Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Fatherless: Krisis Sosial Senyap yang Merenggut Masa Depan Anak

Redaksi Prokal • Sabtu, 23 Mei 2026 | 12:45 WIB
Ilustrasi fatherless
Ilustrasi fatherless

Oleh: Dr. Ihsan Mz, M.Psi

Dosen Prodi BKI UIN Palangka Raya

PROKAL.CO- Fenomena fatherless, atau kondisi di mana seorang anak tumbuh tanpa kehadiran fisik maupun psikologis dari sosok ayah, kini bukan lagi sekadar urusan domestik keluarga yang biasa. Kondisi ini telah menjelma menjadi sebuah krisis sosial senyap yang meninggalkan lubang emosional besar, serta memicu berbagai perilaku destruktif pada anak demi mencari validasi yang hilang.

Dosen Prodi Bimbingan Konseling Islam (BKI) UIN Palangka Raya, Dr. Ihsan Mz, M.Psi, mengungkapkan bahwa secara psikologis, ketiadaan figur ayah menciptakan sebuah kondisi yang dikenal sebagai father hunger. Kondisi ini merupakan rasa lapar emosional akan kasih sayang, perlindungan, dan pengakuan. Pada anak perempuan, kekosongan ini kerap termanifestasi dalam pencarian validasi yang keliru dari lawan jenis, membuat mereka rentan terhadap eksploitasi, terjebak hubungan toksik, hingga keliru mengartikan perhatian instan sebagai kasih sayang sejati.

Dampak yang tidak kalah mengkhawatirkan juga menimpa anak laki-laki. Sebagai cetak biru (blueprint) pertama dalam memahami maskulinitas, mengelola emosi, dan memikul tanggung jawab, absennya seorang ayah membuat anak laki-laki kehilangan kompas moral. Akibatnya, mereka rentan mencari kompensasi di luar rumah melalui kelompok sebaya yang destruktif, mengekspresikan kerapuhan lewat tindakan agresif seperti tawuran, hingga terjerumus ke dalam penyalahgunaan zat terlarang demi pembuktian identitas diri.

Krisis ini diperparah oleh stigma sosial dan kurangnya sistem pendukung yang peka terhadap kesehatan mental anak korban perceraian atau penelantaran. Ketika lingkungan justru menghakimi perilaku menyimpang mereka tanpa memahami akar traumanya, anak-anak ini akan semakin terdorong ke dalam fase apatis ekstrem karena merasa ditinggalkan oleh dunia.

Realitas ekstrem dari dampak fatherless ini tergambar nyata dalam kisah seorang mahasiswi bernama samaran Bunga. Perceraian orang tua di masa Sekolah Dasar merampas benteng perlindungan utamanya, hingga ia menjadi korban pelecehan oleh ayah tiri dan pamannya sendiri. Trauma beruntun tersebut memicu gangguan bipolar, menyeretnya ke fase apatis, dan akhirnya menjerumuskannya ke dalam dunia pekerja seks komersial (PSK) demi bertahan hidup, yang kini mengharuskannya bergelut dengan risiko penyakit menular seksual serta pengobatan psikiatris rutin.

Kisah pilu Bunga menjadi alarm keras yang selaras dengan studi ilmiah, di mana anak perempuan tanpa sosok ayah memiliki risiko jauh lebih tinggi terjebak dalam aktivitas seksual dini. Kehilangan figur ayah memicu kekosongan identitas, rendahnya harga diri (self-esteem), dan hilangnya kontrol moral karena fungsi ayah sebagai penegak disiplin telah lumpuh. Berdasarkan Teori Kontrol Sosial Travis Hirschi, melemahnya ikatan emosional dengan orang tua secara signifikan menurunkan kepatuhan anak terhadap aturan sosial, sehingga mereka memandang perilaku menyimpang sebagai hal yang wajar.

Rendahnya harga diri ini membuat anak laki-laki berisiko dua kali lipat lebih besar terlibat dalam tindakan kriminalitas remaja, judi online, hingga jeratan narkotika sebagai mekanisme pertahanan diri yang keliru untuk mematikan rasa sakit. Sementara bagi anak perempuan, kehancuran harga diri karena merasa "tidak diinginkan" oleh cinta pertama mereka—yaitu sang ayah—sering kali membawa mereka pada keputusan nekat untuk mengomodifikasi diri sendiri karena merasa tidak ada lagi masa depan yang layak dipertahankan.

Untuk menyelamatkan generasi yang kehilangan arah ini, diperlukan solusi multidimensi yang konkret untuk memutus mata rantai trauma. Langkah pertama yang mendesak adalah menyediakan akses intervensi psiko-sosial yang terjangkau, seperti layanan terapi mental gratis di Puskesmas melalui pendekatan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) guna menyembuhkan luka masa kecil (inner child) dan membangun kembali harga diri yang hancur.

Langkah berikutnya adalah fokus pada pembentukan sistem pendukung melalui figur pengganti (surrogate father). Kehadiran keluarga besar seperti paman, kakek, atau mentor komunitas sangat krusial untuk mengisi kekosongan emosional, memberikan contoh maskulinitas yang sehat bagi anak laki-laki, serta menjadi standar pelindung bagi anak perempuan agar tidak mencari validasi dari lelaki yang salah.

Sebagai upaya preventif jangka panjang, edukasi pranikah dan komitmen co-parenting wajib direformasi secara ketat oleh pemerintah dan lembaga agama menjadi kelas kesiapan mental, bukan sekadar formalitas administratif. Calon orang tua harus paham bahwa ayah adalah pilar pelindung psikologis anak, dan bahkan dalam situasi perceraian sekalipun, pengasuhan bersama yang damai harus tetap dilakukan demi menjamin hak kasih sayang anak. Pada akhirnya, menyelamatkan anak-anak fatherless adalah tanggung jawab moral bersama demi menyediakan ruang aman dan mencegah trauma ini diwariskan ke generasi berikutnya.

Editor : Indra Zakaria
#fatherless #anak