Menunjukkan empati kepada orang yang baru saja kehilangan orang terkasih tidak selalu mudah. Seringkali, niat baik untuk menghibur justru berujung menyakiti perasaan karena pemilihan kata yang kurang tepat. Psikolog Klinis lulusan Universitas Indonesia, Ratriana Naila Syafira, M.Psi., Psikolog, menekankan pentingnya menjaga batasan komunikasi saat berhadapan dengan orang yang tengah berduka dilansir Antara.
Salah satu poin utama yang harus dihindari adalah menanyakan detail kematian secara langsung. Pertanyaan seperti "Sakit apa?", "Kok bisa mendadak?", atau "Kapan terakhir bertemu?" sebaiknya dipendam terlebih dahulu. Menurut Ratriana, pertanyaan detail seperti itu hanya boleh ditanggapi jika pihak yang berduka lebih dulu membuka cerita. Memaksa mereka bercerita hanya akan membuat mereka mengulang momen traumatis yang belum sanggup mereka proses secara emosional.
Selain itu, pertanyaan bernada menghakimi atau menyalahkan sangat dilarang. Kalimat seperti "Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit lebih awal?" atau "Kenapa penanganannya lama?" bisa memicu rasa bersalah yang mendalam bagi mereka yang ditinggalkan. "Meskipun tidak bermaksud menyalahkan, pertanyaan ini sering membuat mereka mempertanyakan diri sendiri dan merasa gagal memberikan yang terbaik," jelas Ratriana.
Psikolog yang berpraktik di Biro Psikologi Rali Ra, Bekasi ini juga menyarankan untuk tidak terlalu sering menuntut orang berduka agar "harus kuat" atau "tabah". Kalimat tersebut secara tidak langsung menutup ruang bagi mereka untuk bersikap rapuh. Padahal, merasakan dan memproses emosi negatif sangat penting agar tidak menjadi dampak negatif jangka panjang di masa depan.
Terakhir, Ratriana mengingatkan untuk menghindari perilaku "adu nasib" atau membandingkan pengalaman duka antarindividu. Setiap orang memiliki cara dan durasi yang berbeda dalam memproses kesedihan. Saling membandingkan penderitaan hanya akan membuat orang yang ditinggalkan merasa pengalamannya diabaikan dan tidak dipahami. Dukungan terbaik yang bisa diberikan cukup dengan kehadiran yang tenang, tanpa menghakimi, dan memberikan waktu yang cukup bagi mereka untuk menyembuhkan luka secara perlahan.(*)
Editor : Indra Zakaria