Danau Aji Masuk Zona Merah Kebakaran, Damkar Kukar Dorong Hidran dan Mobil Tangki

Elmo Satria Nugraha • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 23:06 WIB
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kukar Fida Hurasani (Elmo/Prokal.co)
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kukar Fida Hurasani (Elmo/Prokal.co)

PROKAL.CO, TENGGARONG – Bagi petugas pemadam kebakaran, melawan api di permukiman padat bukan hanya soal seberapa cepat armada tiba. Ada persoalan lain yang kerap menentukan: dari mana air diambil ketika kobaran api terus membesar.

Kondisi itu kembali terlihat saat kebakaran besar melanda kawasan Kelurahan Melayu, Tenggarong, Senin (5/10/2026). Di tengah upaya menjinakkan api, petugas harus berhadapan dengan keterbatasan sumber air dan waktu pengisian ulang tangki.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kukar Fida Hurasani mengatakan evaluasi kejadian tersebut kembali menegaskan kebutuhan hidran dan sumber air yang lebih dekat dengan kawasan permukiman.

“Ya, harus. Kalau saya bilang, hidran itu harus,” kata pria yang akrab disapa Afe' saat diwawancarai Rabu (7/10/2026).

Ia menceritakan, dalam proses pemadaman, petugas sempat menghabiskan tiga tangki dengan kapasitas masing-masing 6.000 liter, 14.000 liter, dan 10.000 liter dalam waktu sekitar 30 menit.

Dua bangunan yang menjadi titik awal kebakaran, menurut dia, sebenarnya sudah dapat ditekan. Namun ketika armada kembali melakukan pengisian air, kondisi berubah.

“Pada saat kita mengisi ulang tangki kita, di situ angin berubah dan di situ api membesar lagi,” ujarnya.

Situasi tersebut memperlihatkan betapa pentingnya keberadaan sumber air di sekitar lokasi kebakaran. Afe' menyebut petugas bisa membutuhkan waktu 10 hingga 20 menit hanya untuk mengantre mengisi ulang tangki ketika sumber air yang tersedia berada jauh dari titik kejadian.

“Untuk menuju wilayah tengah, wilayah saya di Kelambu Kuning, saya harus mengantri untuk mengisi. Artinya butuh waktu 10-15-20 menit. Nah, itu yang terjadi kemarin,” ungkapnya.

Bagi petugas di lapangan, jeda tersebut bukan sekadar waktu tunggu. Saat air habis dan armada harus kembali mengisi, api tetap bekerja. Karena itu, Afe' menilai hidran menjadi kebutuhan penting, terutama di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan kebakaran tinggi. Namun pembangunan sistem hidran tidak bisa dibebankan hanya kepada Damkarmatan.

Bagi Afe', diperlukan kolaborasi dengan perangkat daerah lain seperti Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim), Dinas Pekerjaan Umum, hingga perusahaan air minum untuk menyusun sistem hidran yang benar-benar dapat berfungsi saat dibutuhkan.

Damkarmatan sendiri telah melakukan upaya dengan membangun hidran kering. Salah satunya telah mencapai sekitar 980 meter hingga kawasan Simpang Tiga Kartini. Fida menyebut fasilitas tersebut berjalan sesuai perencanaan dan membantu memperpendek jarak pengisian air.

“Kalau kita evaluasi, Alhamdulillah bisa dikatakan 100 persen itu berfungsi dengan baik sesuai dengan perencanaan kita,” katanya.

Namun, jangkauannya masih terbatas pada titik tertentu. Ketika lokasi kebakaran bergeser ke kawasan lain, petugas kembali berhadapan dengan persoalan sumber air.

Karena itu, Afe' ingin pola hidran kering diperluas hingga masuk ke kawasan permukiman. Rencana tersebut, menurut dia, juga membutuhkan keterlibatan masyarakat di tingkat RT.

“Ke depan kita mau hidran kering itu masuk di kawasan permukiman ini. Makanya saya butuh sebenarnya kerja sama dengan pihak RT setempat,” jelasnya.

Kebutuhan tersebut menjadi semakin mendesak karena Damkarmatan memetakan Danau Aji sebagai kawasan dengan tingkat kerawanan kebakaran paling tinggi di Kecamatan Tenggarong.

Afe' menyebut Danau Aji berada dalam kawasan yang ia istilahkan sebagai “segitiga” karena dikelilingi tiga poros jalan utama, yakni Danau Aji, Jalan Alimuddin, dan Danau Lipan. Padatnya permukiman di kawasan tersebut membuat akses dan sumber air menjadi persoalan yang harus diperhitungkan dalam mitigasi kebakaran.

“Ini masuk dalam apa yang saya katakan di Dinas Pemadam itu segitiga. Kawasan segitiga yang label-nya paling merah. Paling merah untuk Kecamatan Tenggarong. Label paling merah itu ada di kawasan Danau Aji,” tegasnya.

Menurut Afe', persoalannya bukan semata-mata menentukan titik pemasangan hidran. Sistem tersebut harus dirancang dengan sumber air dan mekanisme pendorong yang memadai.

Jika mengandalkan jaringan perusahaan air minum, misalnya, tekanan air juga harus diperhitungkan agar tidak mengganggu jaringan pelanggan rumah tangga. Karena itu, sistem proteksi kebakaran idealnya memiliki sumber dan sistem pendorong sendiri.

“Kalau hidran proporsional, dia digerakkan oleh sistem sendiri. Nah, proteksi kebakaran, permukiman wilayah kan, dia punya pendorong sendiri. Jadi, dia tidak ikut dengan perusahaan air minum, dia punya sendiri,” jelasnya.

Persoalannya, membangun sistem seperti itu membutuhkan anggaran besar. Sementara di kawasan permukiman padat, pilihan mitigasi lain seperti menempatkan tandon air juga menghadapi kendala ruang.

Damkarmatan telah menempatkan dua tandon berkapasitas masing-masing 5.000 liter di lokasi yang memungkinkan. Namun Fida mengakui penempatan tandon tidak mudah karena harus mempertimbangkan halaman warga dan aktivitas lalu lintas.

“Ada dua tandon saya tempatkan di sini yang kapasitas 5.000. Itu saya sudah punya cadangan 10 ribu,” katanya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa mitigasi kebakaran di Danau Aji membutuhkan pendekatan bersama. Tidak hanya menambah armada atau personel pemadam, tetapi juga memastikan air bisa diperoleh sedekat mungkin ketika kebakaran terjadi.

“Mitigasi kita yang hanya bisa kita lakukan, membangun hidran kering. Terus menempatkan tandon,” ujarnya.

Afe' menilai penguatan sistem hidran dan penyediaan sumber air menjadi pekerjaan yang perlu didorong secara berkelanjutan, terutama untuk kawasan Danau Aji yang memiliki kepadatan permukiman dan tingkat risiko kebakaran tinggi.

Bagi petugas yang berada di garis depan, persoalan itu bermuara pada satu kebutuhan sederhana ketika api mulai membesar: air harus tersedia, dan tidak boleh terlalu jauh. (adv/moe)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kutai kartanegara