Stand Up Comedy Tenggarong Terus Tumbuh, Dispar Kukar Dorong Tampil di Ruang Publik

Elmo Satria Nugraha • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 17:52 WIB
Penampilan Stand Up Comedy Indo Tenggarong di Haha Cafe Tenggarong (Elmo/Prokal.co)
Penampilan Stand Up Comedy Indo Tenggarong di Haha Cafe Tenggarong (Elmo/Prokal.co)

PROKAL.CO, TENGGARONG – Komunitas Stand Up Comedy Tenggarong mulai mendapat ruang perhatian dari Dinas Pariwisata (Dispar) Kutai Kartanegara (Kukar). Komunitas yang tumbuh secara mandiri tanpa pembiayaan APBD itu didorong untuk berkembang melalui kolaborasi, sekaligus diproyeksikan mendapat ruang tampil lebih luas di Simpang Odah Etam.

Kabid Pengembangan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Dispar Kukar Zikri Umulda mengatakan, pihaknya telah beberapa kali memantau aktivitas komunitas tersebut, termasuk menghadiri pertunjukan rutin di Haha Cafe Tenggarong, Rabu (7/10/2026) malam.

Menurut Zikri, keberadaan Stand Up Comedy Tenggarong menarik perhatian karena komunitas tersebut berupaya tumbuh secara mandiri. Dari awalnya beranggotakan sekitar delapan orang, kini komunitas terus berkembang meski komika aktif harus membagi waktu dengan kesibukan masing-masing.

“Memang komunitas ini non-APBD, tidak ada pembiayaan. Mereka mau tumbuh dan berkembang secara mandiri, dan itu memang mendapat atensi kami. Kami, secara komunitas, apalagi dinas, sangat mengapresiasi sekali,” kata Zikri.

Dispar Kukar, lanjut dia, tengah menyiapkan sejumlah skema pengembangan dengan melibatkan komunitas Stand Up Samarinda. Kolaborasi ini dinilai penting karena stand up comedy tidak hanya mengandalkan kemampuan tampil, tetapi juga kekuatan materi.

Dalam kegiatan tersebut, lebih dari delapan anggota komunitas Stand Up Samarinda hadir memberikan dukungan sekaligus menjadi bagian dari proses pengembangan komunitas lokal.

Zikri menyebut, materi menjadi salah satu pekerjaan rumah yang perlu diperkuat sebelum Stand Up Tenggarong tampil di ruang publik dengan audiens lebih beragam. Terlebih, Simpang Odah Etam memiliki karakter penonton yang berbeda dengan panggung komunitas di kafe.

“Materi stand up comedy kan intinya ada di materi, bagaimana penyampaiannya. Jadi, memang kami juga minta bantuan dari teman-teman stand up dari Samarinda untuk datang ke sini,” ujarnya.

Menurutnya, tampil di Simpang Odah Etam akan menjadi tantangan tersendiri bagi komika Tenggarong. Ruang publik tersebut mempertemukan penonton dari berbagai kelompok usia sehingga materi komedi harus mampu menyesuaikan karakter audiens.

“Di sana penontonnya audiensnya berbeda-beda. Ada anak-anak, ada orang tua, jadi sense of humor-nya berbeda-beda. Karena mereka juga pasti melihat audiens,” jelasnya.

Karena itu, dorongan untuk tampil di Simpang Odah Etam akan berjalan beriringan dengan penguatan materi dan pendampingan. Dispar Kukar akan mengarahkan skema kolaborasi antara Stand Up Tenggarong dan komunitas dari Samarinda agar kemampuan komika lokal semakin matang.

Di sisi komunitas, Ketua Komunitas Stand Up Comedy Tenggarong Muhammad Zakaria Alfarizi melihat perkembangan kegiatan dalam beberapa bulan terakhir cukup positif. Antusiasme penonton dalam open mic rutin mulai tumbuh, bahkan sejumlah penonton datang dari luar daerah.

“Alhamdulillah, saya senang dengan banyaknya penonton yang hadir. Ada juga beberapa orang dari Samarinda. Harapannya ke depan bukan hanya dari Samarinda, tetapi masyarakat Tenggarong sendiri semakin banyak yang ikut menonton,” ujarnya.

Menurut Zakaria, perkembangan komunitas juga terlihat dari munculnya anggota-anggota baru. Sejumlah anggota yang bergabung sekitar tiga bulan terakhir bahkan sudah mampu menyiapkan materi komedi berdurasi sekitar lima menit.

Saat ini, terdapat sekitar 14 anggota yang telah terdaftar dalam komunitas. Selain anggota aktif, Stand Up Comedy Tenggarong juga membuka kesempatan bagi masyarakat umum yang ingin mencoba stand up comedy.

Open mic tidak hanya ditujukan bagi mereka yang ingin menjadi komika. Panggung tersebut juga menjadi ruang bagi masyarakat yang ingin belajar berbicara di depan publik atau menyampaikan pengalaman dan keresahan melalui komedi.

“Kami terbuka untuk umum. Misalnya ada yang ingin belajar public speaking atau hanya ingin menyampaikan keluh kesah, bisa disampaikan melalui open mic. Untuk usia juga terbuka, mulai SMP, SMA hingga mahasiswa,” katanya.

Kegiatan open mic direncanakan berlangsung rutin setiap Rabu malam. Acara biasanya dimulai sekitar pukul 20.00 Wita dan terbuka bagi siapa saja yang ingin mencoba tampil.

Meski mulai berkembang, komunitas masih menghadapi tantangan menjaga konsistensi kehadiran komika maupun penonton. Dalam beberapa kegiatan, jumlah penampil bisa mencapai lima hingga enam orang, sementara penonton terkadang masih terbatas beberapa meja.

Kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat komunitas untuk terus menggelar open mic. Bagi mereka, keberlanjutan panggung menjadi bagian penting untuk membangun ekosistem stand up comedy di Tenggarong.

Ke depan, komunitas berharap Stand Up Comedy Tenggarong semakin dikenal dan berkembang hingga ke berbagai wilayah di Kukar. Sementara Dispar Kukar melihat penguatan komunitas dan regenerasi talenta sebagai bagian dari upaya memperluas ekosistem ekonomi kreatif daerah.

Selain penguatan komunitas yang sudah ada, Dispar Kukar juga menyiapkan program Ekraf Goes to School mulai 2027. Program tersebut akan menyasar sekolah untuk mencari bibit baru di berbagai subsektor ekonomi kreatif, termasuk stand up comedy, film, fotografi, tari, dan musik.

“Jadi, kombinasinya memang dari sektor film, fotografi, tari, musik, nanti akan turun bersama-sama ke sekolah untuk kita mencari bibit-bibit. Karena kalau yang lama-lama ini kan memang ya sampai di situ saja, jadi kita harus mencari bibit-bibit baru,” kata Zikri. (adv/moe)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kutai kartanegara