Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Jalan “Bubur” di Muara Ancalong, Warga Sampai Harus Lewat Parit    

Redaksi • 2026-01-08 14:48:52
Photo
Photo
RUSAK PARAH: Kondisi jalan penghubung antar desa di Kecamatan Muara Ancalong, Kutim, yang berlumpur saat hujan.
RUSAK PARAH: Kondisi jalan penghubung antar desa di Kecamatan Muara Ancalong, Kutim, yang berlumpur saat hujan.

PROKAL.CO, SANGATTA – Pembangunan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), jauh dari kata merata.

Di tengah geliat bisnis pertambangan batu bara dan pesatnya perkembangan perkebunan kelapa, masih tersimpan fakta yang memprihatinkan.

Pemerataan pembangunan di daerah berjuluk Tuah Bumi Untung Benua ini belum sepenuhnya dirasakan masyarakat di wilayah pedalaman.

Dengan 18 kecamatan yang tersebar luas, ketimpangan pembangunan masih tampak jelas.

Salah satunya di Kecamatan Muara Ancalong, kecamatan tertua di Kutim, yang hingga kini warganya masih mengeluhkan buruknya infrastruktur jalan.

Salah seorang warga Muara Ancalong, Angga Gilang Permadi, mengatakan kerusakan terjadi pada jalan utama di ibu kota kecamatan yang menjadi akses vital penghubung antar desa.

Jalan tersebut menghubungkan Desa Kelinjau Ulu, Desa Kelinjau Ilir, hingga Desa Senyiur.

“Itu jalan utama, akses satu-satunya masyarakat. Untuk jaraknya itu dari desa Kelinjau Ulu menuju Senyiur itu jaraknya 34 kilometer. Cuma yang rusak itu ada beberapa titik,” kata Angga, Rabu (7/1/2025).

Menurutnya, kerusakan jalan kerap berulang setiap musim hujan karena badan jalan masih berupa tanah merah.

Di beberapa titik, khususnya Km 1 hingga Km 3 dan Km 7.

“Setiap musim hujan pasti rusak. Selama ini tidak ada penanganan serius, baik dari pemerintah daerah maupun koordinasi antara kecamatan, desa, dan perusahaan,” ujarnya.

Angga menyebut, sempat ada perusahaan yang menurunkan alat berat untuk perbaikan, tapi hanya sebatas pengerukan tanpa pengerasan, sehingga kerusakan kembali terjadi.

Padahal, jalan tersebut juga dilalui kendaraan perusahaan perkebunan dan menjadi jalur utama masyarakat untuk beraktivitas.

“Mayoritas warga itu karyawan perusahaan sawit. Jalan itu satu-satunya akses untuk berangkat kerja,” jelasnya.

Akibat kerusakan jalan, warga terpaksa menggunakan jalur alternatif dengan ketinting melalui parit-parit besar di pinggir jalan.

Angga mengungkapkan, perbaikan jalan tersebut telah dianggarkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim untuk tahun 2026 melalui skema multiyears.

Namun, hingga kini, warga masih harus bersabar menghadapi kondisi jalan yang rusak.

“Informasinya sudah dianggarkan tahun 2026, tapi pastinya kami belum tahu detailnya,” ucapnya.

Ia juga menilai, masyarakat Muara Ancalong masih merasa tertinggal dibanding wilayah lain di Kutim, terutama Sangatta.

Ketimpangan pembangunan disebut sangat kontras, tidak hanya pada infrastruktur jalan, tetapi juga layanan dasar lainnya.

“Kalau dibandingkan dengan Sangatta, jauh sekali. Hampir semua aspek tertinggal, bukan cuma jalan, tapi juga kesehatan dan fasilitas lainnya,” katanya.

Angga berharap, pemerintah daerah dan wakil rakyat dari daerah pemilihan setempat lebih serius menyerap dan memperjuangkan aspirasi masyarakat pedalaman.

“Kami berharap keluhan masyarakat benar-benar didengar. Jangan sampai kecamatan tertua justru terus tertinggal,” katanya. (*)
JUFRIADI

Editor : Faroq Zamzami
#pembangunan #jalan #kerusakan jalan #kutim #kaltim