Sabda Pandita Sultan menjadi salah satu bagian penting dalam pembukaan. Setelah itu, dentuman gong dan pembakaran Brong menandai dimulainya rangkaian Festival Budaya Erau Adat Kutai 2026.

Prosesi kemudian beralih menjadi pertunjukan budaya. Salah satu yang mencuri perhatian ialah tari kolosal yang dipersembahkan Seraong dengan tema “Penjaga Tahta di Tepian Mahakam”.

Di atas panggung, sejarah, simbol kerajaan dan kehidupan masyarakat Kutai dirangkai menjadi sebuah pertunjukan. Namun di balik kemeriahan tersebut, Erau tetap membawa lapisan tradisi yang jauh lebih tua daripada sebuah festival pariwisata.

Erau memang bukan rangkaian pertunjukan yang muncul tiba-tiba di panggung stadion. Tradisinya berlangsung melalui tahapan yang saling terhubung, mulai dari prosesi menjelang Erau, Beluluh, pendirian Pinang Ayu, Bepelas hingga Mengulur Naga dan Belimbur sebagai salah satu puncak rangkaian.

Karena itu, Aulia mengingatkan agar peningkatan status Erau sebagai event nasional tidak membuat akar tradisinya justru terlepas.

“Erau bukan sekadar pesta adat tahunan atau tontonan budaya. Erau adalah simpul warisan leluhur, fondasi identitas, dan mata rantai peradaban Kutai yang melintasi zaman,” tegasnya.

Menurut Aulia, nilai yang dibawa Erau tidak hanya mengenai adat, tetapi juga penghormatan kepada leluhur, kesetiaan terhadap tradisi, kebersamaan masyarakat serta hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.

Ia ingin generasi muda Kutai tidak hanya mengenal Erau dari dokumentasi sejarah. Mereka harus melihat langsung, memahami prosesi serta mengerti nilai yang terkandung di dalamnya.

“Tugas kita bukan sekadar menyelenggarakan Erau sebagai agenda penarik wisatawan, melainkan menjaga ruhnya, memelihara keaslian tata cara adatnya, dan menguatkan relevansi nilai-nilainya di era modern,” ujarnya. Dari sisi Kementerian Pariwisata, Dwi Marhen melihat masuknya Erau dalam KEN juga harus bermuara pada manfaat yang dirasakan masyarakat.

Ia menyebut berdasarkan kerja sama Kementerian Pariwisata dengan Litbang Kompas terhadap 125 event KEN pada 2025, total perputaran ekonomi yang tercatat mencapai Rp7,1 triliun. “Tahun kemarin kami bekerja sama dengan teman-teman Litbang Kompas. Dari 125 event selama tahun 2025, ternyata perputaran ekonominya cukup besar, mencapai Rp7,1 triliun,” katanya.

Karena itu, ia berharap Erau mampu menciptakan dampak serupa bagi masyarakat Kukar, termasuk pelaku seni, budaya, UMKM dan sektor pariwisata. “Mudah-mudahan tahun depan juga bisa masuk lagi, karena tujuan kami melakukan kurasi adalah agar event tersebut memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat,” ujarnya.

Harapan tersebut sejalan dengan arah Pemkab Kukar. Selain rangkaian adat, Erau 2026 juga dirangkai dengan ekspo, bazar, UMKM dan pentas seni di kawasan Stadion Rondong Demang. Aulia berharap aktivitas tersebut membuat perputaran ekonomi ikut bergerak selama pelaksanaan Erau.

“Sebagai bagian dari upaya kita meningkatkan perekonomian di Kutai Kartanegara, Erau ini juga kita laksanakan secara seremonial dengan pelaksanaan ekspo di halaman parkir Stadion Rondong Demang,” katanya. “UMKM banyak sekali yang terlibat di sana dan kita berharap ini menjadi bagian dari upaya kita meningkatkan daya beli masyarakat dan meningkatkan kualitas daripada UMKM kita,” lanjut Aulia.

Erau Adat Kutai 2026 berlangsung hingga 27 September. Rangkaian sakral dan seremonial akan terus berjalan selama sepekan sebelum mencapai salah satu puncaknya melalui Mengulur Naga, Beumban, Begorok, Sultan Turun ke Rangga Titi dan Belimbur.

Bagi Kutai Kartanegara, masuknya Erau ke KEN menjadi satu babak baru. Tradisi yang berakar di Kedaton kini mendapat panggung nasional, tetapi tantangannya tetap sama: membawa Erau semakin dikenal tanpa kehilangan ruh adat yang membuatnya tetap hidup di tengah masyarakat. Sebab pada akhirnya, Erau bukan hanya tentang bagaimana Kutai dilihat dari luar. Ia juga tentang bagaimana orang Kutai mengenali kembali akar budayanya sendiri. (adv/moe)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
Erau