PROKAL.CO- Sebuah pertanyaan besar sering kali menghantui pemikiran anak-anak yang tumbuh dalam keluarga broken home akibat ketidaksetiaan: apakah aku kelak akan menjadi peselingkuh seperti orang tuaku? Ketakutan ini bukan tanpa alasan, sebab dalam dinamika psikologi keluarga, bayang-bayang trauma masa kecil sering kali membayangi bagaimana seseorang membangun hubungan asmara saat mereka dewasa.
Kabar buruknya, sejumlah riset psikologi memang menunjukkan adanya kecenderungan risiko yang lebih tinggi. Namun, kabar baiknya, hal tersebut sama sekali bukan sebuah kepastian atau takdir genetika yang mutlak.
Mengapa Pola Selingkuh Bisa Berulang?
Para psikolog menjelaskan bahwa penularan pola perilaku ini sebagian besar dipengaruhi oleh aspek psikologis dan lingkungan selama masa pertumbuhan anak. Ada tiga faktor utama yang biasanya melatarbelakangi mengapa seorang anak bisa mengulangi kesalahan orang tuanya:
Normalisasi Perilaku (Social Learning): Anak-anak adalah peniru yang ulung. Ketika mereka melihat salah satu orang tua berselingkuh, alam bawah sadar mereka bisa menangkap pesan keliru bahwa komitmen adalah sesuatu yang fleksibel, dan ketidaksetiaan adalah hal "lumrah" atau jalan pintas yang wajar diambil ketika sebuah hubungan sedang didera masalah.
Krisis Kepercayaan (Attachment Issue): Perselingkuhan orang tua berisiko merusak rasa aman anak secara permanen. Saat dewasa, mereka rentan tumbuh menjadi pribadi dengan gaya kelekatan yang cemas (anxious attachment) atau justru menghindar (avoidant attachment). Kedua kondisi ini membuat seseorang sulit memercayai pasangan secara penuh, yang ironisnya sering kali memicu mereka untuk berselingkuh terlebih dahulu sebagai bentuk pertahanan diri sebelum "diselingkuhi".
Trauma yang Belum Selesai: Rasa sakit, amarah, dan kekecewaan melihat keluarga hancur yang terus dipendam tanpa pernah disembuhkan, secara psikologis dapat beralih rupa menjadi perilaku destruktif saat mereka sendiri menjalin hubungan pernikahan.
Memutus Rantai Trauma (The Curse Breaker)
Meskipun statistik menunjukkan adanya peningkatan risiko, para ahli menegaskan bahwa manusia dibekali dengan kesadaran penuh (agency) untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Riwayat kelam orang tua tidak otomatis mendikte masa depan anak.
Bahkan, dalam banyak kasus, anak yang menjadi korban perselingkuhan orang tua justru tumbuh menjadi pasangan yang sangat setia dan protektif terhadap komitmen. Pengalaman pahit merasakan hancurnya hati seorang anak akibat kebohongan membuat mereka bersumpah untuk tidak akan pernah menimpakan penderitaan dan trauma yang sama kepada anak-cucu mereka kelak.
Pada akhirnya, kunci untuk memutus rantai pengkhianatan ini berada pada keberanian untuk berdamai dengan masa lalu. Dengan menyadari dan mengakui trauma masa kecil, memisahkan identitas diri dari kesalahan orang tua, serta belajar membangun komunikasi yang sehat bersama pasangan, seseorang bisa dengan tegas berkata: "Orang tuaku adalah masa laluku, tetapi kesetiaan adalah keputusan dan masa depanku." (*)
Editor : Indra Zakaria