Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Bolehkan Bersahabat dengan Mantan? Psikolog Ingatkan Pentingnya Batasan Emosional bagi Pasangan

Redaksi Prokal • Kamis, 1 Januari 2026 - 20:30 WIB
ilustrasi pria dan wanita
ilustrasi pria dan wanita

PROKAL.CO- Pertanyaan mengenai apakah seseorang boleh tetap menjalin hubungan persahabatan dengan mantan kekasih sering kali menjadi perdebatan dalam sebuah hubungan asmara. Menanggapi fenomena ini, psikolog konseling Dr. Ashish Pandey memberikan perspektif mendalam mengenai realitas emosional yang sering kali terabaikan.

Menurut Dr. Pandey, mengharapkan pasangan saat ini merasa sepenuhnya nyaman jika Anda tetap bersahabat dengan mantan adalah hal yang sering kali tidak realistis. Ia menilai, ekspektasi semacam itu cenderung mengabaikan batasan emosional alami manusia.

"Bahkan jika niat seseorang tetap berteman dengan mantan itu tulus, keberadaan mantan pasangan tetap berisiko memicu rasa cemas, memicu perbandingan, hingga menciptakan kerentanan dalam hubungan yang sedang dijalani," jelas Pandey sebagaimana dilansir pada Kamis (1/1/2026).

Cemburu Bukan Berarti Tidak Dewasa

Dalam diskursus hubungan modern, rasa cemburu kerap diberi label negatif sebagai tanda ketidakamanan (insecurity) atau kurangnya kedewasaan emosional. Namun, Dr. Pandey menyanggah penyederhanaan tersebut. Dari sisi psikologis, ketika seorang mantan masih memiliki akses emosional, otak manusia secara alami memandangnya sebagai sebuah risiko, bukan sebuah kelemahan karakter.

“Rasa cemburu menjadi tidak sehat hanya saat mulai mengendalikan perilaku secara obsesif. Namun, jika cemburu muncul sebagai bentuk kebutuhan akan kepastian dan kejelasan, itu sebenarnya adalah reaksi yang sehat,” tambahnya.

Jejak Memori Implisit: Mengapa Sulit "Benar-Benar" Selesai? Dr. Pandey menjelaskan bahwa kedekatan di masa lalu tidak hilang begitu saja meskipun seseorang mengaku sudah melupakan atau move on. Otak manusia tidak menghapus pengalaman emosional, melainkan menyimpannya dalam jalur saraf. Kenangan bersama meninggalkan jejak keterikatan dan refleks emosional yang bisa muncul kembali secara tidak sadar.

"Inilah mengapa keakraban dengan mantan bisa tetap terasa emosional. Pola lama bisa muncul kembali saat seseorang mengalami stres, dan perbandingan bawah sadar bisa terjadi tanpa disengaja," urai Pandey.

Membangun Kepercayaan yang Sehat Alih-alih memaksakan pasangan untuk menerima kehadiran mantan, Dr. Pandey menyarankan agar pasangan fokus pada pembangunan keamanan emosional melalui empat pilar utama yakni ; 

Keterbukaan: Berkomunikasi tanpa ada rahasia yang disembunyikan.

Batasan Jelas: Menyepakati batasan interaksi yang bisa diterima oleh kedua belah pihak.

Loyalitas Emosional: Memastikan bahwa energi emosional utama hanya diberikan kepada pasangan saat ini.

Prioritas: Menempatkan perasaan pasangan saat ini di atas keinginan untuk menjaga hubungan dengan masa lalu.

Pandey menegaskan bahwa move on yang sebenarnya datang dari keberhasilan memproses masa lalu secara tuntas, bukan sekadar menghindarinya. “Jika interaksi dengan mantan menimbulkan kebingungan, rahasia, atau perpindahan emosi, itu tandanya batas telah terlampaui. Kepercayaan bukan berarti keterbukaan tanpa batas, melainkan menciptakan ruang aman bagi pasangan,” pungkasnya. (*)

Editor : Indra Zakaria