PROKAL.CO, TENGGARONG – Supriyadi tak sempat menyelamatkan banyak barang ketika api mulai membakar permukiman RT 33, Kelurahan Melayu, Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), Senin (5/10/2026) sore.
Ketua RT 33 itu hanya sempat mengamankan diri bersama istrinya serta membawa dokumen-dokumen penting, termasuk sertifikat dan surat keputusan (SK). Pakaian maupun barang lainnya ditinggalkan ketika api dengan cepat membesar di belakang rumahnya.
“Saya mengamankan diri dan surat-surat saya, seperti sertifikat dan segala macam. Yang saya amankan duluan data pribadi,” kata Supriyadi, Selasa (6/10/2026).
“Baju sama sekali tidak sempat. Tidak sempat apa-apa. Hanya SK-SK itu yang saya amankan dulu,” lanjutnya.
Supriyadi mengatakan dirinya pertama kali mengetahui kebakaran setelah mendengar warga berteriak. Saat keluar rumah, asap sudah mengepul tepat di belakang kediamannya.
Ia kemudian melihat api berasal dari salah satu rumah sewaan di bagian belakang.
“Kalau kronologi awal, saya taunya sudah ada api menyala di belakang rumah saya. Begitu orang teriak-teriak, saya keluar rumah,” ujarnya.
“Ada api, ada api. Saya tanya, ‘Di mana?’ Dijawab, ‘Ada kebakaran di belakang rumah saya, Pak.’ Saya melihat dari sini, ternyata sudah mengepul di belakang rumah saya, persis,” sambungnya.
Menurut Supriyadi, api membesar dengan sangat cepat. Ia memperkirakan petugas pemadam kebakaran tiba sekitar 10 hingga 20 menit setelah kebakaran diketahui warga.
“Itu sangat cepat membesar, sangat cepat sekali. Sekitar 10 sampai 20 menit baru PMK datang,” katanya.
Bangunan yang pertama kali terbakar, menurut penglihatannya, merupakan rumah sewaan yang sedang kosong. Tidak ada penghuni di dalam rumah ketika api mulai muncul.
“Kalau saya melihatnya, sekitar jam 16.30. Yang terbakar awal itu rumah sewaan di belakang. Tidak ada orang di tempat, ditinggalkan, rumah kosong,” jelas Supriyadi.
Ia mengaku tidak mengetahui pasti apakah kebakaran dipicu kompor, instalasi listrik atau faktor lainnya. Dalam kondisi darurat, perhatiannya tertuju pada keselamatan diri dan keluarga.
Di tengah kepanikan, rumah Supriyadi sendiri akhirnya ikut terdampak. Ia menyebut dirinya bersama istrinya kini menjadi bagian dari warga yang kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran.
“Iya, saya juga korban. Saya dengan istri saya,” ujarnya.
Untuk sementara, Supriyadi dan istrinya tinggal di rumah anak mereka di Jalan Belida.
Kebakaran juga melanda kawasan yang didominasi rumah kontrakan. Supriyadi mengatakan sejumlah bangunan sewaan berada berdekatan di sekitar lokasi.
“Mayoritas rumah kontrakan. Di belakangnya kontrakan, di depannya juga kontrakan. Terus di sebelah sana ada tiga kopel kontrakan,” katanya.
Ia menyebut sedikitnya enam bangunan kontrakan berada di bagian yang terdampak kebakaran berdasarkan pengamatannya di lapangan.
RT 33 sendiri memiliki sekitar 73 kepala keluarga. Namun, Supriyadi belum mengetahui secara pasti jumlah warganya yang terdampak karena pendataan masih dilakukan pemerintah kelurahan.
“Kalau warga saya, ada 73 KK. Kalau yang terdampak ini saya tidak tahu berapa. Saya juga tidak tahu,” katanya.
Kini, setelah api padam, persoalan berikutnya adalah tempat tinggal. Supriyadi berharap pemerintah dapat membantu warga yang rumahnya terdampak untuk mendapatkan solusi tempat tinggal sementara maupun penanganan lanjutan.
Baginya, kebakaran tersebut merupakan musibah yang sudah terjadi dan tidak bisa diubah. Yang kini dipikirkan adalah bagaimana warga dapat kembali memiliki tempat untuk tinggal.
“Ya bagaimana, disesali sudah, memang sudah terlanjur. Memang itu musibah. Sudah terjadi,” ujarnya.
“Harapannya, kami mengharapkan dari pemerintah setempat bagaimana untuk kelanjutan tempat tinggal kami. Kalau bisa kami mohon dibantu atau bagaimana. Walaupun tidak 100 persen, kan tidak mungkin kalau 100 persen. Saya rasa itu saja harapan kami,” pungkas Supriyadi. (moe)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co