Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Antara Takhta dan Khianat: Kisah Radu yang Tampan, Adik Vlad Sang Penusuk di Jantung Ottoman

Indra Zakaria • 2026-03-08 06:15:00

Radu cel Frumos atau Radu yang Tampan (kiri) dan Sultan Mehmed II.
Radu cel Frumos atau Radu yang Tampan (kiri) dan Sultan Mehmed II.

KONSTANTINOPEL — Nama Vlad III, yang lebih dikenal sebagai Țepeș atau "Sang Penusuk," telah lama mendominasi catatan sejarah sebagai penguasa Wallachia yang bengis sekaligus inspirasi bagi legenda vampir Dracula. Namun, di balik bayang-bayang kekejamannya, terdapat kisah yang tak kalah memikat mengenai adik bungsunya, Radu cel Frumos atau Radu yang Tampan, sosok yang memilih jalan hidup yang bertolak belakang dengan kakaknya di tengah kemelut jatuhnya Konstantinopel.

Lahir sebagai putra dari istri ketiga Vlad II Dracul, Radu menghabiskan masa mudanya sebagai sandera politik di Kekaisaran Ottoman bersama Vlad. Di benteng Egrigoz, Anatolia, kedua pangeran Drăculești ini dididik dalam lingkungan yang kontras dengan tanah air mereka. Sambil mempelajari logika, sastra, serta bahasa Turki dan Persia, mereka juga ditempa dalam kemampuan militer dan berkuda yang mumpuni. Menariknya, di sinilah Vlad konon mulai mempelajari metode penyulaan (penancapan tombak) yang kelak menjadi ciri khas horornya, sementara Radu justru mulai terpesona oleh kemegahan budaya Timur.

Perbedaan karakter antara kedua bersaudara ini menjadi jurang pemisah yang permanen. Vlad tetap setia pada iman Kristennya dengan kebencian yang mendalam terhadap Ottoman, namun Radu yang lebih muda dan mudah dipengaruhi, memilih untuk memeluk Islam. Langkah ini membuka pintu Istana Topkapi baginya, menjadikannya bagian dari lingkaran elit di sekitar Sultan Mehmed II. Ketika sang Sultan memutuskan untuk melepaskan Vlad untuk merebut kembali takhta Wallachia, Radu memilih untuk tetap tinggal di Konstantinopel, hidup dalam kemewahan gaya hidup barunya yang memikat.

Ketidakhadiran Radu di Wallachia membuatnya terhindar dari tragedi berdarah yang menimpa keluarganya pada tahun 1447, di mana ayah dan kakaknya, Mircea, dibantai oleh para bangsawan pengkhianat. Saat Vlad akhirnya berhasil merebut takhta pada tahun 1456 dan melakukan pembersihan besar-besaran terhadap para bangsawan sebagai aksi balas dendam, Radu justru menikmati posisinya sebagai sekutu terdekat Sultan Mehmed II. Penulis sejarah Yunani, Laonikos Chalkokondyles, bahkan menggambarkan kedekatan luar biasa antara Radu dan sang Sultan sebagai bagian dari dinamika kekuasaan di istana.

Ironi sejarah ini mencapai puncaknya ketika dua bersaudara yang tumbuh bersama di pengasingan ini akhirnya harus berhadapan sebagai musuh. Vlad memposisikan dirinya sebagai benteng Kristen melawan ekspansi Islam, sementara Radu menjadi instrumen politik Ottoman untuk menjatuhkan kakaknya sendiri. Kisah Radu yang Tampan menjadi pengingat abadi bahwa di tengah badai penaklukan Konstantinopel, loyalitas sering kali tidak ditentukan oleh ikatan darah, melainkan oleh tempat di mana seseorang menemukan identitas dan perlindungan barunya. (*)

Editor : Indra Zakaria