PROKAL.CO, TENGGARONG – Senin, 5 Oktober 2026, waktu telah menunjukkan pukul 20.00 Wita. Api yang mengamuk di RT 33 Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong itu mereda berkat kerja keras petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan relawan yang berjibaku memadamkannya. Proses pendinginan pun berjalan, hanya tersisa puing-puing rumah yang menjadi arang—juga asap yang menipis.
Fida Hurasani, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) baru saja melepas APD-nya dan duduk di bagian belakang truk Damkar. Ia sudah bersiap menemui para wartawan, letih dan sayu terlukis di wajahnya. Bersama petugas lain, ia baru saja menghadapi salah satu kebakaran terbesar di Tenggarong.
Namun, ada hal lain yang membebani pikiran Fida selain rumah-rumah yang hangus. Kawasan yang terbakar itu telah lama masuk dalam pemetaannya sebagai zona merah rawan kebakaran.
Risiko yang ia kenali sejak bertahun-tahun lalu kembali terlihat nyata, sementara keterbatasan sumber air membuat proses pemadaman tidak berjalan maksimal. Fida, yang akrab disapa Afe’, menyebut zona merah tersebut membentang di kawasan yang meliputi Jalan Danau Aji, Danau Lipan, dan Jalan AM Alimuddin.
Pemetaan itu telah ia lakukan sejak masih menjabat Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar, sekitar tiga tahun sebelumnya, hingga terbentuknya Disdamkarmatan. Kepadatan permukiman dan minimnya sumber air menjadi persoalan utama. Kondisi itu membuat penanganan kebakaran di kawasan tersebut membutuhkan strategi khusus, terutama ketika api membesar dan menjalar dari satu bangunan ke bangunan lain.
“Saya sudah melakukan simulasi kurang lebih tiga kali, termasuk melalui penataan menggunakan drone dan simulasi Ampar Selang. Tetapi saya belum menemukan strategi yang benar-benar efektif kalau terjadi kebakaran di lokasi ini,” cerita Afe’ waktu itu.
Beberapa upaya telah dilakukan, termasuk membangun hidran kering di Jalan Maduningrat dan menempatkan dua tandon air berkapasitas 5,000 liter di dalam kawasan itu. Namun Ketika musibah terjadi, sarana tersebut belum bisa memadamkan api secara maksimal. Api yang biasa dipadamkan di bawah satu jam, justru menjadi dua jam.
Ia sadar, keterbatasan membuatnya merasa belum mampu memberikan pelayanan maksimal kepada warga yang tengah kehilangan rumah dan harta benda. Di hadapan awak media, Afe’ menyampaikan permohonan maaf. Suaranya bergetar hingga ia tak kuasa menahan tangis.
“Saya mewakili kawan-kawan dan relawan memohon maaf kepada warga karena tidak bisa memberikan pelayanan secara maksimal. Kami memang menghadapi keterbatasan, terutama pasokan air yang sulit didapat dalam situasi seperti ini,” ungkap Afe’.
Sekitar 50 bangunan berupa rumah pribadi dan sewaan ludes terbakar, ratusan jiwa kehilangan tempat tinggal dan harta mereka. Lima hari telah berlalu sejak musibah kebakaran di Kelurahan Melayu terjadi. Solidaritas menguat, warga bantu warga untuk pulih. Makanan, pakaian layak pakai, sembako serta berbagai jenis bantuan lainnya datang dari sesama warga dan pemerintah untuk warga terdampak.
Namun di balik proses pemulihan itu, tanggung jawab pasca kebakaran masih belum selesai. Evaluasi menjadi langkah pertama. Kebutuhan alat pemadaman hingga hidran menjadi urgensi bersama.
Bagi Afe’, persoalannya bukan hanya bagaimana memadamkan api yang telanjur membesar, melainkan bagaimana memastikan petugas memiliki sarana yang memadai sebelum kejadian serupa terulang.
“Kalau bicara hidran, ini memang sangat urgent,” ucap Afe’ saat dihubungi, Jumat (9/10/2026).
Kebutuhan hidran ini sempat menjadi sorotan saat Bupati Kukar Aulia Rahman Basri dan Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji mengunjungi lokasi kebakaran, Kamis (8/10/2026) kemarin. Ketika ditanyakan mengenai kebutuhan hidran ini, mereka memberi jawaban yang berbeda.
Aulia, dari sisi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) menyampaikan kebutuhan ini akan menjadi prioritas melalui Program RT-KU Terbaik. Sedangkan Seno dari sisi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) menyampaikan dukungan membangun ulang rumah sekaligus sumur bor untuk hidran tersebut.
Kedua opsi tersebut menjadi jawaban dari sisi pemerintah. Namun apakah jawaban itu sebuah solusi?
Afe’ menyampaikan apresiasi atas perhatian Bupati dan Wagub. Namun, permasalahan zona merah ini sudah lama dipetakannya. Bukan wilayah Danau Aji saja, beberapa kawasan yang turut menjadi perhatian adalah Jalan Danau Melintang dan Danau Jempang—masih dari Kelurahan melayu, Tenggarong.
Kawasan ini memiliki keterbatasan sumber air, jauh dari bantaran anak Sungai Tenggarong. Untuk kawasan Jalan Danau Melintang-Jempang Afe’ sebut masih berjarak 200-300 meter dari bantaran sungai. Namun untuk yang berjarak 400 meter dari sungai, keberadaan hidran sangat dibutuhkan.
Afe’ sendiri pernah membangun hidran kering di Jalan Maduningrat. Hidran ini dibangun awal tahun ini di atas lahan pribadi miliknya—yang dihibahkan agar Tenggarong memiliki hidran kering. Keberadaannya diharapkan menjadi pilot project bagi kawasan padat permukiman lainnya yang rawan kebakaran.
“Saya waktu itu bersama pak Wakil (Rendi Solihin, red) meninjaunya. Itu dibangun di atas lahan pribadi saya. Dan saya atas nama pribadi, jabatan, dan orang tua Ikhlas selama ini dapat bermanfaat,” tegas Afe’.
Pernyataan ini menyusul banyaknya keterbatasan yang dialami Damkar Ketika memadamkan api di Danau Aji kemarin. Kebutuhan hidran kering ini sudah berkali-kali Afe’ usulkan agar diwujudkan. Karena nyatanya, pemadaman yang biasa memakan waktu 30 menit—malah menjadi dua jam saat 5 Oktober kemarin karena minimnya sumber air.
Afe’ sendiri mengaku tidak berkeinginan mengungkit-ungkit masalah masa lalu. Namun, hidran-hidran yang ada saat ini sudah tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal. Bahkan, ada beberapa titik hidran yang hilang karena pelebaran jalan.
“Ada beberapa titik yang sudah tidak saya temukan lagi setelah pelebaran jalan. Padahal sebelumnya tiap bulan anggota kami keliling untuk cek hidran itu, bahkan dibersihkan lumpurnya,” jelasnya.
Tak meminta banyak, Afe’ hanya berharap dari pemerintah tingkat kabupaten, provinsi ataupun PDAM. Apabila terdapat kesempatan untuk melanjutkan hidran kering yang telah dibangunnya di Jalan Maduningrat. Sehingga dapat diterapkan di kawasan padat permukiman, terkhusus di segitiga Danau Aji itu.
“Kami berusaha. Namun, upaya yang bisa kami lakukan sebelumnya baru sampai di sana. Makanya kami memohon dukungan pemerintah sebisanya agar program tersebut bisa dilanjutkan dan masuk ke kawasan segitiga Danau Aji,” tuturnya.
Melihat kondisi yang telah terjadi, Afe’ juga menegaskan bahwa Danau Aji akan tetap berstatus zona merah sampai kapan pun. Jika penataan bangunan, tata ruang, dan ketersediaan sumber air tidak dibenahi. Sampai kapan pun label merah akan menetap di kawasan tersebut—dan marabahaya kebakaran akan terus menghantui.
Menanggapi pengadaan sumur bor pun, Afe’ menegaskan masih belum cukup. Karena ada jeda waktu tiap pengisian ulang ketika kebutuhan air sedang tinggi. Dan ketika terjadi kebakaran, Damkar tak bisa menunggu pengisian ulang.
“Saya kalau kebakaran itu jangka pendek pikirnya, sekarang ya sekarang. Dia tidak menunggu perencanaan lagi, musibah kebakaran tidak menunggu. Karena sejak kejadian kebakaran malam itu, kami sudah mulai melakukan simulasi di mako dengan menggunakan pemetaan kembali,” tegas Afe’.
Di Danau Aji sendiri, Afe’ mengaku telah melakukan mitigasi awal dengan meletakkan tandon air dua unit. Namun tandon ini masih belum mencukupi saat kebakaran kemarin, sedangkan kebutuhan nyatanya adalah lima tandon. Namun warga tidak berkehendak menghibahkan sebagian lahannya, dengan alasan penempatan yang khawatir mengganggu aktivitas warga.
Kukar secara keseluruhan lanjutnya, ada beberapa kawasan yang masuk zona merah. Namun Afe’ belum dapat menyampaikan secara terperinci karena ia belum memiliki data dan dokumen yang lengkap. Namun ia terus mendorong agar zona merah di Tenggarong ini terus menjadi perhatian semua pihak.
“Kita harus menyambungkan sumber daya dan sarana yang kita miliki untuk mengantisipasi jika terjadi lagi hal-hal yang tidak kita inginkan. Dalam mitigasi, kita harus selalu memperhitungkan kemungkinan terburuk. Kalau kita terlalu terlena dengan rencana yang akan dibuat nanti, kapan kita bisa melakukan penanganan? Sementara kejadian kebakaran bisa terjadi sewaktu-waktu,” tutup Afe.
Pada akhirnya, kebakaran bukan tentang seberapa cepat api itu dapat dipadamkan. Namun bagaimana api tersebut dapat dicegah sedini mungkin. Pihak Damkar dan relawan di Kukar telah bekerja keras memadamkan api besar di Danau Aji dengan berbagai keterbatasan yang dihadapi.
Pemetaan risiko telah dilakukan, simulasi telah dijalankan, dan sejumlah upaya telah dimulai. Kini, tantangannya adalah memastikan langkah-langkah tersebut berlanjut menjadi sistem mitigasi yang benar-benar berfungsi. Sebab, ketika api kembali menyala, petugas membutuhkan lebih dari sekadar rencana: mereka membutuhkan air dan sarana yang siap digunakan saat itu juga. (moe)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co