Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kenapa Makan Nasi di Indonesia Bisa Jadi Masalah Global?

Redaksi • 2025-07-14 13:48:57
Ilustrasi nasi
Ilustrasi nasi

Di Indonesia, nasi bukan sekedar makanan pokok, ia adalah identitas, kebiasaan harian, bahkan simbol kemakmuran. Tapi tahu gak sih bubuhan, kalau sepiring nasi yang kita makan hari ini bisa sangat dipengaruhi oleh krisis iklim, perang, dan kebijakan negara lain?

Saat negara seperti India dan Vietnam membatasai ekspor beras, dunia langsung waspada. Tahun 2023 misalnya, ketika India mengurangi ekspor beras untuk menjaga stok dalam negeri akibat cuaca ekstrem, harga beras dunia langsung melonjak, dan Indonesia kena imbasnya. Negara seperti Indonesia yang masih mengimpor sebagian kebutuhan berasnya jadi ikut was-was, pasokan cukup gak? Harga bakal naik lagi gak?

Negosiasi antar negara untuk saling memasok beras itu bukan urusan kecil. Ini termasuk dalam jalur diplomasi pangan, bahkan bisa mempengaruhi hubungan antar negara loh. Indonesia selama ini mengadalkan impor dari negara seperti Thailand, Vietnam, Pakistan, dan India. Kalau satu saja dari negara itu menutup kran eskpornya, Indonesia haru segera cari alternatif atau Bersiap krisis.

Menurut data Badan Pusat Statiska (BPS) 2023, Indonesia mengimpor lebih dari 2 juta ton beras dan jumlah ini berpotensi bertambah karena perubahan iklim mengganggu panen dalam negeri. FAO (Organisasi Pangan Dunia) juga mencatat bahwa gangguan rantai pasok pangan global bisa memicu inflasi dan instabilitas sosial, terutama di negara-negara berkembang.

Meski Kaltim bukan lumbung padi utama, kebutuhan beras di daerah ini sangat bergantung pada distribusi dari luar. Jika pusat terguncang, harga beras di pasar lokal bisa langsung naik. Bahkan menurut pantauan Pusat Infromasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga beras medium di Samarinda sempat naik hingga Rp.15.000/kg saat India membatasi ekspor.

Padahal Kaltim diproyeksikan jadi Ibu Kota Negara baru. Artinya, kebutuhan pangan akan makin besar. Tapi apakah kita sudah siap produksi? Atau justru makin banyak bergantung pada jalur diplomasi dan distribusi luar?

Krisis pangan bukan lagi soal gagal panen di satu wilayah. Ini soal cuaca ekstrem global, perang (seperti Rusia-Ukrania yang bikin ekspor gandum macet), dan krisis iklim yang menghantam produksi pertanian.

Indonesia perlu memperkuat posisi dalam diplomasi pangan global, dengan menjalin lebih banyak kerja sama bilateral, membangun cadangan pangan nasional, hingga memperkuat pertanian lokal.

Dan buat warga Samarinda, Balikpapan, atau Kutai, ini jadi pengingat bahwa urusan makan pun sekarang gak bisa dilepas dari utusan politik internasional. (Arsandha Agadistria Putri)

Editor : Indra Zakaria