PROKAL.CO- Eksistensi kucing sebagai "penguasa" hati masyarakat Indonesia tampaknya makin sulit tergusur. Berdasarkan hasil survei terbaru dari lembaga riset Jakpat terhadap 1.254 responden, mamalia berbulu ini sukses mengukuhkan posisinya sebagai hewan peliharaan paling populer di tanah air. Kucing tidak hanya menjadi binatang yang paling banyak dipelihara saat ini, tetapi juga menempati urutan teratas sebagai hewan yang paling diidam-idamkan untuk diadopsi di masa depan, mengalahkan pamor jenis peliharaan lainnya seperti ikan, burung, hingga anjing.
Dalam rincian data yang dirilis, sebanyak 75 persen responden yang memiliki hewan di rumahnya kompak menjawab bahwa mereka memelihara kucing. Kedigdayaan anabul (anak bulu) ini kian terbukti setelah 58 persen responden juga menempatkannya sebagai hewan impian yang paling ingin mereka rawat suatu hari nanti. Di posisi berikutnya, tren memelihara ikan dan burung membuntuti sebagai hobi yang tidak kalah populer. Sementara untuk anjing, hewan setia ini tercatat sedikit lebih banyak dipilih oleh kaum perempuan, meskipun selisih persentasenya terhitung sangat tipis jika dibandingkan dengan pemilih laki-laki.
Fenomena ini sekaligus menandai adanya pergeseran fungsi hewan peliharaan di era modern. Hewan tidak lagi sekadar dianggap sebagai alat penjaga rumah atau penyalur hobi musiman, melainkan sudah bertransformasi menjadi bagian dari keluarga dan penjaga kesehatan mental pemiliknya. Hasil survei mendapati bahwa 63 persen responden mengaku kehadiran hewan peliharaan di rumah sangat efektif membantu mengurangi stres dan memperbaiki suasana hati (mood) setelah seharian beraktivitas.
Tren menjadikan binatang sebagai obat antipenat ini rupanya sangat kental terasa di kalangan generasi muda yang dinamis. Research Lead Jakpat, Septiana Widi Sugiastuti, membeberkan bahwa ada kecenderungan kuat dari para remaja dan dewasa muda saat ini untuk mencari teman hidup dalam bentuk hewan domestik. “Kini banyak anak muda, khususnya Gen Z, menjadikan hewan peliharaan sebagai pendamping,” kata Septiana saat memaparkan hasil temuan surveinya. Data tersebut diperkuat dengan fakta bahwa 67 persen generasi Z secara sadar memutuskan memelihara hewan murni sebagai teman setia (companion) untuk mengisi hari-hari mereka di rumah.
Meski demikian, kasih sayang dan komitmen memelihara anabul ini tentu menuntut konsekuensi finansial yang tidak sedikit. Dari sisi isi dompet, mayoritas pemilik hewan di Indonesia sebenarnya masih menghabiskan anggaran yang cukup hemat, yakni di bawah Rp300 ribu per bulan untuk urusan isi piring makan dan minum peliharaan mereka. Namun, pengecualian besar terjadi pada para pencinta kucing dan anjing, yang tercatat rela merogoh kocek jauh lebih dalam demi kenyamanan sang hewan kesayangan.
Sekitar 15 hingga 27 persen pemilik kucing dan anjing mengaku rutin mengeluarkan anggaran operasional berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp750 ribu setiap bulannya untuk keperluan pakan berkualitas hingga perawatan bulu. Angka ini terhitung sangat kontras jika dibandingkan dengan para penghobi ikan hias maupun burung berkicau, di mana biaya perawatan bulanan mereka cenderung sangat ekonomis dan berada di bawah kisaran Rp100 ribu saja.(*)