Cegah Gagal Panen saat Kemarau, Distanak Kukar Verifikasi Sumber Air Petani

Elmo Satria Nugraha • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:00 WIB
Kepala Distanak Kutai Kartanegara, Rifani (Istimewa)
Kepala Distanak Kutai Kartanegara, Rifani (Istimewa)

PROKAL.CO, TENGGARONG – Bantuan pompa air tak bisa menjadi solusi jika lahan pertanian tak memiliki sumber air yang bisa dimanfaatkan. Karena itu, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kutai Kartanegara (Kukar) lebih dulu memetakan ketersediaan air sebelum mengupayakan bantuan bagi petani yang menghadapi ancaman kekeringan.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan bantuan tepat sasaran sekaligus menekan risiko gagal panen saat musim kemarau. Ketersediaan sumber air menjadi pertimbangan utama agar pompa yang disalurkan benar-benar bisa digunakan untuk mengairi lahan.

Kepala Distanak Kukar Rifani mengatakan, pihaknya memverifikasi kondisi di lapangan sebelum menentukan bentuk penanganan. Jika sumber air tersedia dan memungkinkan dimanfaatkan, Distanak akan berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mengupayakan bantuan pompa.

“Yang kita verifikasi sumber airnya dulu. Kalau ada sumber airnya, kita support pompa,” ujar Rifani belum lama ini.

Pola tersebut sebelumnya diterapkan di Desa Kerta Buana, Kecamatan Tenggarong Seberang. Sekitar 209 hektare lahan pertanian di desa itu sempat terancam gagal panen akibat kekurangan air saat musim kemarau.

Distanak kemudian berkoordinasi dengan BPBD untuk mengupayakan bantuan pompa air beserta bahan bakar minyak (BBM). Dukungan itu membantu petani memenuhi kebutuhan pengairan hingga tanaman yang sebelumnya terancam akhirnya bisa dipanen.

“Alhamdulillah, sekarang mereka bisa panen. Jadi polanya kalau ada laporan, kita upayakan penanganannya,” jelasnya.

Pengalaman di Kerta Buana menjadi gambaran pentingnya penanganan berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Bagi Distanak, laporan mengenai kekeringan perlu ditindaklanjuti dengan memeriksa kebutuhan pengairan sekaligus memastikan sumber air yang dapat digunakan.

Dengan begitu, bantuan tidak sekadar berupa sarana, tetapi juga memiliki peluang untuk benar-benar menyelamatkan tanaman petani. Sebaliknya, jika sumber air tidak tersedia, penanganan membutuhkan pertimbangan lebih lanjut karena pompa saja tidak cukup untuk mengatasi kekurangan air.

Distanak Kukar mengandalkan laporan petani sebagai salah satu dasar untuk memetakan wilayah terdampak dan menentukan dukungan yang bisa diupayakan. Verifikasi tersebut menjadi langkah awal untuk menjaga tanaman tetap bertahan hingga panen dan menekan potensi kerugian petani akibat kemarau. (adv/moe)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kutai kartanegara