PROKAL.CO— Dalam catatan sejarah perjuangan melawan kolonialisme di anak benua India, nama Nawab Fateh Ali Khan Bahadur—yang lebih dikenal oleh dunia dengan sebutan Tipu Sultan—menempati posisi yang sangat unik dan ikonik. Salah satu babak paling krusial adalah keterlibatannya dalam Perang Anglo-Mysore Kedua (1780-1784), di mana ia berhasil memberikan salah satu kekalahan paling telak bagi tentara Inggris.
Perang ini menjadi saksi ketangguhan taktik militer Mysore di bawah kepemimpinan Tipu Sultan dan ayahnya, Hyder Ali. Pada puncaknya, pasukan Mysore berhasil menawan sekitar 7.000 tentara Inggris, termasuk sejumlah besar personel militer dan tawanan wanita.
Diplomasi Penghinaan di Istana Mysore
Kemenangan ini tidak hanya dikenang karena keberhasilan militernya, tetapi juga karena cara Tipu Sultan dalam memperlakukan para tawanan perangnya sebagai bentuk perlawanan psikologis terhadap arogansi kolonial saat itu.
Berdasarkan catatan sejarah dari periode tersebut, terdapat laporan bahwa Tipu Sultan melakukan tindakan penghinaan yang sangat spesifik terhadap para serdadu Inggris yang tertangkap. Sebagai bentuk perlawanan terhadap martabat tentara kolonial, ia memerintahkan para pria Inggris tersebut untuk mengenakan pakaian wanita India dan menari di hadapan istana Muslim India untuk menghibur para petinggi kesultanan.
Langkah ini dilakukan bukan tanpa alasan. Bagi Tipu Sultan, hal tersebut merupakan simbolisasi untuk mematahkan semangat juang musuh dan menunjukkan bahwa kekuatan Inggris yang selama ini dianggap tak terkalahkan bisa dipermalukan di tanah India.
Selain kisah-kisah mengenai tawanan perang, Nawab Fateh Ali Khan atau Tipu Sultan juga dikenal sebagai "Macan Mysore" karena penggunaan teknologi militer yang sangat maju pada masanya. Ia adalah pionir dalam penggunaan roket besi (Mysorean rockets) yang sangat mengejutkan tentara Inggris di medan laga.
Kemenangan dalam periode 1780-1784 tersebut memaksa pihak Inggris untuk menandatangani Perjanjian Mangalore, sebuah momen langka di mana pihak Inggris harus memohon perdamaian kepada penguasa lokal India. Hingga hari ini, sosoknya tetap menjadi simbol keberanian dan kecerdikan dalam menghadapi hegemoni kekuasaan asing. (*)
Editor : Indra Zakaria