Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Menjaga Hejaz di Pesisir Afrika: Kisah Suku Rashaida, Pengembara Gurun yang Menolak Luntur

Redaksi Prokal • 2026-03-19 11:30:00

Wanita suku Rashaida
Wanita suku Rashaida

 

KASSALA – Di antara hamparan pasir yang menghubungkan Eritrea dan Sudan, terdapat sekelompok masyarakat yang seolah membawa potongan sejarah dari Jazirah Arab ke tanah Afrika. Mereka adalah suku Rashaida, pengembara Badui yang tetap teguh memegang akar budaya mereka meski telah bermigrasi melintasi Laut Merah lebih dari satu abad yang lalu.

Berasal dari wilayah Hejaz di Arab Saudi, suku Rashaida memutuskan untuk berpindah ke pesisir Eritrea dan Sudan pada abad ke-19. Namun, berbeda dengan banyak kelompok migran lainnya, Rashaida dikenal sebagai suku yang sangat tertutup dan gigih menolak asimilasi budaya dengan suku-suku tetangga di Afrika Timur.

Hingga hari ini, suku Rashaida tetap menggunakan dialek bahasa Arab asli mereka yang khas, sebuah identitas linguistik yang menjadi benteng pertahanan budaya mereka. Ikatan kesukuan yang sangat ketat menjadi hukum tak tertulis yang menjaga kemurnian tradisi mereka selama ratusan tahun di perantauan.

Keunikan visual suku ini pun sangat mencolok, terutama melalui kaum perempuannya. Suku Rashaida mendunia berkat kerajinan tangan mereka yang luar biasa: masker cadar yang dihias dengan manik-manik perak rumit yang dikenal sebagai "burqa". Cadar ini bukan sekadar penutup wajah, melainkan karya seni yang dipadukan dengan gaun tradisional berwarna cerah, menciptakan kontras yang indah dengan lanskap gurun yang gersang.

Secara ekonomi, suku Rashaida bukanlah sekadar pengembara biasa. Mereka memegang peranan penting dalam perdagangan lintas batas di Timur Tengah melalui keahlian utama mereka: pembiakan unta kualitas tinggi.

Unta-unta hasil biakan suku Rashaida sangat dicari di pasar-pasar ternak besar, terutama di Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya. Keahlian ini tidak hanya menjadi tulang punggung ekonomi mereka, tetapi juga simbol status dan kemakmuran yang memungkinkan mereka mempertahankan gaya hidup nomaden di tengah arus modernisasi.

Meskipun dunia di sekitar mereka terus berubah dengan cepat, suku Rashaida tetap menjadi bukti hidup bahwa jarak geografis tidak selalu berarti putusnya hubungan dengan tanah leluhur. Di pesisir Afrika Timur, mereka terus menggembalakan ternak dan merajut manik-manik perak, memastikan bahwa warisan Hejaz tetap hidup dalam setiap langkah pengembaraan mereka di gurun Afrika.

Bagi para antropolog, Rashaida adalah fenomena unik—sebuah "kapsul waktu" budaya yang berhasil menyeimbangkan antara mobilitas ekonomi modern dan kesetiaan mutlak pada tradisi kuno.(*)

Editor : Indra Zakaria