Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Rajin Beribadah Tapi Korupsi? Bagaimana Pandangan dalam Sisi Agama

Redaksi Prokal • 2026-01-15 12:05:00
Ilustrasi korupsi.
Ilustrasi korupsi.

PROKAL.CO- Pernyataan komika Pandji Pragiwaksono dalam program Mens Rea baru-baru ini memicu diskusi hangat di tengah masyarakat. Pandji menyoroti fenomena sosial di mana masyarakat sering kali memilih pemimpin hanya berdasarkan indikator kesalehan ritual, seperti kebiasaan rajin salat. Ucapan ini membuka ruang refleksi yang lebih dalam: benarkah salat dapat dijadikan standar mutlak kebaikan dan integritas seseorang?

Secara teologis, salat diyakini sebagai ibadah utama yang membawa dampak positif bagi kehidupan spiritual dan sosial. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Ankabut ayat 45, Allah SWT berfirman bahwa salat sesungguhnya mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Secara teori, salat memiliki daya dafi’ah atau penolak terhadap kemaksiatan. Namun, realitas sosial sering kali menunjukkan paradoks di mana seseorang yang rajin beribadah justru terjerat kasus moral atau hukum, seperti korupsi.

Antara Ritual dan Esensi

Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa salat yang mampu mencegah kemungkaran bukanlah sekadar rutinitas gerakan, melainkan salat yang memenuhi rukun, syarat, dan kekhusyukan batin. Ketika seseorang mengucapkan Allahu Akbar, ia seharusnya sadar bahwa dunia dan isinya kecil, sehingga tidak ada alasan untuk mengejar materi dengan cara yang khianat.

Kesadaran akan pengawasan Tuhan (muraqabah) adalah kunci. Seseorang mungkin bisa menyembunyikan keburukan dari penilaian manusia, namun bagi mereka yang salatnya sungguh-sungguh, kesadaran akan kehadiran Allah tidak mungkin disatukan dengan perbuatan khianat atau merugikan orang lain.

Peringatan bagi "Salat Tanpa Ruh"

Perspektif para sufi dan ahli hakikat, termasuk Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, mengingatkan bahwa salat tanpa kehadiran hati (khudurul qalb) ibarat jasad yang mati. Masalah muncul ketika ibadah dianggap selesai di atas sajadah, sementara urusan dengan sesama manusia dipandang tidak berkaitan dengan tanggung jawab akhirat.

Kondisi ini memicu bentuk penipuan diri yang berbahaya, di mana ibadah lahiriah justru digunakan sebagai tameng atau topeng untuk menutupi buruknya perilaku sosial. Ibnu Mas’ud bahkan menegaskan, “Tidak ada salat bagi orang yang tidak menaati salatnya,” yang berarti tunduk pada pesan moral di balik gerakan tersebut.

Barometer, Bukan Stempel

Pada akhirnya, salat memang seharusnya menjadi barometer kualitas hidup seorang Muslim secara utuh. Namun, dalam konteks sosial maupun memilih pemimpin, masyarakat diingatkan untuk tidak serta-merta menganggap orang yang rajin salat sebagai sosok yang sudah pasti baik secara otomatis. Kesalehan ritual harus berjalan beriringan dengan kesalehan sosial dan integritas moral.

Salat adalah janji perubahan perilaku bagi pelakunya. Jika perilaku keji tetap jalan terus, maka yang perlu dievaluasi bukanlah ibadahnya, melainkan kejujuran dan kualitas dari pelaku salat tersebut dalam menghadap Sang Pencipta. (*)

Editor : Indra Zakaria