PROKAL.CO- Ungkapan "If a person always tries to help and support others, it's likely that they themselves need help and support" (Jika seseorang selalu berusaha membantu dan mendukung orang lain, besar kemungkinan mereka sendirilah yang sebenarnya membutuhkan bantuan dan dukungan) adalah sebuah realitas psikologis yang menyentuh tentang fenomena "penolong yang terluka".
Inti dari kutipan ini adalah bahwa kebaikan yang agresif atau keinginan kompulsif untuk selalu menyelamatkan orang lain sering kali merupakan proyeksi dari kebutuhan emosional diri sendiri yang tidak terpenuhi.
Mengapa Para "Penolong" Ini Sebenarnya Butuh Dibantu?
Dalam psikologi, ada beberapa alasan mendalam mengapa orang yang paling suportif sering kali adalah orang yang paling rapuh di dalamnya:
Fenomena The Wounded Healer (Penyembuh yang Terluka): Seseorang yang pernah mengalami rasa sakit, penolakan, atau pengabaian yang hebat di masa lalu tahu persis seberapa menderitanya berada di posisi itu. Karena tidak ingin orang lain merasakan kepedihan yang sama, mereka mendedikasikan hidupnya untuk menjadi "penyelamat" bagi orang sekitarnya.
Mencari Validasi dan Rasa Berharga (People-Pleasing): Bagi sebagian orang, membantu orang lain adalah satu-satunya cara untuk merasa diri mereka berharga. Mereka merasa baru akan dicintai atau diterima jika mereka memilik "kegunaan" bagi orang lain. Akibatnya, mereka mengabaikan kesehatan mental sendiri demi menjaga kebahagiaan orang luar.
Mekanisme Pengalihan (Deflection): Jauh lebih mudah untuk memikirkan dan membereskan masalah orang lain daripada duduk diam dan menghadapi kekacauan di dalam hidup sendiri. Menjadi suportif bagi orang lain bertindak sebagai pengalih perhatian agar mereka tidak perlu melihat luka batin mereka sendiri yang sedang menganga.
Sisi Gelap: Compassion Fatigue (Kelelahan Empati)
Orang yang selalu menjadi "tempat bersandar" biasanya dipandang sebagai sosok yang kuat, mandiri, dan tidak punya masalah. Akibatnya, jarang ada orang yang bertanya, "Bagaimana kabarmu hari ini?" atau "Apakah kamu butuh bantuan?" kepada mereka. Lama-kelamaan, mereka mengalami burnout emosional atau kelelahan empati karena energi mereka habis terkuras untuk memikul beban orang lain, sementara cangkir emosional mereka sendiri kosong kering tanpa ada yang mengisi kembali.
Kebaikan dan sifat suka menolong adalah hal yang mulia, namun jika dilakukan secara berlebihan hingga mengorbankan diri sendiri, itu adalah tanda bahaya.
Tawa yang paling ceria, pundak yang paling siap bersandar, dan tangan yang paling rajin mengulur, terkadang menjadi milik jiwa yang diam-diam sedang berteriak meminta pertolongan. Jangan abai pada orang-orang "kuat" di sekitarmu; sering kali, merekalah yang paling membutuhkan pelukan hangat dan kesediaan kita untuk mendengarkan. (*)
Editor : Indra Zakaria