PROKAL.CO- Bagi sebagian besar orang, tidur adalah rutinitas biologis biasa untuk melepas lelah setelah seharian beraktivitas. Namun, dalam dunia psikologi dan kesehatan mental, durasi tidur yang melonjak drastis atau kebiasaan tidur berlebihan (hypersomnia) kerap kali bukan petanda kelelahan fisik, melainkan sebuah sinyal darurat bahwa jiwa seseorang sedang tidak baik-baik saja. Ungkapan "If a person sleeps a lot, they are unhappy" menjadi pemantik diskusi hangat mengenai bagaimana tubuh manusia merespons kesedihan dan stres kronis melalui mekanisme pertahanan yang sunyi.
Para ahli menjelaskan bahwa bagi individu yang sedang mengalami masa-masa sulit, depresi, atau patah hati, realitas kehidupan nyata bisa terasa teramat runtuh dan melelahkan untuk dihadapi. Dalam kondisi ini, tidur beralih fungsi menjadi sebuah ruang pelarian emosional (escapism). Saat terlelap, pikiran bawah sadar beristirahat sejenak dari kecemasan, trauma, dan memori buruk. Kasur dan selimut menjelma menjadi tempat persembunyian yang paling aman, nyaman, dan instan dari tuntutan dunia luar yang menghimpit.
Secara medis, keinginan untuk terus memejamkan mata dan enggan beranjak dari tempat tidur merupakan salah satu indikator klasik dari gejala depresi terselubung. Tekanan mental yang berat secara konstan memicu produksi hormon kortisol secara berlebihan, yang lambat laun membuat sistem saraf mengalami burnout atau kelelahan emosional. Akibat kelelahan mental ini, tubuh mengirimkan sinyal kantuk yang sangat kuat sebagai bentuk proteksi diri otomatis agar otak berhenti berpikir keras. Selain itu, hilangnya motivasi akibat terjebak dalam situasi hidup yang hambar—seperti pekerjaan yang dibenci atau hubungan yang toksik—membuat seseorang kehilangan alasan kuat untuk sekadar bangun menyambut pagi.
Meskipun tidak semua orang yang sering tidur pasti sedang menderita, perubahan pola tidur yang terjadi secara mendadak dan berlangsung berminggu-minggu patut diwaspadai. Jika kebiasaan ini mulai disertai dengan penarikan diri dari lingkungan sosial, itu adalah alarm tersembunyi bahwa tubuh sedang mengekspresikan kesedihan yang tak mampu diucapkan oleh kata-kata. Menyadari fenomena ini penting agar kita tidak lagi menghakimi mereka yang hobi tidur sebagai sosok yang malas, melainkan mulai merangkul dan memeriksa apakah ada luka batin yang sedang butuh disembuhkan. (*)
Editor : Indra Zakaria