Dunia maya lagi-lagi diguncang sama tren viral yang datangnya bukan dari Seoul atau New York, tapi dari Sungai Kuantan, Riau! Yup, budaya tradisonal Indonesia ini bernama Pacu Jalur tiba-tiba jadi viral di perbincangan global setelah klub sepak bola Paris Saint-Germain (PSG) ikut menggungah video bergaya joget “Aura Farming” aka bocah penari perahu.
Dalam unggahan video pendek TikTok dan Instagram resmi PSG, beberapa pemain bola top, seperti Bradley Barcola terlihat menirukan gerakan energik ala si “Anaka Coki” julukan buat penari cilik di perahu Pacu Jalur. Dengan diringi audio khas musik tradisonal Pacu Jalur, video diberi caption: “His aura reached Paris”. Gak butuh waktu lama, netizen Indonesia langsung heboh. Komentar bangga, lucu samapi terharu langsung membanjiri akun PSG.
Apa Itu Pacu Jalur?
Pacu Jalur adalah lomba mendayung tradisonal dari Kuantan Singingi, Riau, yang udah ada sejak abad ke-17. Perahunya panjang banget—bisa diisi sampai 60 orang. Tapi bukan cuman lombanya yang seru, yang paling mencuri perhatian adalah si penari cilik di haluan. Bocah ini bakal berdiri di ujung perahu sambil nari heboh dengan pakaian adat, ngasih semangat buat timnya sambil “ngedrop aura”.
Nah dari sinilah istilah “Aura Farming” muncul—karena energinya si anak dianggap nular ke seluruh kru perahu. Lucu, keren, dan ternyata, FYP-able banget.
Ketika Budaya Lokal Tiba-Tiba Go Global
Kita gak nyangka budaya seunik Pacu Jalur bisa viral, tapi nyatanya PSG bukan satu-satunya. Klub lain AC Milan juga ikutan tren ini. Mereka bahkan bikin konten pakai maskot bola yang joget dengan tulisan “Aura Farming 1899%”
Yang menarik, tren ini bukan dibuat oleh pemerintah atau diplomat. Tapi organik, murni dari internet dan warganet. Inilah bentuk soft power baru versi Gen Z—di mana budaya lokal bisa dikenal dunia lewat TikTok, sound viral, dan vibe otentik.
Apa Peran Kita? Tren ini jadi pengingat bahwa budaya lokal gak perlu dimodifikasi berlebihan untuk bisa diterima dunia. Cukup dijaga, dibanggakan, dan diperkenalkan dengan cara yang relate.
Dan di sinilah Gen Z punya peran besar—dari editor konten, kreator, sampai penonton yang rajin share dan komen. Semua terlibat dalam diplomasi budaya model baru. Satu video anak kecil joget di ujung perahu—yang dulu cuman disaksikan warga kampung dan panitia lomba—sekarang bisa ditonton jutaan orang di seluruh dunia.
Ini bukan sekedar tren, tapi bukti bahwa budaya kita bisa besar kalau kita percaya dan terus rawat. Jadi, siapa bilang budaya lokal cuman bisa disimpan di museum? Kadang, yang kita butuh cuman satu video—dan sisanya tinggal kita sebarkan bareng. (ARSANDHA AGADISTRIA PUTRI)
Editor : Indra Zakaria