PROKAL.CO, TENGGARONG – Selasa sore itu, Ahmad Ali Maulidy dan Husin Taufiqurrohman masih menjalani hari seperti biasanya. Keduanya mengaji, lalu mengikuti majelis taklim bersama sang ayah, Hamri Noor, yang akrab disapa Ustaz Hamdi. Tak ada yang menyangka, kebersamaan itu menjadi salah satu kenangan terakhir keluarga sebelum api melahap rumah mereka di Jalan Kartini, Gang Karya, Kelurahan Loa Ipuh, Tenggarong.
Ali, 7, dan Husin, 3, dikenal sebagai anak-anak yang penurut. Keduanya kerap mengikuti kegiatan majelis taklim ketika ayahnya mengisi pengajian. Di mata keluarga, mereka bukan hanya dua bocah yang tumbuh dalam keseharian sederhana, tetapi juga anak-anak yang senang berada dekat dengan orang tua.
Majelis taklim di rumah itu berlangsung seperti biasa pada Selasa (13/10/2026) sore. Selepas mengaji, Ali dan Husin ikut berkumpul bersama jamaah. Kegiatan berakhir sekitar pukul 18.00 Wita. Setelah itu, malam berjalan seperti biasa, hingga kebakaran datang menjelang tengah malam dan mengubah segalanya.
Api mulai berkobar sekitar pukul 23.50 Wita. Kebakaran yang diduga dipicu korsleting listrik di rumah Hamri Noor itu dengan cepat membesar dan merambat ke bangunan di sekitarnya. Sebagian besar rumah di kawasan tersebut terbuat dari kayu, membuat api menjalar dan melahap belasan bangunan.
Di tengah kepanikan, anggota keluarga berusaha menyelamatkan diri. Kakak kedua korban yang saat itu tidur di depan televisi terbangun setelah mendengar keributan. Ia berhasil keluar dari rumah dan kemudian diamankan seseorang agar tidak kembali masuk ke dalam bangunan yang terbakar.
Sementara itu, Ali dan Husin masih berada di kamar bersama ayah mereka. Menurut penuturan nenek kedua korban, Hj Ni’mah Gani, Hamri sempat berusaha menyelamatkan kedua anaknya. Namun, ketika hendak kembali masuk, kayu yang terbakar telah menghalangi jalan. Bagian kamar tempat Ali dan Husin tidur juga sudah habis dilalap api.
Hamri akhirnya keluar dari rumah dengan kondisi mengalami luka bakar pada tubuhnya. Ibu kedua korban juga selamat dari peristiwa tersebut. Namun, Ali dan Husin tak berhasil dibawa keluar.
Api terus membesar dan merambat ke rumah-rumah di sekitarnya. Kebakaran baru berhasil dipadamkan sekitar pukul 01.35 Wita, Rabu (14/10/2026), oleh Dinas Pemadam Kebakaran Kutai Kartanegara bersama relawan.
Setelah api padam, pencarian terhadap kedua bocah itu terus dilakukan. Hingga dini hari, keberadaan mereka masih menjadi perhatian keluarga dan petugas. Sekitar pukul 03.28 Wita, Ali dan Husin akhirnya ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Menurut keterangan keluarga, keduanya ditemukan dalam posisi berpelukan.
Kabar itu menyisakan duka mendalam. Upaya Hamri menyelamatkan kedua anaknya tak berhasil membawa mereka keluar dari kobaran api. Ia sendiri harus menanggung luka bakar, sementara keluarga menghadapi kehilangan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
Bagi Hj Ni’mah Gani, kenangan tentang Ali dan Husin masih begitu dekat. Ia mengingat bagaimana keduanya selalu ingin ikut ketika ayah mereka berkegiatan. Keduanya juga dikenal penurut, baik kepada dirinya maupun kepada Hamri.
“Kalau bapaknya ada kegiatan majelis, anak-anak juga ikut. Mereka sangat penurut, baik kepada saya maupun bapaknya,” tuturnya.
Ada pula percakapan kecil yang kini terasa begitu membekas. Ali dan Husin pernah bertanya kapan mereka akan disunat. Keluarga saat itu meminta keduanya bersabar, terutama karena Husin masih berusia tiga tahun. Bahkan dalam usia yang masih begitu belia, Husin sudah ingin mengikuti apa yang akan dijalani kakaknya.
"Mereka pernah minta, 'Kapan kami berdua disunat?' Kami jawab, 'Belum dulu, Nak. Sebentar lagi, ya.' Waktu itu kami lihat dulu karena yang kecil masih berusia tiga tahun. Dia juga sudah ingin disunat," cerita Ni'mah mengingat kembali perbincangan waktu itu.
Bagi keluarga, pertanyaan sederhana itu kini tinggal kenangan. Begitu pula kebiasaan keduanya mengikuti ayah mereka ke majelis taklim, mengaji, lalu pulang menjalani hari seperti anak-anak pada umumnya.
Pada Selasa sore sebelum kebakaran, mereka masih mengikuti kegiatan itu. Tak ada yang tahu bahwa beberapa jam kemudian, keluarga harus menghadapi kehilangan yang tak pernah dibayangkan.
Duka berlanjut hingga pemakaman. Di Kuburan Muslimin Gang 7, Kelurahan Baru, Kecamatan Tenggarong, Ali dan Husin akhirnya diantarkan ke peristirahatan terakhir. Hj Ni’mah Gani melepas kepergian dua cucunya yang sebelumnya masih tumbuh dalam rutinitas mengaji dan mengikuti majelis bersama ayah mereka.
Kini, rumah yang menjadi tempat mereka tidur dan berkumpul telah menjadi salah satu dari 11 bangunan yang terbakar. Namun, bagi keluarga, kehilangan yang paling berat bukanlah bangunan yang hangus atau harta yang tak lagi tersisa. Yang tak bisa kembali adalah Ali dan Husin, dua anak yang biasa mengikuti ayahnya ke majelis taklim, yang penurut kepada orang tua, dan yang kini hanya tinggal dalam ingatan.
Kebakaran di Gang Karya itu menyebabkan dua anak meninggal dunia dan seorang Hamri Noor, mengalami luka bakar hingga perlu menjalani perawaran intensif di RSUD AM Parikesit Tenggarong Seberang. Kerugian material sementara ditaksir mencapai Rp3 miliar. Polisi masih mendalami penyebab kejadian yang untuk sementara diduga akibat korsleting listrik.
Kepergian Ali dan Husin menambah panjang daftar duka akibat kebakaran permukiman di Tenggarong sepanjang 2026. Sebelum api melahap rumah mereka di Jalan Kartini, kebakaran lebih dahulu menghanguskan sejumlah rumah di kawasan Jalan Al Jawahir, Kelurahan Baru, pada Juli 2026. Kebakaran kemudian terjadi di Jalan Belida dan Jalan Pesut, Kelurahan Timbau, pada Juli dan September.
Belum genap dua bulan berselang, kebakaran besar kembali terjadi di kawasan permukiman padat penduduk. Senin (5/10/2026) sore, api melahap puluhan rumah di kawasan Jalan Danau Aji hingga Jalan AM Alimuddin, RT 33, Kelurahan Melayu. Puluhan keluarga kehilangan tempat tinggal. Meski tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, dampaknya terasa luas bagi warga yang kehilangan rumah dan harta benda.
Kini, hanya berselang delapan hari dari kebakaran besar di Kelurahan Melayu, api kembali melanda permukiman Tenggarong. Kali ini, kebakaran di Gang Karya tak hanya menyisakan rumah-rumah yang hangus, tetapi juga duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. (moe)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co