PROKAL.CO- Sebuah utas menyentuh hati sedang viral dan menjadi perbincangan hangat di media sosial, memantik kesadaran publik tentang pentingnya kesehatan mental pria dewasa dan dampaknya terhadap pola asuh anak. Kisah ini bermula dari sebuah pesan WhatsApp singkat di pukul 11 malam dari seorang pria kepada sahabatnya.
Dalam pesan tersebut, sang pria mengaku tiba-tiba menangis di kamar mandi setelah anaknya tertidur. Padahal, hidupnya terlihat sempurna dari luar: anak-anaknya sehat, istrinya baik, dan kariernya pun mapan tanpa ada masalah spesifik.
Melalui percakapan mendalam yang emosional, sang sahabat mencoba menelusuri akar masalah dengan menanyakan satu hal yang tidak biasa: bagaimana pola asuh orang tuanya sewaktu kecil? Dari sana, sebuah tabir trauma masa lalu yang tak disadari akhirnya terungkap.
Pria tersebut menceritakan bahwa orang tuanya dulu sangat keras. Meski tidak pernah bermain fisik, ia tumbuh dalam lingkungan yang minim kehangatan emosional. Tidak pernah ada waktu untuk didengar, tidak ada pelukan hangat, dan tidak pernah ada ucapan bangga. Semua bentuk kasih sayang diukur dan dikomunikasikan lewat pemenuhan materi atau uang.
Fenomena ini rupanya bukan sekadar masalah "kurang perhatian" biasa. Riset dari Harvard Center on the Developing Child menunjukkan bahwa anak yang tumbuh tanpa kehangatan emosional dari orang tua akan membawa dampak psikologis tersebut hingga dewasa. Secara neurologis, struktur dan cara kerja otak mereka berbeda dalam merespons stres serta saat mencoba membangun hubungan dekat dengan orang lain.
Hal inilah yang menjawab mengapa pria tersebut kerap merasa asing dengan dirinya sendiri. Ia menyadari dirinya menjadi sangat sensitif dan gampang marah kepada anaknya untuk urusan sepele, merasa tidak nyaman jika anaknya menangis lama, hingga kesulitan setengah mati hanya untuk mengucapkan kalimat "aku sayang kamu" kepada istrinya sendiri.
Pakar spesialis trauma asal Kanada, Dr. Gabor Maté, pernah menyatakan bahwa manusia terluka bukan karena mereka lemah. Manusia terluka karena saat kecil mereka membutuhkan ruang emosional yang lebih besar daripada apa yang mampu mereka terima.
"Kita tidak terluka karena kita lemah. Kita terluka karena kita kecil dan kita butuh lebih dari yang kita terima," — Dr. Gabor Maté.
Luka yang Tak Terlihat dan Pola yang Berpindah
Bahayanya, jenis luka pengabaian emosional (emotional neglect) ini sangat sulit dikenali karena tidak meninggalkan bekas fisik. Sejak kecil, anak-anak dengan pola asuh seperti ini didoktrin untuk tidak cengeng, tidak manja, dan tidak melibatkan perasaan. Akibatnya, emosi yang tidak pernah diproses itu tidak benar-benar hilang, melainkan beralih rupa menjadi temperamen yang meledak-ledak, sikap menjauh dari pasangan, hingga cara mendidik anak yang kaku.
Saat ditanya kapan terakhir kali ia menceritakan perasaannya—bukan masalah atau solusi, melainkan murni perasaan—kepada sang istri, pria tersebut terdiam lama dan menjawab tidak pernah. Bagi mereka yang tumbuh dalam lingkungan gersang emosi, mengekspresikan perasaan sering kali disalahartikan sebagai bentuk keluhan yang memalukan.
Sebagai langkah awal pemulihan, sang sahabat menyarankannya untuk menuliskan satu pertanyaan sederhana di fitur catatan ponselnya: "Waktu kecil, apa yang paling aku inginkan tapi gak pernah aku dapatkan dari orang tua?"
Butuh waktu satu minggu penuh bagi pria tersebut untuk bisa merangkai jawabannya. Namun, begitu tulisan itu selesai, ia merasa seperti berhasil membuka pintu emosi yang selama 30 tahun terakhir dikunci rapat-rapat dari dalam.
Kisah viral ini membawa refleksi mendalam bagi banyak orang, khususnya para ayah di era modern. Manusia memang tidak bisa memilih bagaimana mereka dibesarkan di masa lalu. Namun, setiap orang dewasa memiliki pilihan penuh untuk memutus rantai trauma tersebut agar tidak diteruskan ke generasi berikutnya.
Jika seorang pria atau ayah kerap menangis tanpa alasan yang jelas, mudah tersulut emosi oleh hal kecil, atau kaku dalam menunjukkan kasih sayang, bisa jadi ada sosok anak kecil di dalam dirinya yang dulu terluka, tidak pernah didengar, dan masih setia menunggu untuk disembuhkan hingga hari ini. (*)
Editor : Indra Zakaria