SANGATTA — Teka-teki mengenai penyebab meningkatnya debit air dan kekeruhan sungai di wilayah Sangatta mulai menemui titik terang. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutai Timur mengungkapkan adanya dugaan kerusakan serius pada sistem pengelolaan air milik PT Kaltim Prima Coal (KPC) di dua lokasi berbeda.
Berdasarkan verifikasi lapangan yang dilakukan tim Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup, terdapat indikasi kuat bahwa tanggul di Kolam Pelikan Selatan dan Lower Melaso mengalami kerusakan atau jebol. Kondisi ini diduga memicu aliran air dengan tingkat kekeruhan tinggi menuju Sungai Bendili, yang merupakan anak sungai dan bermuara langsung ke Sungai Sangatta.
Kepala DLH Kutim, Aji Wijaya Effendi, melalui tim teknisnya menjelaskan bahwa temuan ini didasari atas rusaknya infrastruktur jembatan dan bangunan di area Pelikan Selatan. Kerusakan tersebut mengindikasikan adanya hantaman volume air yang sangat besar yang kemudian mengalir ke Lower Melaso sebagai bagian dari satu kesatuan proses pengelolaan air tambang.
Selain dua kolam utama tersebut, petugas juga menemukan tanda-tanda limpasan air besar di kolam Melawi 2. Meski air di lokasi tersebut tidak terlihat keruh, kerusakan vegetasi di sekitarnya menunjukkan adanya arus kuat yang sempat keluar dari kolam. DLH menyimpulkan bahwa aliran dari fasilitas-fasilitas milik KPC ini memberikan kontribusi signifikan terhadap naiknya debit air di Kecamatan Sangatta Utara dan Sangatta Selatan.
Menyikapi temuan ini, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) telah menurunkan tim besar yang terdiri dari tiga direktorat dan tiga ahli dengan total 20 personel untuk melakukan investigasi mendalam. Sampel air telah diambil dari berbagai titik krusial dan saat ini tengah menjalani uji laboratorium. Seluruh hasil akhir dan sanksi yang mungkin dijatuhkan kini berada di bawah kewenangan kementerian.
Sebagai catatan, insiden serupa pada kolam Pelikan Selatan pernah terjadi pada tahun 2014 silam. Kala itu, KPC dijatuhi sanksi denda sebesar Rp11,7 miliar akibat luapan air yang mencemari lingkungan.
Di sisi lain, pihak manajemen PT KPC melalui General Manager External Affairs & Sustainable Development (ESD), Wawan Setiawan, membantah kabar mengenai jebolnya tanggul. Menurutnya, video yang beredar di masyarakat hanyalah fenomena air yang meluap (overflow) ke jalan tambang akibat curah hujan yang sangat tinggi, di mana air secara alami mencari titik terendah. Pihak perusahaan mengklaim kejadian tersebut hanya sempat menghambat mobilitas karyawan dan bukan merupakan kerusakan struktural pada tanggul.(*)
Editor : Indra Zakaria