Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Topeng si Pembual: Mengapa Orang Insecure Suka Berbohong?

Indra Zakaria • Selasa, 23 Juni 2026 | 12:00 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

PROKAL.CO- Ungkapan "If a person lies a lot, they might be insecure" (Jika seseorang sering berbohong, kemungkinan besar mereka merasa tidak aman atau tidak percaya diri) adalah sebuah fakta psikologis tentang akar penyebab di balik kebiasaan berbohong yang kompulsif.

Inti dari kutipan ini menjelaskan bahwa kebohongan kronis jarang sekali dilakukan karena alasan jahat semata. Sering kali, kebohongan adalah mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) yang rapuh untuk menutupi rasa rendah diri, ketakutan, dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri.

Mengapa Rasa Insecure Memicu Seseorang untuk Berbohong?

Dalam psikologi, ada korelasi yang sangat kuat antara rasa tidak aman (insecurity) dengan dorongan untuk memanipulasi kebenaran. Berikut adalah penjelasan mendalamnya:

Menciptakan Persona yang Lebih Hebat: Orang yang insecure merasa bahwa diri mereka yang asli—baik itu status sosial, pencapaian, penampilan, atau latar belakang—tidak cukup baik untuk diterima oleh lingkungan. Akibatnya, mereka mengarang cerita atau melebih-lebihkan fakta agar terlihat lebih sukses, kaya, atau pintar demi mendapatkan pengakuan dan validasi dari orang lain.

Takut akan Penolakan (Fear of Rejection): Mereka memiliki ketakutan yang mendalam bahwa jika orang lain mengetahui kebenaran tentang kekurangan atau kegagalan mereka, mereka akan ditinggalkan, ditertawakan, atau tidak dicintai. Berbohong menjadi benteng darurat untuk melindungi ego mereka yang rapuh.

Menghindari Konflik dan Konsekuensi: Sering kali, rasa tidak aman membuat seseorang merasa tidak siap mental untuk menghadapi kritik atau tanggung jawab atas kesalahan mereka. Mereka memilih berbohong untuk menyelamatkan diri dari situasi tidak nyaman atau konfrontasi yang mengancam rasa aman mereka.

Kebohongan sebagai "Mati Rasa" SosialBagi orang yang sangat insecure, kebohongan yang mereka ciptakan lama-kelamaan bisa menjebak diri mereka sendiri. Mereka mulai memercayai ilusi yang mereka buat karena realitas aslinya terlalu menyakitkan untuk diterima. Dalam ranah psikologi, ini bisa berkembang menjadi mythomania atau pathological lying, di mana berbohong sudah menjadi refleks otomatis untuk mempertahankan harga diri yang runtuh.

Intinya, berbohong secara terus-menerus bukanlah tanda kekuatan atau kecerdikan, melainkan topeng dari jiwa yang sedang ketakutan.

Saat seseorang sibuk merangkai cerita palsu tentang kehebatan dirinya atau menyembunyikan kebenaran kecil sekalipun, mereka sebenarnya sedang berteriak bahwa mereka tidak nyaman menjadi diri mereka sendiri. Di balik setiap kebohongan yang rumit, biasanya ada anak kecil yang ketakutan dan merasa tidak cukup berharga di mata dunia. (*)

Editor : Indra Zakaria
#bohong #psikologi