Dari 29 Hari Latihan ke Panggung Erau, 350 Penari Kukar Jadi “Penjaga Tahta di Tepian Mahakam"

Elmo Satria Nugraha • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 19:33 WIB
Tari kolosal "Penjaga Tahta di Tepian Mahakam" yang dipersembahkan Komunitas Serapo untuk Erau 2026 (Elmo/Prokal.co)
Tari kolosal "Penjaga Tahta di Tepian Mahakam" yang dipersembahkan Komunitas Serapo untuk Erau 2026 (Elmo/Prokal.co)

PROKAL.CO, TENGGARONG – Tiga puluh hari belum genap. Namun, dalam waktu hanya 29 hari, ratusan penari harus disatukan dalam satu irama, satu gerak, dan satu cerita untuk membawa perjalanan peradaban Kutai ke panggung Tari Kolosal Erau Adat Kutai 2026.

Di balik penampilan “Penjaga Tahta di Tepian Mahakam” yang dipentaskan pada pembukaan Erau Adat Kutai 2026 di Stadion Rondong Demang, Minggu (20/9/2026), ada proses panjang yang berlangsung jauh sebelum 350 penari berdiri di atas panggung.

Komunitas Seni Serapo menjadi salah satu penggerak utama produksi tari kolosal tersebut. Pimpinan Serapo sekaligus Produksi Tari Kolosal Erau, Misra Budiarto Ax, menyebut keterbatasan waktu tidak membuat proses latihan bisa dilakukan seadanya.

“Alhamdulillah, kita sukses besar. Kita hanya latihan selama 29 hari. Biasanya, kalau ingin mendapatkan hasil yang baik, latihan itu satu sampai dua bulan, atau paling sedikit satu bulan setengah,” kata Misra yang akrab disapa Nanang, Minggu (20/9/2026).

Sejak awal, Serapo tidak langsung berhadapan dengan 350 penari. Sebanyak 13 pelatih terlebih dahulu dipersiapkan agar proses latihan dapat berjalan berlapis dan menjangkau seluruh penari.

Ke-13 pelatih tersebut kemudian turun langsung menangani ratusan penari. Mereka menjadi penghubung antara konsep koreografi dengan gerakan yang harus dipahami setiap kelompok penari.

“Jauh sebelumnya, kami sudah melatih para pelatih. Ada 13 orang pelatih yang kami latih, sehingga para pelatih itu sendiri yang kemudian turun langsung menangani 350 penari,” ujarnya.

Proses itu tidak berhenti pada latihan gerakan. Ketika ada kelompok yang belum menguasai bagian tertentu, tambahan latihan dilakukan pada malam hari di PWRI.

Bahkan, metode latihan disesuaikan dengan kemampuan penari. Bagi penari yang membutuhkan pendekatan berbeda untuk menangkap gerakan, pelatih menggunakan metode khusus dengan membunyikan musik saat mata penari ditutup.

“Jadi, mereka tidak melihat teman yang ada di kiri dan kanannya. Metode seperti itu kami berlakukan melalui para pelatih yang ada di belakang saya,” jelas Nanang.

Menurutnya, proses tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan ratusan penari tidak sekadar bergerak bersama, tetapi mampu membangun satu kesatuan dalam pertunjukan.

Kesatuan itu pula yang menjadi napas “Penjaga Tahta di Tepian Mahakam”. Karya tersebut menggambarkan perjalanan peradaban Kutai Kartanegara yang tumbuh di tepian Mahakam, sekaligus tanggung jawab generasi hari ini untuk menjaga warisan yang ditinggalkan leluhur.

Dalam karya tersebut, tahta tidak semata dimaknai sebagai simbol kekuasaan dan kedaulatan. Tahta menjadi lambang keberlanjutan sejarah, adat istiadat, tradisi, dan identitas budaya Kutai.

Sementara “Penjaga Tahta” menjadi simbol tanggung jawab bersama untuk merawat dan meneruskan warisan tersebut agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Pesan itu diterjemahkan melalui rangkaian adegan dan gerak dinamis ratusan penari. Mereka dibentuk menjadi satu kesatuan untuk menggambarkan bahwa keberlangsungan sebuah peradaban membutuhkan persatuan, kebersamaan, serta kesadaran kolektif.

Di balik karya besar itu pun tidak berdiri satu kelompok saja. Produksi Tari Kolosal Erau menjadi ruang kolaborasi bersama antara para pemangku kepentingan, seniman, budayawan, koreografer, musisi, pelatih, hingga berbagai elemen masyarakat.

Kolaborasi tersebut menjadi wujud sinergi untuk menghadirkan sebuah karya yang bukan hanya menjadi bagian dari rangkaian perayaan Erau, tetapi juga membawa pesan tentang bagaimana warisan budaya harus terus dijaga dan diteruskan.

Total tim produksi yang terlibat mencapai 49 orang. Jumlah itu sudah mencakup kru, pelatih, pimpinan produksi, show director, serta berbagai bagian lain yang bekerja di balik panggung.

“Tim produksi kita ini berjumlah 49 orang. Itu sudah termasuk kru, pelatih, pimpinan produksi, show director, dan berbagai bagian lainnya,” ungkap Misra.

Proses selama 29 hari tersebut juga tidak sepenuhnya berjalan tanpa tantangan. Salah satu kendala yang dirasakan berada pada sisi pembiayaan yang sempat berjalan lambat.

Namun, Misra menyebut kondisi tersebut tidak menghentikan proses produksi. Seluruh tim tetap bergerak hingga pertunjukan dapat ditampilkan sesuai dengan rencana.

“Alhamdulillah, semuanya bisa kita atasi. Walaupun mungkin dari sisi keuangan agak lambat, tetapi semuanya tetap bisa kita capai dengan baik,” katanya.

Ketika akhirnya 350 penari tampil di hadapan penonton Erau, proses yang selama hampir sebulan itu menemukan bentuknya.

Bagi Serapo, keberhasilan pertunjukan bukan datang tiba-tiba. Ia merupakan hasil dari proses, latihan, pembagian peran, dan kerja bersama yang sejak awal dibangun untuk mengejar satu tujuan.

“Kalau mau sukses itu harus berproses,” tegas Nanang.

Dan proses itu pada akhirnya bukan sekadar tentang menyatukan gerakan 350 penari. Lebih jauh, “Penjaga Tahta di Tepian Mahakam” berusaha menyampaikan pesan bahwa menjaga warisan budaya bukan pekerjaan satu orang, satu kelompok, atau satu generasi. 

Generasi hari ini adalah para penjaga. Sementara generasi mendatang adalah penerus yang akan membawa warisan tersebut agar tetap hidup, berkembang, dan menjadi bagian dari jati diri Kutai Kartanegara. (moe)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kutai kartanegara