Catatan: Chardlyta Belva Umboh
(Mahasiswi IPB University)
PROKAL.CO-Berdasarkan data Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) dan Badan Reserse Kriminal, Kepolisian RI (Bareskrim Polri), peningkatan jumlah kasus bunuh diri di Indonesia pada rentang waktu 2020-2024 atau lima tahun terakhir bertambah hingga 60 persen.
Bunuh diri menjadi salah satu penyebab kematian paling tinggi di dunia dan ditemui pada remaja hingga dewasa dengan rentang usia dari 15 sampai 29 tahun.
Hal tersebut menjadi bukti bahwa kasus ini harus menjadi perhatian khusus.
Bunuh diri merupakan masalah kejiwaan yang kompleks. Perilaku ekstrem ini disebabkan oleh banyak faktor.
Bunuh diri dapat terjadi karena adanya berbagai faktor, antara lain sikap impulsif, mental yang tidak stabil, tekanan dari lingkungan keluarga, korban perundungan, penyalahgunaan obat-obat terlarang, masalah keuangan, dan juga masalah asmara atau percintaan.
Jika diperhatikan faktor utama dari penyebab bunuh diri adalah karena kesehatan mental yang tidak stabil.
Cinta merupakan hubungan emosional yang erat antarpersonal.
Percintaan menjadi salah satu faktor penyebab bunuh diri ketika seseorang melibatkan rasa cinta yang berlebihan sehingga seseorang begitu tergila-gila dalam sebuah hubungan.
Hal itu disebut dengan fenomena budak cinta atau biasa disebut dengan bucin.
Perilaku tersebut menjadi pertanyaan besar mengapa rasa cinta dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang sehingga bisa berdampak merugikan?
Percintaan dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang secara signifikan. Hal tersebut disebabkan ketika seseorang sudah masuk ke tahap menjadi seseorang yang bucin.
Ketika seseorang menjadi budak cinta ia akan cenderung menganggap pasangannya adalah segalanya baginya sehingga akan kebergantungan secara emosional.
Kebergantungan secara emosional mengakibatkan seseorang akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi sempurna di mata pasangannya.
Hal tersebut dilakukan karena orang yang kebergantungan secara emosional terhadap pasangannya menganggap bahwa letak kebahagiaannya hanya bergantung kepada pasangannya saja.
Perilaku kebergantungan tersebut dapat menjadi pemicu pikiran bahwa ia harus selalu bersikap dan tampil cukup baik di mata pasangan untuk tetap merasa aman dan bahagia.
Ketika seseorang terlalu menggantungkan kebahagiaannya kepada orang lain akan menyebabkan low self-esteem.
Self-esteem (harga diri) adalah penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri.
Seseorang yang memiliki self-esteem yang tinggi cenderung akan lebih menghargai dirinya sendiri dan menyadari bahwa sumber kebahagiaan adalah bersumber dari dirinya sendiri.
Namun, sebaliknya jika seseorang memiliki self-esteem yang rendah dapat menyebabkan seseorang merasa tidak berharga, tidak kompeten, dan tidak layak untuk dicintai.
Alasan mengapa seseorang bisa memiliki low self-esteem dapat terjadi karena banyak faktor, seperti pola asuh orang tua yang sering membandingkan anak, korban kekerasan, korban pelecehan, tuntutan dari lingkungan untuk selalu sempurna, dan lain-lain.
Lalu, bagaimana cara agar menjalin hubungan tanpa terlalu kebergantungan terhadap pasangan?
- Belajar menikmati waktu sendiri
Dalam menjalin hubungan, kedekatan emosional dengan pasangan sering kali menjadi prioritas utama. Namun, seberapa penting menjaga kemandirian dalam sebuah hubungan?
Hubungan yang sehat bukan hanya tentang kedekatan, tetapi juga tentang keseimbangan antara kebergantungan dan kemandirian.
Sebuah hubungan yang kuat memungkinkan setiap individu untuk tumbuh bersama, sekaligus berkembang secara mandiri.
Oleh karena itu, menjaga identitas pribadi dan tidak sepenuhnya bergantung pada pasangan adalah langkah penting dalam menciptakan hubungan yang lebih sehat.
- Mengembangkan hobi
Salah satu cara untuk membangun kemandirian dalam hubungan adalah dengan mengembangkan hobi atau minat yang tidak selalu melibatkan pasangan.
Dengan menjalani aktivitas yang disukai, seseorang bisa menemukan kebahagiaan di luar hubungan dan tidak hanya berpusat pada pasangan.
Kemandirian emosional juga diperkuat dengan mengenali keunggulan diri.
Dengan menyadari kemampuan diri, seseorang tidak akan terlalu bergantung pada validasi orang lain, termasuk pasangan.
- Perluas jaringan pertemanan
Di sisi lain menetapkan batasan dalam hubungan juga merupakan langkah krusial.
Memahami batasan dalam interaksi dengan pasangan membantu seseorang menghindari perilaku yang terlalu melekat.
Batasan ini mencakup waktu pribadi, ruang untuk berkembang, dan keseimbangan dalam mengambil keputusan bersama.
Dengan memahami pentingnya keseimbangan dalam hubungan, seseorang dapat mencintai tanpa kehilangan jati diri.
Menjalin hubungan yang sehat bukan berarti mengorbankan kemandirian, tetapi justru saling mendukung untuk tumbuh bersama.
Dengan memiliki self-esteem yang kuat, menikmati waktu sendiri, mengembangkan hobi, serta memperluas jaringan sosial, seseorang dapat membangun hubungan yang lebih harmonis tanpa kebergantungan berlebihan.
Pada akhirnya, cinta yang sehat adalah cinta yang memberi ruang untuk berkembang, bukan yang membatasi. (*)
Editor : Faroq Zamzami