PROKAL.CO, SAMARINDA — Geopark Sangkulirang-Mangkalihat terus didorong untuk mendapatkan status Geopark Nasional. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) bahkan menargetkan kawasan tersebut dapat naik kelas hingga menjadi Geopark Global yang diakui UNESCO. Kepala Dinas Pariwisata Kaltim Muhammad Faisal mengatakan, proses penetapan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat sebagai Geopark Nasional saat ini masih berjalan. Hasil evaluasi diharapkan sudah dapat diketahui secara verbal pada Oktober 2026.
“Geopark ini misi kita unuk ditetapkan nasional. Mudah-mudahan nanti setelah nasional ke UNESCO. Itu luar biasa,” ungkapnya diwawancarai di BigMall Samarinda, pada Kamis (20/8/2026) malam. Menurut pria yang karibnya disapa Faisal tersebut, status nasional akan semakin memperkuat upaya perlindungan kawasan sekaligus membuka peluang promosi yang lebih luas lagi.
“Insyaallah Oktober nanti sudah ada hasilnya. Apakah bisa ditetapkan nasional atau tidak. Kalau sudah ditetapkan nasional kan enak, semakin kuat kita menjaganya dan semakin kuat juga kita bisa promosinya,” katanya.
Faisal menyebut, berdasarkan hasil pembahasan sementara, kualitas Geopark Sangkulirang-Mangkalihat dinilai memiliki potensi kelas dunia. Karena itu, setelah memperoleh status nasional, pihaknya akan mendorong kawasan tersebut masuk dalam jaringan Geopark Global UNESCO.
“Dari bocoran mereka itu enggak kaleng-kaleng. Kelasnya sudah kelas dunia. Kita akan majukan ke UNESCO sebagai Geopark Internasional,” tegasnya. Sementara itu, Lead External Affair and Policy Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) Kaltim, Niel Makinuddin menjelaskan bahwa YKAN berperan sebagai tim teknis sekaligus pendukung Pemprov Kaltim dalam pengembangan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat.
Kolaborasi tersebut diperkuat melalui nota kesepahaman (MoU) dan perjanjian kerja sama (PKS) antara YKAN dengan Pemprov Kaltim dan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD). “Salah satu yang kita kerja samakan adalah pengembangan Geopark,” katanya diwawancarai di lokasi yang sama.
Ia menjelaskan, proses pengusulan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat telah dilakukan Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud sejak Agustus 2025. Tahapan berikutnya meliputi review berbagai dokumen, mulai dari rencana induk, kelembagaan, hingga dosier atau proposal pengajuan.
Dalam dosier tersebut terdapat sekitar 250 item yang menjelaskan secara rinci mengenai rencana pengelolaan kawasan, termasuk aspek pariwisata dan pemanfaatannya. Proses review dokumen berlangsung sejak September 2025 hingga Maret-April 2026. Review rencana induk dilakukan Bappenas, sementara dokumen lainnya diperiksa Kementerian terkait.
Setelah tahapan tersebut dinyatakan lolos, proses dilanjutkan dengan verifikasi teknis oleh Tim Verifikasi Teknis Geopark Nasional (TVGN). Tim tersebut telah melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah wilayah di Kutai Timur dan Berau pada 6-10 Juli 2026.
“Mereka datang berkunjung keliling ke Kutai Timur sama Berau. Dari pembicaraan secara informal itu mereka meyakini kita akan lolos,” beber Niel. Meski demikian, ia menegaskan hasil tersebut masih bersifat informal. Secara resmi, tim verifikasi akan menyampaikan rekomendasi kepada kementerian terkait setelah seluruh proses evaluasi dan revisi dokumen selesai.
Saat ini, beberapa revisi dokumen tengah dikerjakan berdasarkan hasil verifikasi lapangan. Revisi tersebut nantinya akan dibahas melalui forum focus group discussion (FGD).
Setelah FGD, TVGN akan memberikan rekomendasi terkait kelayakan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat untuk ditetapkan sebagai Geopark Nasional. “Mudah-mudahan lulus kumlot,” ujarnya. Niel memperkirakan hasil secara verbal dapat diketahui pada akhir Oktober 2026. Sementara keputusan resmi pemerintah pusat melalui surat keputusan diperkirakan diumumkan pada awal 2027, sekitar Maret hingga Mei.
Jika ditetapkan, Geopark Sangkulirang-Mangkalihat akan menjadi Geopark Nasional ke-27 di Indonesia. Saat ini terdapat 26 Geopark Nasional yang telah ditetapkan.
Punya Ekosistem Karst Lengkap
Niel mengatakan, keunggulan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat terletak pada luas dan kelengkapan ekosistemnya. Kawasan tersebut memiliki luas sekitar 26.634 kilometer persegi yang membentang di wilayah Kutai Timur dan Berau. “Geopark kita paket lengkap. Kalau yang lain seperti Raja Ampat itu pulau-pulau dan pantai, Gunung Sewu di daratan. Sangkulirang-Mangkalihat itu from ridges to reef, dari pegunungan sampai terumbu karang,” jelasnya.
Kawasan tersebut memiliki karakter karst yang beragam, mulai dari karst pedalaman, karst hulu, karst pesisir hingga karst kepulauan. Di wilayah Maratua, misalnya, terdapat puluhan titik kawasan pulau-pulau karst. Selain menjadi potensi wisata dan konservasi, keberadaan kawasan karst juga memiliki fungsi penting sebagai penyimpan air.
“Karst ini kan tandon air raksasa. Karena karakter ekosistem pesisir dari Berau sampai ke Kutai Timur itu kering, sehingga isu konservasi dari konteks air sangat penting,” pungkasnya. Karena itu, pengembangan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat tidak hanya diarahkan untuk pariwisata, tetapi juga untuk menjaga fungsi ekologis kawasan, khususnya konservasi sumber daya air di tengah kondisi musim kemarau. (*)
Editor : Indra Zakaria