Jika mengorok merupakan masalah bagi Anda atau orangdi sekitar Anda, jangan ragu untuk membicarakannya dengan profesional kesehatan yang dapat mengembangkan rencana pengobatan untuk Anda. (*)
Mendengkur atau ngorok merupakan suara yang dihasilkan saat seseorang tidur dan terjadi getaran pada jaringan lunak di tenggorokan. Ngorok biasanya disebabkan oleh penyempitan saluran udara bagian atas, seperti ketika jaringan lunak di tenggorokan atau dasar lidah mengendur dan menutupi saluran udara.
Seseorang cenderung ngorok saat tidur jika mereka kelebihan berat badan, berusia paruh baya atau lebih tua, atau wanita pasca menopause. Bunyi-bunyi ini biasanya semakin memburuk seiring bertambahnya usia.
Mengapa seseorang mendengkur saat tidur? Mengorok terjadi ketika pernapasan terhalang, yang bisa disebabkan oleh beberapa faktor seperti otot yang lemah, jaringan tenggorokan yang besar, atau bagian lunak di tenggorokan yang panjang.
Hal ini juga bisa menjadi tanda bahwa ada masalah kesehatan yang mengganggu pernapasan saat tidur, seperti penyumbatan hidung karena sinusitis atau alergi, polip hidung, atau deviasi septum.
Dari suara lembut yang serak hingga suara ngorok yang keras. Ngorok merupakan hal yang sering terjadi. Sekitar 45 persen orang dewasa mengalami ngorok saat tidur, namun tidak sering. Sementara 25 persen orang dewasa ngorok secara teratur.
Ngorok sering dianggap sebagai tanda bahwa seseorang sedang tidur nyenyak, tetapi dalam beberapa kasus, ngorok juga bisa menjadi gejala gangguan pada kesehatan yang lebih serius, bahkan dapat mengancam jiwa.
Dilansir dari Johns Hopkins Medicine pada Sabtu (17/2), berikut merupakan beberapa masalah kesehatan yang ditandai dengan adanya ngorok saat tidur.
1. Apnea Tidur (Sleep Apnea)
"Mengorok, terutama jika diselingi dengan jeda dalam napas dan suara keras saat pemiliknya mengambil napas lagi, bisa menjadi tanda sleep apnea obstruktif," kata Dr. Alan Schwartz, seorang ahli tidur dari Johns Hopkins.
"Sleep apnea merupakan risiko serius untuk penyakit jantung dan pembuluh darah. Ini harus dideteksi dan diobati secepat mungkin," pungkasnya lebih lanjut.
Individu dengan sleep apnea mengalami gangguan pernapasan singkat selama tidur mereka, dengan jeda yang terjadi 20 hingga 30 kali setiap jam. Akibatnya, kadar oksigen dalam darah turun dan otak membangunkan mereka dari tidur untuk mengambil napas.
Pada saat itu, jantung dan sistem kardiovaskular Anda harus bekerja lebih keras, serta dapat mengakibatkan Anda kehilangan tidur yang nyenyak.
Orang dengan sleep apnea berisiko mengalami konsekuensi kesehatan serius seperti detak jantung yang tidak teratur, tekanan darah tinggi, risiko lebih tinggi untuk serangan jantung dan stroke, risiko lebih tinggi untuk diabetes, dan risiko kecelakaan kendaraan bermotor karena mengantuk di siang hari.
Penelitian Johns Hopkins menunjukkan bahwa sleep apnea parah terjadi pada usia tua yang dapat meningkatkan risiko kematian dini hingga 46 persen.
Kabar baiknya, pengobatan dengan Continuous Positive Air Pressure (CPAP) dapat membantu membalikkan risiko kesehatan dengan meniupkan udara secara lembut ke tenggorokan untuk menjaga saluran nafas tetap terbuka.
2. Kekurangan Tidur
Mengorok bisa mengganggu kualitas dan jumlah tidur seseorang, dan dampaknya lebih dari sekadar merasa lelah keesokan harinya. Tidur memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan yang baik.
Kekurangan tidur dalam jangka waktu tertentu, bisa terkait dengan masalah kesehatan seperti obesitas, diabetes, dan penyakit jantung.Tidur yang cukup juga memberikan manfaat yang penting bagi kesehatan mental. Kesulitan tidur bisa membuat kehidupan sehari-hari terasa lebih stres dan kurang produktif.
Beberapa orang dengan insomnia kronis lebih mungkin mengalami masalah kesehatan mental, termasuk depresi. Menurut survei penelitian, orang yang kesulitan tidur cenderung memiliki masalah dalam memori dan pembelajaran.
Adapun, kebutuhan tidur setiap orang berbeda-beda, tetapi umumnya orang dewasa sehat membutuhkan sekitar 7 hingga 9 jam tidur setiap malam.
Jika mengorok merupakan masalah bagi Anda atau orangdi sekitar Anda, jangan ragu untuk membicarakannya dengan profesional kesehatan yang dapat mengembangkan rencana pengobatan untuk Anda. (*)