Banyak orang berharap momen Ramadan menjadi ajang efektif untuk menurunkan berat badan. Secara logika, pembatasan waktu makan selama belasan jam seharusnya mampu mengurangi asupan kalori. Namun, realitanya justru banyak yang mendapati jarum timbangan tetap stagnan atau bahkan bergeser ke kanan.
Menurut Harvard T.H. Chan School of Public Health, puasa memang mengubah pola makan, namun tidak secara otomatis menurunkan berat badan. Kunci utamanya tetap berada pada keseimbangan antara kalori yang masuk dan energi yang dikeluarkan. Sebuah studi dalam National Center for Biotechnology Information bahkan menyebutkan bahwa penurunan berat badan saat Ramadan sering kali bersifat sementara jika pola hidup tidak dijaga.
Lantas, apa yang membuat misi langsing saat puasa kerap gagal? Berdasarkan pedoman dari WHO dan Mayo Clinic, Rabu (25/2/2026), berikut adalah enam faktor pemicu utamanya:
Jebakan Takjil yang Terlalu Manis dan Berlemak
Godaan berbuka dengan kolak, es sirup, hingga aneka gorengan memang sulit ditolak. Namun, makanan tinggi gula dan lemak jenuh ini menyebabkan lonjakan kalori yang sangat drastis dalam waktu singkat. WHO menyarankan pembatasan gula tambahan demi mencegah gangguan metabolisme yang justru membuat lemak sulit luruh.
Porsi Makan "Balas Dendam"
Rasa lapar yang tertahan seharian sering kali memicu keinginan untuk makan berlebihan saat magrib tiba. Mayo Clinic memperingatkan bahwa makan dalam porsi besar sekaligus dapat meningkatkan asupan kalori harian secara signifikan, sehingga target defisit kalori tidak akan pernah tercapai.
Minuman Manis yang Tidak Disadari
Sering dianggap ringan, kalori cair dari es teh manis atau kopi susu gula aren sebenarnya berkontribusi besar pada total asupan harian. Harvard Health Publishing menjelaskan bahwa minuman manis lebih berbahaya karena mudah dikonsumsi dalam jumlah banyak tanpa memberikan rasa kenyang yang lama.
Kurang Gerak Selama Berpuasa
Alasan lemas sering dijadikan dalih untuk berhenti beraktivitas fisik. Padahal, kurang bergerak berarti lebih sedikit kalori yang terbakar. Tanpa aktivitas rutin, tubuh cenderung masuk ke mode hemat energi dan menyimpan lebih banyak cadangan lemak.
Pola Tidur yang Berantakan
Jadwal sahur dan tarawih otomatis mengubah jam tidur. Sayangnya, kurang tidur dapat mengacaukan hormon pengatur nafsu makan. Cleveland Clinic menyebutkan bahwa kurang tidur meningkatkan hormon ghrelin (pemicu lapar), yang membuat keinginan untuk makan secara berlebihan meningkat di waktu berbuka maupun sahur.
Adaptasi Metabolisme Tubuh
Tubuh manusia sangat cerdas dalam beradaptasi. Saat asupan makanan berkurang, tubuh secara alami akan menurunkan laju metabolisme untuk menghemat energi. Riset dari NCBI menunjukkan bahwa adaptasi metabolik ini sering kali menjadi alasan mengapa hasil penurunan berat badan berbeda-beda pada setiap individu meskipun menjalani durasi puasa yang sama.
Dengan memahami faktor-faktor di atas, diharapkan masyarakat lebih bijak dalam menyusun menu berbuka dan sahur agar tujuan kesehatan di bulan suci dapat tercapai secara maksimal. (*)
Editor : Indra Zakaria