Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Kisah Juri Burung Kicau: Perlu Telinga Tajam di Tengah Riuh Kompetisi

Redaksi • 2025-05-19 09:15:00
Juri saat memantau burung kicau saat Sesi Penilaian.
Juri saat memantau burung kicau saat Sesi Penilaian.

Kompetisi burung berkicau telah menjelma menjadi ajang bergengsi serta ruang prestasi bagi para kicau mania di berbagai penjuru daerah. Di sinilah peran juri menjadi sorotan utama. Mereka harus memiliki kompetensi mumpuni dalam mengenali irama lagu, durasi kerja, gaya, dan volume suara berkicau seekor burung.

Oleh : Siti Sulbiyah

Suasana di Lapangan Burung Serbaguna Pontianak pagi itu begitu ramai, Minggu (11/5). Puluhan peserta dan ratusan penonton dari berbagai daerah memenuhi area perlombaan yang berlokasi di Komplek Mitra Raya Lestari 3, jalan Dr Wahidin, Pontianak.

Suara kicauan burung yang bersahut-sahutan terdengar dengan jelas. Di antara hiruk pikuk itu, berdiri belasan juri dengan wajah serius dan penuh konsentrasi. Mereka menyimak seksama kicauan belasan burung kacer yang digantung dalam barisan sangkar rapi.

Meski suasana di sekitar riuh, para juri tetap fokus. Telinga mereka terlatih membedakan setiap nada, tempo, irama lagu, dan volume suara. Mereka pun memegang catatan kecil di tangan masing-masing untuk menuliskan penilaian. Hasilnya mereka laporkan kepada seorang koordinator.

“Untuk saat ini juri kita siapkan 13 orang, dua orang sebagai ketua sisanya penilai di lapangan,” ungkap Vian Anggoro, panitia sekaligus penyelenggara kegiatan lomba. Lomba kicau burung hari itu, diambil dari nama sang penyelenggara, yakni Vian Anggoro Cup 1. Sebanyak 40 kategori dipertandingkan hari itu, dengan estimasi hampir 1.000 peserta turut ambil bagian. Tiga jenis burung menjadi andalan dalam kompetisi ini: murai batu, kacer, dan cucak ijo. Ketiganya dikenal sebagai bintang utama dalam dunia perburungan, terutama di kelas-kelas besar.

Even ini ternyata menyasar segmen yang luas. Tak hanya peserta dari kalangan ekonomi menengah ke atas, tapi juga banyak penggemar dari kalangan menengah ke bawah yang ikut serta.

Untuk menjaga kualitas penilaian, Vian menegaskan bahwa tim juri telah dipersiapkan jauh-jauh hari. Mereka merupakan juri lokal yang sudah berpengalaman dan paham betul karakter serta standar lomba kicau.

Sebagaimana kontes kicau burung pada umumnya, tak hanya ajang adu kualitas suara burung, tapi juga ajang unjuk profesionalisme para juri. Yudi, salah satu juri kicau burung dari Kota Pontianak. Ia telah menggeluti dunia perburungan selama dua dekade. Awalnya hanya hobi, kini ia kerap ditunjuk menjadi juri.

“Dulu saya mulai dari sekadar hobi, lama-lama jadi pemain, dan sekarang sudah 10 tahun jadi juri,” ujarnya. Yudi tergabung dalam lembaga juri Gita Nanda Nusantara, salah satu dari sekitar sepuluh lembaga juri di Kalimantan Barat.

Menurut Yudi, meski jenis burung berbeda, sistem penilaian secara umum seragam. Burung kicau seperti kacer, murai, dan cucak ijo dinilai berdasarkan empat pakem utama, yakni irama lagu, durasi kerja, gaya, dan volume suara. Keempatnya punya porsi penilaian tersendiri, dengan irama lagu sebagai aspek terpenting.

“Burung yang bagus itu lagunya bervariasi, bisa meniru suara burung lain,” jelasnya. Durasi kerja dinilai dari konsistensi burung berkicau sejak awal sampai akhir penilaian. Burung yang hanya aktif di awal atau di akhir bisa memperoleh nilai lebih rendah.

Penilaian gaya juga tak kalah penting. Penilaian ini dapat dilakukan dengan penglihatan secara langsung. Secara fisik, burung harus tampil sehat, tidak cacat Untuk gaya, ini sangat dinamis tergantung masing-masing karakter jenis burung. Tapi intinya, burung bunyi (berkicau) di atas tangkringan dan tampil menarik sewaktu berkicau.

 

Selain itu, burung tidak turun ke lantai atau terbang ke jeruji. Jika itu terjadi, langsung terkena diskualifikasi. “Gaya itu dilihat saat burung berkicau di atas tangkringan, bagaimana ia menampilkan diri,” kata Yudi.

Volume juga jadi penentu penting. “Suara yang keras dan jelas lebih baik daripada yang tipis atau samar. Kekekekannya juga dinilai. Semakin panjang, semakin baik,” tambahnya. Penilaian ini dilakukan dengan panduan khusus, termasuk form penilaian dan aturan baku yang tak bisa diganggu gugat.

Sementara itu, Heri OB dari Lembaga Juri Independen Borneo, yang telah menjadi juri sejak tahun 2001, menambahkan bahwa karakter burung juga sangat mempengaruhi hasil lomba.

“Setiap burung punya sifat dan bawaan sendiri. Ada yang rajin ngoceh, ada yang diam tapi tiba-tiba menembak,” katanya. Ia menjelaskan bahwa penilaian telah mengalami penyempurnaan dari waktu ke waktu. Kini irama lagu memiliki bobot paling tinggi, yakni 35 persen.

Dari segi volume memang harus bagus, tetapi irama jauh lebih diutamakan. “Suara burung harus keras tapi juga punya mutu. Ada yang suaranya kencang tapi monoton, itu juga tidak cukup,” ujar Heri.(sti)

Editor : Indra Zakaria