Ratusan Orang Mengantar Ustaz Hamri ke Peristirahatan Terakhir, Dakwahnya Tinggalkan Kenangan

Elmo Satria Nugraha • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 14:32 WIB
Prosesi pemakaman Ustaz Hamri, korban kebakaran Tenggarong di samping makam kedua buah hatinya (Elmo/Prokal.co)
Prosesi pemakaman Ustaz Hamri, korban kebakaran Tenggarong di samping makam kedua buah hatinya (Elmo/Prokal.co)

PROKAL.CO, TENGGARONG – Tanah makam Ahmad Ali Maulidy dan Husin Taufiqurrohman di Tempat Pemakaman Muslim Gang 7, Kelurahan Baru, Tenggarong, masih basah. Belum genap sehari sejak dua bocah itu dimakamkan, sang ayah, Hamri Noor, menyusul ke peristirahatan terakhirnya. Kamis (15/10/2026) dini hari, lelaki yang akrab disapa Ustaz Hamdi itu dimakamkan tepat di samping kedua anaknya.

Ratusan orang mengiringi perjalanan terakhirnya. Bagi keluarga, kehilangan itu menjadi duka yang datang bertubi-tubi. Bagi masyarakat yang mengenalnya, kepergian Hamri juga berarti hilangnya sosok yang selama bertahun-tahun mendedikasikan diri untuk dakwah dan kegiatan sosial.

Rombongan ambulans yang membawa jenazah Hamri dari RSUD AM Parikesit, Tenggarong Seberang, tiba di rumah duka di Jalan H. Djafar Seman, Kelurahan Baru, tepat pukul 00.00 Wita. Dari sana, jenazah kemudian digotong dengan lantunan sholawat dan tahlil menuju Tempat Pemakaman Muslim Gang 7, tempat dua anaknya lebih dahulu dikebumikan.

Hamri meninggal dunia pada Rabu (14/10/2026) malam setelah menjalani perawatan intensif akibat luka bakar lebih dari 75 persen yang dideritanya dalam kebakaran di Jalan Kartini, Gang Karya, Kelurahan Loa Ipuh. Dalam musibah yang terjadi pada Selasa (13/10/2026) malam itu, dua anaknya, Ali, 7, dan Husin, 3, meninggal dunia. Hamri sempat berusaha menyelamatkan keduanya dari kobaran api, tetapi mengalami luka bakar berat.

Di balik tragedi yang merenggut tiga nyawa dalam satu keluarga itu, ada sosok pendakwah yang dikenang karena kerendahan hati dan kemampuannya merangkul banyak orang.

Ahmad Fauzi Abdurrahman, sepupu almarhum, mengenang Hamri bukan sekadar sebagai anggota keluarga, melainkan juga sebagai sosok yang mengabdikan waktu dan ilmunya untuk masyarakat. Di lingkungan tempat tinggalnya, Hamri dikenal aktif menggelar majelis taklim dan kegiatan sosial.

“Beliau memang aktif sekali di bidang dakwah dan sosial. Ustaz Hamri Noor, atau kami biasa memanggilnya Kak Hamri, adalah sosok yang merangkul tetangga, anak-anak muda, hingga mereka yang sebelumnya belum terbiasa datang ke majelis taklim untuk ikut bergabung,” kata Fauzi.

Menurut dia, majelis At-Taufiq yang diasuh Hamri diisi dengan zikir, selawat, dan maulid. Kegiatan itu menjadi ruang berkumpul bagi berbagai kalangan, mulai dari anak-anak muda hingga ibu-ibu. Hamri tidak hanya mengajak mereka datang untuk beribadah, tetapi juga membangun kedekatan dengan masyarakat di sekitarnya.

Aktivitas dakwah tersebut telah berlangsung sejak Hamri masih muda. Bahkan sebelum Fauzi datang ke Tenggarong pada 2016, majelis yang digelar di rumah Hamri sudah berjalan. Setiap Selasa sore, rumah itu menjadi tempat masyarakat berkumpul mengikuti pengajian.

Pada Selasa sore sebelum kebakaran terjadi malam harinya, Hamri masih menjalankan kebiasaan tersebut. Ia mengisi majelis seperti biasa, diikuti warga yang datang untuk berzikir, berselawat, dan mempererat silaturahmi.

Tak ada yang menyangka, beberapa jam setelah majelis berakhir, rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat kegiatan keagamaan itu dilalap api. Musibah tersebut bukan hanya menghanguskan bangunan, tetapi juga merenggut dua anak Hamri dan kemudian menyusul dirinya.

Di luar aktivitas majelis, Hamri juga mengajar di PPKP Ribathul Khair, khususnya dalam bidang kepesantrenan. Bagi Fauzi, keterlibatan Hamri di lingkungan pendidikan dan dakwah memperlihatkan bagaimana lelaki itu mendedikasikan hidupnya untuk membagikan ilmu.

“Saya salut dengan keistikamahannya dalam mendedikasikan hidup dan ilmu untuk kegiatan dakwah,” ujarnya.

Fauzi juga mengenang kerendahan hati Hamri ketika berinteraksi dengan masyarakat. Menurut dia, dakwah almarhum dapat diterima berbagai kalangan karena pendekatannya yang mudah merangkul orang lain. Hamri tidak membatasi pergaulan hanya dengan mereka yang sudah terbiasa mengikuti kegiatan keagamaan.

Dahulu, Fauzi dan Hamri juga pernah mengadakan kegiatan bersama setiap malam Minggu di langgar. Seiring waktu, kesibukan masing-masing membuat kegiatan itu tak lagi rutin dilakukan bersama. Namun, kenangan tentang semangat Hamri dalam berdakwah tetap membekas bagi sepupunya tersebut.

“Yang paling membekas bagi saya adalah semangat beliau untuk terus mendedikasikan ilmunya bagi dakwah dan kedekatannya dengan masyarakat. Beliau mudah merangkul orang-orang di sekitarnya,” tutur Fauzi.

Di tengah kenangan tentang pengabdian itu, Fauzi juga mengingat bagaimana Hamri menyayangi keluarganya. Almarhum memiliki empat anak, terdiri dari seorang anak perempuan dan tiga anak laki-laki. Ali dan Husin, yang meninggal dalam kebakaran, merupakan anak ketiga dan keempat.

“Apalagi kepada anak-anaknya, Masya Allah, beliau sangat sayang sekali,” katanya.

Kini, rumah tempat Hamri menggelar majelis taklim telah menjadi puing. Suara zikir dan selawat yang biasa mengisi Selasa sore di tempat itu tinggal kenangan bagi mereka yang pernah hadir. Orang-orang yang dahulu datang untuk mengikuti pengajian kini mengantarkan sang ustaz ke peristirahatan terakhirnya.

Di pemakaman Gang 7, Hamri beristirahat di samping dua buah hatinya, Ali dan Husin. Tiga anggota keluarga itu kini telah berpulang setelah kebakaran yang bermula pada Selasa malam merenggut kehidupan mereka satu per satu.

Bagi masyarakat yang mengenalnya, kepergian Hamri bukan hanya kehilangan seorang ayah dan anggota keluarga, melainkan juga sosok yang selama bertahun-tahun mengajak orang mendekat pada majelis, merawat kebersamaan, dan membagikan ilmu. Jejak pengabdiannya kini tinggal dalam ingatan orang-orang yang pernah dirangkulnya. (moe)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kutai kartanegara