Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Viral Orangutan Makan Sampah di Bengalon, BKSDA Kaltim Selamatkan dan Lepasliarkan ke Hutan Mesangat

Muhamad Yamin • 2026-02-03 21:47:20
Pemindahan orangutan.
Pemindahan orangutan.

PROKAL.CO, KUTAI TIMUR – Video viral yang memperlihatkan seekor orangutan mengais sisa makanan di tumpukan sampah liar di tepi Jalan Poros Sangatta–Bengalon, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, memantik perhatian publik. Lokasi tersebut diketahui berada di jalur perlintasan orangutan yang hutannya telah terfragmentasi akibat aktivitas tambang batu bara dan kebun sawit.

Menindaklanjuti video tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama mitra Conservation Action Network (CAN) dan Center for Orangutan Protection (COP) langsung melakukan penelusuran di lapangan. Upaya pencarian membuahkan hasil pada Rabu (27/1/2026), ketika satu individu orangutan berhasil ditemukan tidak jauh dari lokasi video viral.

Kepala BKSDA Kalimantan Timur, M Ari Wibawanto, mengatakan keberadaan orangutan tersebut dipastikan berada di wilayah Kabupaten Kutai Timur berdasarkan penelusuran jejak digital dan informasi masyarakat.

Berdasarkan video viral dan informasi di lapangan, kami langsung mengirim tim Wildlife Rescue Unit (WRU) ke lokasi. Dipastikan aktivitas orangutan itu berada di Jalan Poros Sangatta–Bengalon,” ujar Ari, Selasa 3 Februari 2026.

Orangutan tersebut diketahui berjenis kelamin jantan dewasa dengan perkiraan usia 18–20 tahun. Dari hasil pemeriksaan medis oleh tiga dokter hewan, kondisinya dinyatakan sehat dan masih memiliki sifat liar.

“Karena kondisinya sehat dan sifat liarnya masih ada, kami memutuskan untuk segera melepasliarkannya ke habitat alaminya, yakni di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kutai Timur,” jelasnya.

Ari menambahkan, proses penyelamatan harus dilakukan secepatnya karena keberadaan orangutan di pinggir jalan dinilai sangat berisiko.

“Lokasinya tidak selayaknya untuk orangutan. Di sekitarnya ada jalan, kebun sawit, hingga area tambang. Jika dibiarkan, sifat liarnya bisa semakin terdegradasi,” katanya.

Sementara itu, Founder sekaligus Direktur CAN Borneo, Paulinus Kristanto, mengungkapkan bahwa lokasi tempat orangutan tersebut mengais makanan merupakan pembuangan sampah liar yang sudah lama digunakan masyarakat, bukan tempat pembuangan resmi.

“Di kiri dan kanan lokasi itu hutannya sudah habis. Sekitar 50 sampai 100 meter dari situ sudah tambang semua. Berdasarkan keterangan warga, ini bukan pertama kali orangutan datang ke lokasi itu untuk mencari makan,” ujarnya.

Paulinus menekankan, kebiasaan membuang sampah sisa makanan di tepi jalan dapat memicu perubahan perilaku orangutan. Bau dan rasa makanan manusia membuat satwa dilindungi itu tertarik turun ke darat dan mendekati aktivitas manusia.

“Kalau orangutan sudah mengenali bau dan rasa makanan dari sampah, ketika makanan itu tidak ada lagi, kecenderungannya bisa masuk ke permukiman warga atau bahkan turun ke jalan dan berpotensi membahayakan,” jelasnya.

Ia juga mengaitkan kejadian ini dengan aktivitas pembukaan lahan besar-besaran di sekitar kawasan tersebut.

“Di dekat lokasi itu sedang ada proses land clearing. Habitat dan sumber pakan berkurang, sehingga orangutan bergerak mencari tempat yang paling mudah mendapatkan makanan, salah satunya tempat sampah,” pungkas Paulinus. (*)

Editor : Indra Zakaria