Tak Bisa Memaafkan tapi Tetap Rindu: Mengapa Otak Sulit Lepas dari Sosok yang Pernah Menyakiti?

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 12:23 WIB
Ilustrasi pria dan wanita.
Ilustrasi pria dan wanita.

 
PROKAL.CO– Pernahkah Anda bertanya-tasa mengapa rasa penasaran atau kerinduan yang tulus kerap kali masih tersisa di dasar hati terhadap orang yang pernah sangat menyakiti dan berbuat salah di masa lalu? Fenomena emosional yang terkesan kontradiktif ini ternyata bukan sekadar urusan "belum move on", melainkan hasil kerja mekanisme psikologis dan reaksi biologis yang kompleks.

Para pakar psikologi mengungkapkan bahwa ada alasan mendalam mengapa seseorang begitu sulit memutus ikatan emosional dengan masa lalunya yang toksik.

Rasa Aman dalam 'Rasa Sakit' yang Dikenal

Menurut penjelasan psikolog, seseorang sering kali merasa lebih aman secara mental untuk menjaga ikatan beracun (toxic bond) tetap hidup di dalam pikirannya. Otak manusia cenderung memilih kenyamanan dari hal-hal yang sudah dikenal—meskipun itu menyakitkan—daripada harus menghadapi ruang hampa akibat ketiadaan ikatan tersebut.

Proses untuk benar-benar memutus ikatan terasa sangat menakutkan, layaknya membuka diri dan melangkah ke dalam lautan kesepian yang tak diketahui. Pikiran pun akhirnya secara tidak sadar memilih untuk tetap memelihara kenangan sebagai bentuk perlindungan diri dari ketakutan akan hal yang asing.

Jebakan Biokimiawi: Momen 'Candu' Otak

Selain aspek psikologis, hubungan yang diwarnai oleh siklus-siklus intens—seperti pertengkaran hebat yang disusul momen permintaan maaf dan rekonsiliasi yang mendalam—memicu respons kimiawi yang ekstrem di dalam otak.

Proses naik-turun ini memicu pelepasan hormon kortisol (hormon stres) dan dopamin (hormon kesenangan). Kombinasi dua zat ini mengikat individu secara emosional seolah-olah mengalami kecanduan zat kimiawi. Sensasi rindu yang dirasakan sesungguhnya bukanlah murni rasa cinta, melainkan reaksi tubuh yang mengalami kekurangan pasokan biokimiawi dari dinamika intens tersebut.

Dendam dan Penasaran: Cara Lain Memelihara Ikatan

Sering kali, rasa penasaran yang tertinggal bukan disebabkan oleh rasa cinta yang tersisa, melainkan keinginan untuk mendapatkan pembalasan emosional. Kita ingin tahu apakah derita, air mata, dan rasa sakit yang kita alami berbalik mengenai orang tersebut. Kita berharap mendengar bahwa mereka tidak bahagia setelah menyakiti kita.

Namun, para ahli dan pakar kehidupan mengingatkan: bahkan rasa marah dan benci sekalipun adalah bentuk dari memelihara ikatan tersebut. Selama kita masih penasaran dengan nasib orang yang telah kita tinggalkan, pikiran kita tetap terikat padanya.

Memutus Ikatan untuk Membuka Lembaran Baru

Satu-satunya jalan untuk menyembuhkan diri adalah dengan memutus ikatan itu secara total—baik secara fisik maupun emosional.

"Jangan pernah penasaran dengan orang yang sudah kamu tinggalkan. Berhentilah menoleh ke belakang, karena apa pun yang ditakdirkan untukmu tidak akan pernah menjadi milik orang lain. Pandanglah jalanmu ke depan dan melangkah maju. Meski kamu tidak melihat atau mendengarnya lagi, biarkan semesta dan hukum karma bekerja menjalankan tugasnya."

Memutus ikatan bukan berarti kalah, melainkan sebuah keberanian untuk menutup babak lama yang merusak, demi membuka halaman-halaman hidup yang jauh lebih indah di masa depan. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
dendam